
Mereka merunduk berlindung, kaca depan mobil kini telah pecah akibat terjangan peluru tapi untung saja tidak ada yang mengenai mereka bertiga, Alexa berada di jok belakang sehingga ia bisa berbaring terlindung oleh jok depan.
“Jangan berhenti!” perintah Alex kepada Ethan yang kembali berteriak sambil mengumpat tanpa melepaskan kakinya dari pedal gas.
Alex mengeluarkan tanganya dari jendela dan mulai melakukan tembakan beruntun sampai barikade itu berhamburan berusaha berlindung dari serangan Alex.
“YEAAH!” teriak mereka bertiga setelah berada di jalan raya, Alex dan Ethan bahkan melakukan tos tanpa sadar tapi mereka kemudian kembali terlihat bermusuhan seperti biasanya setelah menyadari hal itu.
Mobil model papan atas itu kini sudah tak berbentuk dengan lubang-lubang bekas peluru di badan mobil, kacanya pecah, spion luar kini menggantung seolah hanya bertahan karena seutas tali, bagasi belakangnya tidak lagi tertutup sempurna.
“Seharusnya kau membeli mobil yang tahan peluru,” ucap Alex ketika menyadari kondisi mobil itu.
“Hei! Aku tak tahu kalau aku akan berada di medan perang seperti itu,” protes Ethan menanggapi ucapan Alex yang kini menatap ke belakang yang kemudian mengumpat ketika melihat beberapa mobil mengejar mereka.
“Tancap gasnya!” seru Alex membuat Ethan kembali menginjak gasnya dalam-dalam sambil mengumpat, dan Alexa kembali merunduk berlindung.
Rentetan tembakan kembali menghujani mereka, membuat Ethan menginjak gasnya semakin dalam hingga mobilnya seolah terbang di antara kegelapan malam.
“Alex, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?” tanya Alexa sambil berteriak dengan kepala merunduk berlindung.
“Tidak!” jawab Alex tak kalah kencangnya dengan Alexa karena suara mereka teredam oleh suara mesin mobil yang menderu.
“Balas tembakan mereka!” seru Alexa.
“Peluruku habis.”
“Ah, sial!”
“Kau seharusnya mengambil salah satu senjata mereka,” ucap Ethan sambil berbelok dengan tajam tanpa mengurangi kecepatan, alhasil Alexa yang tak memakai sabuk pengaman terpelanting hingga tubuhnya menabrak pintu.
“Sial, E!” umpat Alexa sambil kembali duduk walaupun sedikit sulit karena Ethan menjalankan mobilnya seperti pembalap di sirkuit balapan liar.
“Apa kau tak apa-apa?” tanya Alex sambil melihat ke belakang.
“Aku tak apa-apa,” jawab Alexa sambil mengangguk menyakinkan, walaupun wajahnya terlihat tegang, “Kenapa Phillip sangat lama!?” serunya berharap bantuan akan segera datang mengingat semakin banyaknya kendaraan di belakang yang mengejar mereka.
“Ah, sial!” seru Ethan ketika dirasa mobilnya oleng karena salah satu tembakan mereka mengenai bannya.
Ethan berusaha menyeimbangkan laju kendaraan tapi gagal dan berakhir dengan menabrak pohon dengan keras hingga bagian depannya penyok dan mengeluarkan asap.
“Kalian baik-baik saja?” tanya Alex memeriksa keadaan Ethan dan Alexa.
“Aku baik-baik saja,” jawab Alexa sambil mengelus-elus kepala dan bahunya karena mengalami benturan cukup keras.
“Aku juga.”
“Bagus! Sekarang kita keluar dari sini, cepat!” perintahnya sambil membuka pintu dan keluar dari mobil disusul Alexa dan Ethan.
Mereka kemudian berlari memasuki hutan yang semakin lama semakin rimbun, gelapnya malam membantu mereka untuk bersembunyi, cahaya perak dari bulan mengintip dari dahan-dahan pohon raksasa memberikan sedikit peneranga untuk melihat jalan yang akan mereka lalui. Dari kejauhan terdengar teriakan Simon yang memerintahkan anak buahnya untuk mencari mereka. Alex berjalan paling depan, tangannya menggenggam tangan Alexa yang berada persis di belakangnya sedangkan Ethan berada paling belakang, terlihat ia berjalan dengan terpincang-pincang.
“Apa kau tak apa-apa?” tanya Alexa menyadari ada yang salah dari cara Ethan berjalan.
