The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 30



Suasana di depan kantor NYPD malam itu lebih ramai dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya, para kuli tinta telah berkerumun untuk meliput penangkapan dari salah satu kawanan perampok yang selama ini telah menjadi buruan seluruh polisi Amerika


.


"Jadi ini adalah barang bukti yang selama ini mereka cari?" Tanya Kapten sambil menatap sebuah kaset yang berada di dalam plastik yang baru diserahkan Alex bersama dengan bukti lainnya.


"Iya, kau ingat seorang mahasiswa yang terbunuh dengan peluru yang sama dengan penjaga pameran itu?" Tanya Alex yang membuat Kapten berpikir sejenak sebelum mengangguk.


"Dia tanpa sengaja merekam kawanan ghost ketika mereka telah melakukan aksinya, oleh sebab itu mereka membunuhnya."


"Dan selama ini kaset ini ada pada kekasihmu?" Tanya Kapten sambil menatap Alex yang mengangguk.


"Kami mengira kalau itu adalah kaset salah satu rekan kerjanya yang terbawa karena itulah kami tak berani untuk menyentuhnya, sampai akhirnya kemarin tanpa sengaja Lexi melihat foto dari file kasus mahasiswa itu yang aku bawa ke rumah dan dia mengenalinya. Mereka sempat bertabrakan ketika ia keluar dari kantor, dan sepertinya pada saat itulah kaset miliknya terbawa oleh Lexi," jelas Alex yang mendapat anggukan dari Kapten.


"Kenapa kau tidak langsung menyerahkannya, jadi kita bisa langsung melakukan penangkapan tanpa harus terjadi kerusuhan di jalan kota New York pada malam sabtu. Dan kau harus membuat laporan tentang kejadian tadi, besok pagi," ucap Kapten membuat Alex menatapnya tak percaya.


"Tidak ada bantahan, MacKena," lanjut Kapten setelah melihat anak buahnya itu hendak membantah, "Jadi jelaskan padaku, sebelum FBI datang dan meminta penjelasan karena salah satu anggota mereka ditangkap, dan kantor Gubernur menghubungiku karena kekacauan yang kau buat di jalan tadi."


"Pertama-tama bukan aku yang membuat kekacauan di jalanan New York, itu salahnya kenapa dia harus melarikan diri segala," ujar Alex berusaha membela diri dan kali ini sang Kapten-lah yang memberi tatapan yang benar saja yang membuat Alex menangkat bahunya santai sebelum melanjutkan penjelasannya.


"Kau tahu sendiri mereka siapa, Kapten... yang satu adalah seorang pengacara yang sudah terkenal, yang satu adalah anggota FBI dan yang satu lagi aku baru mengetahuinya kalau dia adalah seorang IT handal. Jadi apa menurutmu mereka akan menyerah begitu saja kalau kita menangkap mereka hanya berdasarkan bukti dari video ini?"


Kapten terdiam beberapa saat mendengar penjelasan Alex kemudian dia mengangguk menyetujui alasannya.


"Oleh sebab itu, kita memerlukan bukti yang tak bisa mereka bantah lagi," lanjut Alex.


"Jadi kau merencanakan ini semua... tanpa memberitahuku."


"Aku memberitahumu sebelumnya."


"Kau hanya memberitahuku akan melakukan pengintaian."


"Ini memang pengintaian, dan berakhir dengan penangkapan tentu saja." Alex berkata dengan senyum kemenangan di wajahnya membuat Kaptennya yang memang sudah sangat mengenal sifat anak buahnya yang satu ini hanya bisa menghela napas sambil menatapnya tajam.


"Jujur saja awalnya aku hanya ingin mendapatkan DNA-nya untuk dibandingkan dengan darah pada saat penyerangan apartemen Alexa. Tapi setelah melihat video itu rencana kami berubah, kami akhirnya memutuskan untuk menjebak mereka dengan menggunakan kaset itu dan itu berhasil, kami bahkan memasang kamera di dalam apartemen yang merekam bagaimana mereka masuk ke dalam apartemen tanpa ijin dan mengancam akan membunuh Daniel, jadi mereka tak bisa menghindar lagi."


