The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 53



Alexa memapah Ethan berjalan dengan perlahan ketika dirasa orang-orang yang mengejar mereka kini telah menjauh masuk ke dalam hutan untuk mengejar Alex.


“Bertahanlah, Ethan, bantuan akan segera tiba,” ucapnya sambil terus berjalan dan sesekali ia melihat sekeliling dengan waspada.


“Tidak usah khawatir, aku masih kuat,” ujar pria tampan dengan lesung pipit itu sambil tersenyum walaupun di wajahnya terukir dengan jelas rasa sakit yang harus ia tahan setiap kali melangkah.


“Maafkan aku, semua ini karena aku.” Alexa berkata dengan penyelasan yang dalam karena membuat adik Kerelyn itu kini terluka parah di kakinya, “Seharusnya tadi aku tak melibatkanmu.”


“Hei! Jangan berpikiran seperti itu, apa kau pikir aku akan membiarkanmu terlibat dalam bahaya sendiri dan aku hanya menontonnya? Tidak, Lexa, aku tak akan membiarkanmu kembali dalam bahaya.” Alexa merasa terharu mendengar ucapan Ethan yang terlihat bersungguh-sungguh.


“Bagaimanapun juga aku minta maaf… aku berjanji, aku akan merawatmu sampai kau benar-benar sembuh,” ujar Alexa membuat Ethan tersenyum.


“Ingat itu! Kau harus menepati janjimu.”


“Tentu saja, aku akan menepati janjiku, tapi sekarang kita harus pergi dulu dari sini,” ucap Alexa sambil terus berjalan dengan waspada.


Entah sudah berapa jauh mereka berjalan tapi jalanan belum juga terlihat, dari kejauhan terdengar rentetan tembakan dan itu membuat jantung Alexa seolah copot mengingat Alex-lah yang menjadi sasaran dari peluru-peluru itu. Tapi bukan hanya gadis itu yang merasa khawatir, Ethan-pun merasakan hal yang sama. Beberapa kali ia melihat arah belakang, ia sangat menyesal dengan keadaannya sekarang ini. Seandainya ia tak terluka minimal mereka berdua bisa melawan para ******** itu, tapi kini hanya Alex yang melawan mereka semua dan dirinya seolah melarikan diri bersama Alexa.


“Dia akan baik-baik saja,” ucap Ethan kepada Alexa dan dirinya sendiri, membuat gadis itu menatapnya sesaat kemudian mengangguk.


“Iya, dia akan baik-baik saja… kalau mereka telah mendapatkannya, kita tak akan mungkin mendengar suara tembakan itu, benarkan?”


Ethan mengangguk, “Kau benar, itu tandanya mereka masih belum berhasil menangkapnya.”


Sedikit harapan kembali mengisi hati keduanya, Alex adalah salah seorang detektif terbaik yang dimiliki NYPD, jadi mereka yakin pria bermata biru itu bisa bertahan di sana.


“Bertahanlah, Alex, aku mohon bertahanlah,” Alexa tak henti-hentinya berdoa dalam hati, ia menatap Ethan yang kembali terlihat meringis kesakitan.


“Kita istirahat dulu sebentar,” ajak Alexa sambil memapah Ethan duduk bersandar di balik pohon, ia menatap sekeliling untuk memastikan keadaan di sekitar mereka aman.


Alexa duduk di samping Ethan sama lelahnya, napas mereka memburu, kerongkongan mereka serasa kering karena haus, yang bisa mereka lakukan saat ini adalah bernapas dengan benar mencoba mengisi paru-paru mereka dengan oksigen secukupnya dan mengistirahatkan kaki mereka sesaat. Alexa kembali tersadar ketika mengingat kaki pria disampingnya terluka cukup parah.


Ia memeriksa luka itu dan seketika meringis melihat darah yang kini telah membasahi syalnya dan mulai merembes membasahi kaki pria itu, tanpa banyak bicara Alexa membuka blusnya dan kini ia hanya mengenakan dalaman blus berupa kaos tanpa lengan berwarna hitam.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Ethan terlihat terkejut melihat apa yang dilakukan Alexa.


“Kita memerlukan sesuatu untuk menghentikan pendarahanmu,” jawab Alexa sambil membuka syal yang tadi digunakan Alex untuk menghentikan pendarahan Ethan.