“Tidak apa-apa, hanya kakiku sepertinya sedikit terluka,” ucap Ethan dengan napas terengah-engah sama seperti Alexa yang juga terlihat lelah.
“Kau berdarah,” ujar Alex sambil berjalan mendekati Ethan yang celananya kini telah basah oleh darah.
Alex berjongkok untuk memeriksa luka mantan kekasih Alexa itu dan ia mengumpat ketika melihat lukanya cukup besar.
“Pakai ini,” ucap Alexa sambil menyerahkan syal yang tadi ia gunakan sebagai bandana, tanpa menunggu lagi Alex langsung mengikat luka di atas dengkul Ethan untuk menghentikan pendarahan sementara.
“Ayo!” Alex kembali memimpin di depan setelah ia yakin kalau kain itu akan sedikit menghentikan pendarahan Ethan.
“Sial!” Alex berlari sambil menarik Alexa yang kesulitan mengimbangi langkah Alex, di belakang mereka Ethan berusaha tetap berlari walaupun harus menahan sakit pada kakinya.
Simon dan anak buahnya mulai menghujani mereka dengan tembakan membuat mereka harus berlari sambil menundukan kepala. Untung saja tembakan mereka meleset, mereka hanya mengenai dahan pohon yang seolah-olah melindungi mereka dari terjangan peluru. Alex menarik Alexa untuk bersembunyi di balik pohon yang cukup besar dan Ethan bersembunyi di pohon sebelahnya.
Dada mereka naik turun tersengal-sengal, keringat membasahi tubuh ketiganya, ketakutan mulai merayapi, dan Alex bisa merasakan itu dari tubuh Alexa yang gemetar.
“Semua akan baik-baik saja,” bisik Alex berusaha menenangkan kekasihnya yang mendapat anggukan dengan senyum dipaksakan dari gadis bermata amber itu yang seketika terbelalak ketika dari kejauhan terdengar samar-samar suara sirine mobil polisi.
“Mereka sudah datang!” Alexa hampir saja berteriak karena bahagia dan untung saja ia bisa menahannya.
Senyum lebar menghiasi wajahnya begitu juga Ethan yang terlihat tersenyum lega, tapi wajahnya semakin pucat dan Alex bisa melihat darah kini telah kembali membasahi syal milik Alexa dan sepertinya dia tak bisa lagi melanjutkan berlari, Alex tersentak kembali waspada ketika mendengar langkah-langkah yang semakin mendekat.
“Dengar! Aku akan mengalihkan perhatian mereka, kau bawa Ethan pergi dari sini.”
“Alex…”
“Tidak, Lexi, kali ini kau harus mendengarkanku,” ujar Alex dengan wajah serius menatap Alexa yang tak menyukai ide itu, “Ethan terluka dan dia kehilangan banyak darah, dia tak akan sanggup untuk berlari semakin jauh lagi, kau harus membantunya untuk kembali menuju jalan raya dan meminta bantuan Phillip dan yang lainnya, apa kau paham? Kau dengar itu? Mereka semakin dekat.”
Alexa medengar suara sirine yang semakin jelas, ia kemudian menatap Ethan yang sedang menahan sakit dan tanpa terasa airmatanya bergulir karena rasa takut, khawatir terhadap Alex, dan merasa bersalah terhadap Ethan karena membuatnya harus terlibat dalam situasi bahaya seperti ini. Tapi ia harus menguatkan hatinya, ia tak boleh menjadi beban bagi semuanya.
“Baiklah, tapi kau berjanji kau tidak akan terluka!” ujar Alexa dengan sorot mata berkaca-kaca menatap Alex yang juga menatapnya lembut kemudian mengangguk.
“Aku berjanji akan kembali dengan selamat,” ucap Alex yang mendapat anggukan dari Alexa, “Kau siap?” Alexa mengambil napas dalam kemudian mengangguk, “I love you,” ucap Alex sambil menciumnya sebelum akhirnya ia berlari menjauh dari tempat persembunyian mereka sebelumnya.
“ITU DIA!” teriak salah satu dari mereka yang langsung mengejarnya sambil melancarkan tembakan.
“Sial!” seru Alex ketika salah satu peluru hampir mengenainya, tapi ia tak memelankan langkahnya, ranting-ranting pohon mencakar tubuhnya di beberapa tempat tapi ia tak peduli, ia terus berlari sejauh mungkin memberi waktu Alexa dan Ethan untuk melarikan diri menuju jalan raya dimana rekan-rekan polisinya sudah menunggu untuk menyelamatkan mereka.
