
Alex mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan dan hampir saja menabrak sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan yang tak kalah cepatnya, ia memaki dan semakin menginjak gasnya dalam-dalam.
Ia begitu terkejut ketika mendapat telepon dari Simon yang mengatakan kalau Alexa kini berada di tangannya tentu saja ia tak percaya begitu saja, ia meminta beberapa rekannya untuk mengecek keberadaan Alexa di kantor tapi mereka mengatakan kalau gadis bermata amber itu tidak ada di kantor dan menyisakan para pengawal yang ditemukan tak sadarkan diri.
Ia kemudian meminta Gerard untuk mencari keberadaan Alexa dan dia semakin berang ketika sahabatnya itu mengatakan Alexa berada di jalan berlawanan dengan arah rumah mereka, itu cukup membuat Alex hampir kehilangan akalnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi ia berlari menuju mobil dan mengendarai mobinya seperti orang gila menuju alamat yang dikatakan Simon padanya tadi.
Ponselnya berbunyi dengan tergesa-gesa ia mengambil ponsel disaku celana tapi sial benda kecil itu malah jatuh ke bawah, tapi sebelumnya ia melihat nama Ethan di layar ponselnya jadi ia tak peduli dan menganggap kalau itu bukanlah hal yang penting. Ponselnya beberapa kali berbunyi tapi ia tak ingin menghentikan kendaraannya walau hanya sebentar saja atau mengambil resiko dengan merunduk untuk mengambil ponselnya karena itu hanya akan membuang waktunya menyelamatkan kekasihnya.
Alex menajamkan matanya dan mulai memelankan mobilnya ketika melihat sebuah mobil berhenti tak jauh dari beberapa orang pria dengan tubuh kekar yang tengah mengerumuni seorang perempuan yang terlihat tengah memberontak di depan sebuah mobil merah.
“Kely?” tanya Alex ketika mengenali perempuan yang kini tengah berontak karena beberapa orang memaksanya masuk ke dalam mobil hitam, Alex mengehentikan mobilnya berharap Alexa ada di sana.
“Hei! Lepaskan dia!” teriaknya sambil keluar dari mobil dengan pistol di tangannya membuat keempat orang itu menatap ke arahnya.
“Alex!” seru Kely sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman pria berkulit coklat yang daritadi berusaha menariknya, tapi pria itu kini membekapnya dari belakang dengan senjata ditodongkan tepat di pelipisnya.
“Diam di sana atau aku akan menghancurkan kepalanya,” ucap pria itu yang tak lain adalah Juan Valentino, kaki tangan Simon membuat Alex menghentikan langkahnya dengan masih mengokang senjata.
“Well-well, lihat siapa ini… sudah lama kita tak bertemu, John atau apa aku harus memanggilmu Detektif MacKena?”
Pria itu terlihat tersenyum mengejek melihat Alex hanya bisa diam menatapnya dengan mata tajam, tapi perlahan senyum miring terbit di bibir pria bermata biru itu.
“Kau masih saja bajingan seperti dulu yang selalu berembunyi di balik seorang perempuan lemah,” ucap Alex mengejek dengan santai berhasil membuat lawannya terlihat emosi.
“Sebaiknya kau diam atau aku benar-benar akan menghancurkan kepalanya dan setelah itu aku akan menghancurkan kepala kekasihmu.”
Kali ini Alex yang menggeram marah, ia akan dengan senang hati untuk menembak Juan kalau saja ia tak melihat pria itu semakin menekan pelipis Kely dengan senjata membuatnya harus kembali menahan emosinya.
“Mereka membawa Alexa pergi!” seru Kely dengan suara gemetar ketakutan membuat Alex kembali menantap pria di hadapanya dengan tajam sambil menggeretakkan rahang.
“Dimana dia?!” geram Alex dengan penuh amarah, tangannya semakin kencang mencengkram senjata, rahangnya mengeras, tubuhnya menegang bersiap untuk bertarung. Para pria itu hanya tersenyum mengejek menatapnya.
“Kalau kau ingin kekasihmu itu selamat sebaiknya kau ikut dengan kami sekarang juga atau kau tidak akan tahu apa yang terjadi dengannya.”
Alex terdiam dengan mata tajam menusuk tapi lagi-lagi tak bisa apa-apa atau sesuatu yang buruk akan terjada pada Alexa.
“Baiklah, tapi lepaskan dulu dia,” ujar Alex berusaha bernegosiasi.
“Apa kau pikir kami sangat bodoh?” tanya Juan sambil menyerahkan Kely kepada salah satu anak buahnya yang kini memegang Kely yang kembali terlihat memberontak.