Kapten mengangguk mengerti sambil berkata, "Baiklah aku mengerti. Sekarang sebaiknya kau pulang dan beristirahat supaya besok kau bisa melakukan investigasi secara menyeluruh, aku mau laporan lengkap sebelum melakukan konfrensi pers dan aku tak menginginkan kesalahan, apa kau paham?"


"Yes, Sir! Besok aku akan menyerahkan laporannya," ucap Alex sambil berdiri lalu berjalan hendak keluar dari ruangan itu ketika Kapten kembali memanggilnya.


"MacKena... aku benci mengakui ini, but... good job."


Alex tersenyum miring sambil mengangguk menerima pujian itu dan ia-pun melanjutkan langkahnya menuju meja tempat kerjanya. Ia tengah membereskan beberapa file yang akan dibawa pulang untuk referensi pembuatan laporan ketika Phillip datang.


"Aku telah memasukan mereka ke tempat yang terpisah," ucapnya sambil menghempaskan tubuhnya di atas kursi, wajahnya terlihat sangat lelah sama seperti yang dirasakan Alex apalagi dirinya memiliki beberapa memar dari hasil pertarunganya dengan James tadi.


"Bagus, dengan begitu mereka tak bisa merencanakan jawaban yang akan diberikan saat interogasi," ujar Alex sambil memakai jaketnya dan bersiap-siap untuk pulang, "Sebaiknya kita pulang sekarang, Phil, kita memerlukan tenaga ekstra untuk besok."


"Kau benar dan mereka pasti akan sangat menyusahkan," ucap Phillip sambil berdiri dan bersiap-siap pulang.


Mereka keluar dari kantor NYPD melalui jalan belakang mengingat masih banyaknya wartawan yang berkerumun di depan untuk mencari informasi terbaru. Alex langsung masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarainya menuju tempat kemana ia biasa pulang akhir-akhir ini.


Ia masuk ke apartemen Alexa yang tampak sepi, ia melempar tasnya di atas sofa lalu berjalan menuju lemari es untuk mengambil bir dingin, saat ini ia sangat memerlukannya untuk menenangkan syaraf-syarafnya yang terasa tegang.


"Kau baru pulang?" terdengar suara serak khas orang ngantuk dari arah belakang yang membuat Alex membalikkan badannya dan melihat Alexa tengah berjalan ke arahnya dengan mengenakan celana training panjang berwarna biru muda dan kaos tanpa lengan berwarna putih sebagai atasannya.


"Hmm, apa aku membangunkanmu?" ucap Alex sambil tersenyum menenangkan lalu meneguk bir dingin di tangannya sebelum berjalan mendekati gadis bermata ember itu dan memeluknya erat.


"Aku tak bisa tidur."


"Kau menungguku?"


"Hmm.. apa kau baik-baik saja?" Tanya Alexa sambil membalas pelukan pria bermata biru itu.


"Aku sudah mendengarnya dari Phil... kau berhasil menangkap semuanya," ucap Alexa sambil tersenyum bangga.


"Tentu saja, karena tak akan ada penjahat yang bisa lolos dari seorang MacKena."


Alexa hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa ketika mendengar ucapan Alex.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Alex sambil menatap Alexa lalu menuntunya untuk duduk di sofa.


"Karena ini apartemenku," jawab Alexa sambil menatap Alex ,"Kau terluka!" serunya setelah menyadari luka-laku di wajah tampan milik kekasihnya.


"Aku tidak apa-apa ini hanya luka ringan saja."


"Ini pasti sangat sakit." Alexa berkata sambil meringis melihat luka-luka di pipi, kening dan bibir Alex.


