
Pagi menjelang perlahan Alexa membuka matanya, badannya serasa lebih segar karena untuk pertama kalinya semenjak Alex tak tinggal bersamanya lagi ia bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa hari terakhir ini ia tak bisa tidur dengan nyenyak karena ada sesuatu yang hilang, tak ada lengan kokoh yang memeluknya seperti saat ini. Seperti saat ini? Alexa mengerutkan alisnya bingung, ia merasakan sebuah lengan tengah memeluknya dari belakang.
Apa dia bermimpi? Alexa bertanya dalam hati, tangannya mengelus tangan yang memeluknya untuk memastikan dan iya ini bukan mimpi, perlahan sebuah senyuman terbit di wajah cantiknya. Ia membalikkan badan dan mendapati wajah Alex yang masih terpejam tepat di hadapannya. Ia mengelus wajah tampan kekasihnya dengan lembut, bulu-bulu halus telah tumbuh menutupi rahang kokohnya, jari telunjuknya naik ke atas untuk mengelus alis kemudian turun ke hidung.
“Aku tahu aku tampan,” ucap Alex dengan suara seraknya membuat Alexa tersenyum.
“Kau sudah bangun?”
“Bagaimana aku bisa tidur kalau kau terus menggodaku seperti itu.”
“Aku tak menggodamu.”
“Jadi apa yang kau lakukan?”
“Hanya…”
“Hanya mengagumi wajahku yang tampan.”
Alexa tertawa mendengar ucapan Alex yang kini tengah menatapnya sambil tersenyum kemudian mengecupnya lembut.
“Bagaimana kau bisa tidur di sini?” tanya Alexa sambil merebahkan kepalanya di atas lengan Alex.
“Tentu saja dengan masuk ke kamarmu kemudian naik ke atas tempat tidur.”
“Bukan itu maksudku,” ujar Alexa sambil memukul dada Alex yang hanya tersenyum lalu memeluknya erat.
“Apa Daniel mengetahuinya?” lanjut Alexa sambil mendorong tubuh Alex supaya menjauh.
“Dia tahu,” jawab Alex sambil kembali memeluk tubuh Alexa.
“Dia tahu!” seru Alexa tak percaya sambil kembali mendorong Alex, “Dan dia tidak melarangmu?”
Alex kembali memeluk Alexa sebelum mnejawab pertanyaan itu.
“Tenang saja untuk saat ini tak akan ada yang mengganggu kita, jadi sebaiknya kau diam dan nikmati saat-saat tenang kita sebelum mereka kembali menerobos masuk kemari.”
Alexa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum ketika menyadari apa maksud dari ucapan Alex, tak mau menyia-nyiakan kesempatan ia-pun memeluk balik kekasihnya dan menikmati wangi tubuh yang telah dirindukannya.
Tapi baru saja ia mau kembali tertidur ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kasar bersamaan dengan terdengarnya suara dari kakaknya.
“Sampai kapan kalian akan tidur seperti itu? Cepat bangun! Sekarang!” serunya sambil berdiri di tengah kamar dengan melipat tangannya di atas dada membuat Alex menatapnya dengan dingin begitupun Alexa, tapi kemuadian ia memutuskan untuk menuruti kakaknya itu dengan bangun dari tempat tidur dan membuat Daniel tersenyum lalu pergi meninggalkan kamar itu dan kini terdengar teriakannya dari kamar sebelah dimana Raina dan Gerard tengah tidur.
“Aku baru menyadari kalau dia sangat menyebalkan,” ujar Alex sambil berdiri dan memakai kaosnya.
“Oh percayalah, dulu kau lebih menyebalkan dari pada Daniel,” ucap Alexa sambil menatap Alex dingin yang hanya membuat Alex tersenyum layaknya orang yang tak bersalah.
“Oh percayalah, aku melakukan itu demi kebaikanmu,” ujar Alex sambil mengikuti Alexa keluar dari kamar.
“Sepertinya daripada kebaikanku lebih tepatnya untuk kebaikanmu sendiri.”
“Lexi, kau mudah sekali tertipu oleh para pria, salah satunya pria pesolek itu jadi kau memerlukan seseorang… seperti aku… untuk selalu menjagamu dari godaan para pria.”
Alexa memutar bola matanya ketika mendengar perkataan Alex.
“Kau hanya membuat para pria takut untuk berkencan denganku.”
“Bagus karena itu maksudku.”
Mereka kini telah berada di lantai satu kemudian berjalan ke arah dapur.
“Ketika tak ada seorang-pun yang mengajakku kencan, kau berkencan dengan banyak sekali perempuan. Itu sangat tidak adil,” ucap Alexa yang kini tengah mengambil mug lalu mengisinya dengan kopi buatan Kerelyn yang sedang duduk di kursi dapur.
“Selamat pagi juga buat kalian berdua,” ucap Kerleyn sambil menatap Alexa yang kini duduk di hadapannya.