“Baiklah, tapi dia akan pergi denganku,” ujar Alex setalah terdiam beberapa saat sambil menunjuk Kely.
Juan terdiam tanpa melepaskan pandangannya dari Alex sebelum akhirnya ia mengangguk setuju.
“Baiklah, tapi sekarang lemparkan dulu senjatamu” jawabnya memberi perintah, Alex terdiam beberapa saat melihat situasi saat ini, tapi kali ini kondisi tidak berpihak padanya ia melihat Kely ketakutan dengan senjata di kepalanya, dan akhirnya ia menyerah, ia mangangkat kedua tanganya lalu melemparkan senjata miliknya ke arah Juan yang langsung mengambilnya dengan senyum mengejek.
“Bagus! Sekarang, ayo kita pergi!” ujar Juan sambil menarik Kely dan menyeretnya masuk ke dalam mobil Alex.
Melihat itu Alex hanya bisa menahan mengepalkan tangan dan mengikuti mereka masuk ke dalam mobilnya tanpa banyak berkomentar. Setelah berada di balik kemudinya, ia melihat ponselnya yang terjatuh dan mengambilnya. Ia bisa melihat banyak panggilan masuk, dari Ethan, Gerard, Daniel dan Phillip, tapi yang menarik perhatiannya adalah sebuah pemberitahuan tentang pesan yang masuk dari Daniel, dan seketika matanya terbelalak ketika ia membaca isi pesan singkat itu.
“Kely adalah sang Ratu, Alexa sekarang baik-baik saja.”
Seketika adrenalinnya terpacu hebat, dengan nyalang ia menatap ke arah belakang dimana Kely dan Juan duduk, tapi terlambat ketika senjata milik pria dengan rahang ditumbuhi bulu lebat itu kini berada tepat di belakang kepalanya dengan posisi siap ditembakan.
“Sebaiknya kau tidak berbuat macam-macam detektif, atau kepalamu akan hancur sekarang juga.”
Alex mencengkram kemudinya dengan kencang untuk menyalurkan emosinya, matanya nyalang menatap Kely dari kaca spion.
“Sudah ku kira, dia terlalu mudah untuk kita tipu,” ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Kau benar,” timpal Juan sambil tertawa mengejek, “Nyalakan mobilmu, kita pergi sekarang!” lanjut Juan sambil mendorong kepala Alex menggunakan senjata.
Mau tidak mau Alex mengikuti perintah pria itu, mobilnya mulai melaju diikuti oleh mobil hitam yang ditumpangi beberapa anak buah Simon lainnya, mereka semakin naik mendaki melewati jalan yang berliku-liku sampai akhirnya dari kejauhan berdiri sebuah bangunan megah berwarna putih. Mereka berhenti di depan gerbang tinggi dimana beberapa kamera pengawas terpasang di sana, garbang itu langsung terbuka secara otomatis membuat mobil Alex kembali melaju memasuki pekarangan yang luas. Mata Alex menatap sekeliling berusaha menguasai medannya, dimana terdapat beberapa orang dengan senjata lengkap terlihat tersebar di beberapa titik melindugi rumah megah itu.
Juan menyuruh Alex untuk berhenti di depan pintu utama, Kely keluar terlebih dahulu, bak sang pemilik rumah ia masuk berjalan memasuki vila itu dengan santai, di belakangnya menyusul Juan yang tak pernah melepaskan todongan senjatanya dari Alex.
Vila bergaya minimalis itu hanya memiliki sebuah ruangan yang sangat besar dimana terdapat sebuah sofa besar di satu sisi dan kini Kely tengah duduk dengan santai di sana, dapur dengan perlengkapan lemgkap bernuansa coklat kayu di sisi lain, sebuah bar mini dengan gelas-gelas koktail dan deretan botol-botol anggur serta wiski menghiasi raknya dan sebuah dinding kaca raksasa yang mengarah ke kolam renang di luar.
“Well-well lihat siapa yang datang ke tempatku yang sederhana ini?”
Sebuah suara terdengar dari arah tangga berputar yang berada dekat dengan sofa, Simon dengan elegannya berjalan menuruni tangga itu. Dengan mengenakan celana putih dan kemeja putih dengan beberapa kancing atasnya yang terbuka memerlihatkan dada bidangnya.
******
Haiiii... besok week end jadi gak tau nih apa bisa update atau tidak, mengingat minggu kemarin-pun gagal update 😪 tapi besok aku coba up ya, kalau berhasil alhamdulillah kalau ga ya harap bersabar sampai senin 😁 💗A.K💗