"Tidak... ini tidak sakit hanya sedikit mengurangi ketampananku," ujar Alex sambil tersenyum miring.


"Oh percayalah ketampananmu berkurang banyak."


"Benarkah? Ckk, seharusnya aku tadi membunuhnya karena mengurangi ketampananku."


Alexa kembali tertawa sambil mengangguk mendengar ucapan Alex yang juga tengah tersenyum.


"Kau belum menjawab pertanyaanku... apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau tinggal di tempat Daniel."


"Apa menurutmu aku akan tinggal diam dan tidur dengan nyaman di sana, sedangkan aku tahu kau sedang berusaha menangkan penjahat yang tak ragu untuk membunuh siapapun?" ujar Alexa sambil menatap Alex serius.


Mendengar itu Alex tersenyum lembut, tangannya terulur untuk menarik tengkuk Alexa lalu menghadiahinya sebuah ciuman lembut yang cukup lama.


"Sudah malam sebaiknya kau tidur," ucap Alex sambil menatap Alexa dengan penuh kasih sayang setelah mereka melepaskan ciumannya.


"Kau juga harus tidur," ucap Alexa sambil menyurukan kepalanya di dada bidang Alex yang tangannya langsung mengelus rambut panjang gadis itu.


"Aku harus membereskan dulu laporan untuk besok, setelah itu aku akan tidur."


"Apa kau tidak bisa mengerjakannya besok pagi saja? Ini sudah hampir pukul 2 pagi," ucap Alexa dengan wajah memelas menatap Alex yang terlihat begitu lelah.


"Semakin cepat aku menyelesaikan itu lebih baik, aku jadi bisa beristirahat dengan tenang."


Alexa mengangguk mengerti ia lalu berdiri dengan tangan mereka masih saling bertautan seolah enggan untuk saling melepaskannya.


"Tapi sepertinya malam ini kau harus tidur di sofa."


Alex mengangkat alisnya tak mengerti, "Kenapa?"


"Raina baru saja datang tadi dan sekarang dia sedang tidur," jelas Alexa sambil menatap Alex yang juga menatapya.


"Dia tidur di kamarmu?" Tanya Alex yang membuat Alexa menggeleng.


"Tidak, dia tidur di kamar Em karena itulah kau tidak bisa tidur di sana dan harus tidur di sofa, apa kau paham?"


"Tentu saja," jawab Alex sambil mengangguk mengerti.


"Jangan kerja sampai larut, kau harus cepat tidur, ok?!" lanjut Alexa dengan serius membuat Alex kembali mengangguk dan sebelum ia kembali ke kamarnya ia membarikan ciuman selamat malam untuk kekasihnya itu.


Sepeninggalannya Alexa, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu lalu berganti pakaian dengan kaos polos putih dan celana jeans biru pudar sebelum akhirnya larut dalam mengerjakan laporan yang harus ia serahkan pagi ini sebelum Kapten melakukan konfrensi pers.


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat, jam sudah menunjukan jam 4 pagi ketika Alex mematikan laptopnya, ia menguap sambil meregangkan badannya yang kini mulai terasa sakit di beberapa bagian akibat perkelahiannya dengan James. Ia berjalan ke arah kamar Alexa kemudian membaringkan badannya yang lelah di samping gadis bermata amber yang sekarang tengah terlelap. Perlahan ia menarik tubuh Alexa mendekat lalu mendekapnya sebelum akhirnya terbuai dalam dunia mimpi.


*****


Haiii... kemarin ada yg nanya ko kasusnya sdh terungkap? apa kisah double A bakal pendek? hmmm... yakin kasusnya sdh tuntas? hahahaha, percayalah ini baru setengahnya masih ada kejutan dan aksi mendebarkan lainnya. Jadiiii... tetap tungguin ya kisahnya double A.. oh iya, besok ada bonus, so tungguin ya ๐Ÿ˜‰ love ๐Ÿ’“A.k๐Ÿ’“