“Sama-sama, jadi… apa yang kalian perdebatkan pagi-pagi seperti ini?” tanya Kerelyn yang langsung saja membuat Alexa menceritakan tentang Alex yang menurutnya sangat tidak adil karena dia telah berkencan dengan banyak perempuan sedangkan dirinya sendiri hanya baru beberapa kali berkencan dan selalu gagal karena sikap pengawal pribadinya itu.
“Kencanmu gagal tidak semuanya salahku. Pria yang mengajakmu kencan hanya terlalu pengecut karena takut dengan semua ancamanku.,” ucap Alex berusaha membela diri sambil mengambil kopinya sendiri.
“Bagaimana mereka tidak takut kalau kau mengancamnya sambil memerlihatkan senjatamu itu.”
“Aku hanya menggertaknya saja, dan hei! Jangan salahkan aku kalau kau-pun gagal berkencan bahkan ketika aku tak mengetahui kalau kau sedang berkencan.”
“Itu karena dia berselingkuh!” seru Alexa, “Maafkan aku Kerelyn, tapi adikmu benar-benar selingkuh dariku,” lanjutnya sambil menatap Kerelyn setelah dia ingat kalau pria peselingkuh itu adalah adik dari perempuan yang kini duduk di depannya sambil minum kopi.
“Aku tahu, Lexa, tak usah khawatir… jangan hiraukan aku, lanjutkan saja perdebatan kalian,” ucap Kerelyn sambil menyesap kopinya santai seolah melihat perdebatan double A adalah tontonan yang menyenangkan di pagi hari.
“Kau lihat,” ujar Alex sambil duduk di samping Alexa, “Itu tandanya tidak ada laki-laki yang lebih baik untukmu selain aku.” Alex mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum membuat Alexa memutar bola matanya.
“Aku tak percaya ini, dia benar-benar menyebalkan.” Terdengar suara gerutuan Gerard yang baru saja memasuki dapur di susul oleh Raina yang mengekor di belakangnya membuat semua orang kini menatap kearah mereka.
“Biar ku tebak, apa orang menyebalkan itu berinisial D-A-N-I-E-L?”
“Hei, itu bukan inisial tapi namaku,” protes Daniel setelah mendengar Alex yang hanya mengangkat bahunya santai.
“Iya, dia sangat menyebalkan, bagaimana bisa dia menerobos kamar kami,” protes Gerard sambil menarik kursi sebelah Alex yang tengah menikmati kopinya.
“Dan kalian berdua,” ucap Alex sambil menunjuk Gerard dan Daniel dengan mug kopinya, “Telah menerobos kamar kami beberapa kali… ingat? Be-be-ra-pa kali.”
“Yeah, well, itu lain ceritanya,” ucap Gerard berusaha membela diri.
“Wow, man, kenapa bisa lain?”
“Iya kenapa bisa lain?” tanya Alexa mengikuti ucapan Alex sambil menatap Gerard yang kini menatap Daniel meminta bantuan tapi sayangnya kakak si kembar itu hanya mengangkat bahunya santai.
“Karena kau tidur dengan Lexa,” jawab Gerard yang membuat Alex mengangkat alisnya.
“Kenapa dengan Lexi?”
“Iya, kenapa dengan aku.”
“Oh ayolah, A, dia Lexa… Alexa Winchester,” jawab Gerard sambil menunjuk Alexa.
“Hei, apa salahnya denganku!” protes Alexa.
“Iya, apa salahnya dengan Lexi.”
“Dia gadis kecil yang tumbuh bersama dengan kita, dia sudah kita anggap adik sendiri. Bahkan kita bertiga akan menggagalkan setiap kencannya dan kini kau berkencan dengannya, jujur saja aku sedikit berat melepasnya untuk berkencan denganmu.”
“Sekarang kau tahu apa yang ku rasakan, G, dan sekarang kau-pun tidur dengan sepupu kecilku.”
“Oh ayolah, aku sudah besar, Daniel,” rajuk Raina sambil mengoles rotinya dengan coklat.
“Bagiku kalian berdua tetaplah adik-adik kecilku.”
“Ini tidak adil!” protes Alexa dan Raina berbarengan.
Perdebatan adik kakak itu terus berlanjut membuat Kerelyn membuang napas sambil menggelengkan kepala, tak mau ikut terseret dalam perdebatan itu ia lebih memilih untuk mengambil koran pagi. Ia tersenyum ketika perdebatan itu masih terdengar hingga ke ruang keluarga dan ruang tamu.
Ia membuka pintu keluar kemudian menghirup udara pagi hari yang segar, ia berjongkok untuk mengambil koran yang tergeletak di depan pintu tapi seketika tubuhnya membeku, aura dingin mulai merambati tubuhnya ketika matanya menangkap sesuatu yang ia kenal dan telah memberi teror baginya beberapa waktu lalu.
Sebuah tulip putih bercak merah tergelak di sana tak jauh dari koran yang akan ia ambil, perlahan Kerelyn mengambil secarik kertas yang berada di bawah bunga itu lalu membaca isi pesannya.
“Tik-tok-tik-tok… kau tak bisa bersembunyi dari karma… bersiaplah.”
******