Dan seketika darah langsung keluar dengan cukup deras ketika ikatan syal itu terbuka dan itu membuat Alexa sedikit panik, dengan masih menggukan syal tadi yang telah dilipat ia menekan luka itu hingga Ethan harus menggigit bibirnya menahan sakit.


“Tahan sebentar,” ucapnya sambil kembali mengikat luka itu menggunakan blus miliknya yang sebelumnya telah ia gulung-gulung memanjang, “Selesai!” lanjutnya setelah selesai mengikat luka Ethan dan berhasil membuat pendarahannya sedikit terhenti untuk sementara.


“Terimakasih,” ujar Ethan sambil berusaha bergerak walaupun masih harus menggertakan gigi menahan sakit, Alexa hanya mengangguk sebagai jawaban kemudian berdiri.


Mereka kembali melanjutkan berjalan berusaha mencapai jalan raya dimana suara sirine mobil polisi mulai terdengar cukup jelas. Menyadari hal itu membuat Alexa dan Ethan tersenyum dan membangkitkan tenaga mereka untuk berjalan lebih cepat, tapi langkah mereka terhenti ketika dari arah belakang terdengar suara kokangan senjata membuat keduanya berbalik melihat ke belakang. Dan seketika mereka terbelalak dengan jantung berdebar kencang ketika seseorang berdiri di sana sambil menodongkan senjata kepada mereka.


Tanpa dikomando Ethan langsung menarik Alexa ke belakang dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng.


“Turunkan senjatamu,” ujar Ethan berusaha bernegosiasi.


“Oh tidak! Bos kami memerintahkan untuk membunuh kalian semua.” Pria itu berkata dengan dingin tanpa ekspresi di wajahnya dan itu malah membuat ketakutan mereka berdua semakin menjadi.


Pria itu bersiap menembak mereka dengan senjata laras panjangnya, Alexa gemetar ketakutan ia semakin mengeratkan tubuhnya di belakang Ethan yang juga telihat sama takutnya dengan gadis bermata ember itu, tapi ia masih bersikap jantan dengan tetap menghalangi tubuh Alexa dari bidikan senjata.


Jari pria itu perlahan mulai menekan pelatuknya membuat mereka berdua memejamkan matnaya erat terlihat pasrah, dan….


Dor!


Mereka berhenti bernapas, jantung keduanya seolah berhenti berdetak, diam beberapa saat tak bergerak, perlahan mata mereka terbuka ketika menyadari kalau saat ini mereka masih berdiri dan bernapas seperti biasanya.


“Apa kalian tak apa-apa?”


Mereka menatap bingung pria di hadapan mereka yang tak lain dan tak bukan adalah Phillip, dan seketika Alexa langsung menangis karena bahagia, tubuhnya lunglai di atas tanah, begitu pula dengan Ethan yang terlihat bernapas dengan lega.


“Oh, Phill, kenapa kau sangat lama?” tanya Alexa di antara isak tangisnya membuat Phillip memeluknya erat layaknya seorang teman lama.


“Maafkan aku… apa kau terluka?” tanya Phillip sambil memeriksa keadaaan Alexa yang menggeleng menjawab pertanyaannya.


“Ethan… kakinya terluka parah.”


“Tidak usah khawatir, kami telah memanggil ambulans yang akan mengobatinya.”


Alexa kembali mengangguk sambil tersenyum lega, tapi tiba-tiba ia kembali terlihat cemas.


“Alex! Kau harus menolong Alex! Dia di sana, sendirian!”


“Baiklah, aku akan mencarinya… sekarang kau ikut bersama dengan mereka,” ucap Phillip sambil meminta salah satu rekannya yang berpakaian polisi lengkap untuk mengawal mereka, “Aku akan pergi mencari, Alex,” lanjutnya sambil bersiap-siap dengan senjatanya.


“Aku mohon, bawa kembali dia dengan selamat,” pinta Alexa dengan sungguh-sungguh.


“Tidak usah khawatir, bukankah dia zombie? Zombie sangat susah untuk dimusnahkan,” ucap Phillip sambil tersenyum sebelum ia pergi bersama rekan-rekannya yang lain menyusuri hutan untuk menyelamatkan Alex.


*****