Suasana gelap membuat Alex tak begitu jelas melihat medan di depanya, tapi ia tahu kalau lawannya pun tidak bisa melihat dengan jelas, mereka hanya mengandalkan pendengaran seperti dirinya. Dirasa cukup jauh Alex kembali bersembunyi di balik pohon dengan napas terengah-engah kekurangan oksigen, telinganya dibuka lebar-lebar, tubuhnya siap bertarung.
Hening… tak ada suara, bahkan binatang malam-pun seolah takut untuk keluar dari persembunyian mereka. Suara ranting yang terinjak membuat Alex kembali siaga, ia semakin menajamkan pendengarannya, semakin lama suara langkah itu semakin mendekat. Satu orang… dua orang… Alex bisa mendengar dua orang yang mendekat ke arahnya.
Langkahnya semakin jelas terdengar membuat adrenalinnya terpacu hebat, darahnya mendidih, tubuhnya siaga seperti hewan pemburu yang tengah menunggu buruannya. Dan akhirnya tiba ketika moncong senjata lawannya berada tepat di sampingnya, secepat kilat ia merebut senjata itu, memukul ulu hati pria yang masih menganga terkejut itu hingga menunduk dan akhirnya tersungkur di atas tanah tak sadarkan diri setelah Alex memukul tengkuknya menggunakan ujung senjata.
Setelah melumpuhkan orang pertama, secapat kilat ia mengokang senjatanya dan menembak tepat di dada orang kedua yang langsung ambruk bersimbah darah. Alex terengah-engah menatap keduanya lalu kembali berlari tapi kini ia memiliki senjata di tangannya yang bisa ia gunakan untuk melawan Simon dan anak buahnya. Ia kembali bersembunyi tanpa suara, pelatihannya di pasukan khusus angkatan darat beberapa waktu lalu memberinya sedikit pengetahuan tentang bertempur dalam berbagai kondisi dan itu sangat menguntungkan baginya saat ini.
Dari balik pohon persembunyiannya ia bisa melihat seseorang mendekatinya dengan perlahan, langkahnya sangat ringan seolah tak ingin terdengar. Ia tetap diam tak bergerak di tempat persembunyiannya, hanya matanya yang mengawasi dengan tajam calon korbannya yang semakin lama semakin mendekat, kini jarak yang memisahkan hanya tinggal beberapa langkah saja, tapi Alex masih sabar tak bergerak sampai akhirnya hanya tinggal satu langkah saja dan secepat kilat Alex menangkap lengannya, membanting tubuhnya kemudian memelintir kepalanya hingga orang itu tak sadarkan diri dan ambruk di atas tanah yang basah.
Alex kembali berjalan dalam diam untuk kembali berburu, tapi kali ini ia tak begitu beruntung ketika seseorang menerjangnya dari arah samping sambil berteriak hingga mereka berguling di atas tanah dan berakhir dengan tubuh Alex yang menabrak pohon, tapi ia tak peduli dengan sakit yang dirasanya. Menggunakan kakinya ia menjatuhkan tubuh yang menghimpitnya, setelah terbebas ia kembali bangkit walaupun harus meringis merasakan sakit akibat benturan tadi. Alex berdiri dengan kuda-kuda siap bertarung, begitu pula lawannya yang ternyata adalah Juan.
“Ternyata kau sudah bangun dari tidurmu,” sindir Alex dengan senyum mengejek membuat Juan menatapnya tajam.
“Tadi kau hanya sedikit beruntung saja. Tapi sekarang keberuntunganmu sudah habis!” Serunya sambil menerjang Alex yang tak sempat menghindar dari pukulan pria berjambang lebat itu.
Juan bukanlah lawan yang mudah beberapa kali Alex terkena pukul dan tandang begitu pula dengan Juan yang kini terlihat kewalahan menerima serangan balasan. Alex melakukan tendangan berputar dan itu membuat lawannya tersungkur di tanah. Dengan mata nyalang kekasih Alexa itu menatap lawannya yang sedang berusaha untuk kembali bangkit, napas mereka sama-sama memburu, terlihat kelelahan, beberapa bagian pakaian mereka sobek, tubuh mereka selain kotor oleh tanah juga terdapat luka dan bercak darah.
Juan meludahkan darah yang keluar dari mulutnya akibat tendangan tadi, ia kini terlihat semakin murka tapi Alex-pun tak kalah murkanya. Ia sudah sangat lelah dengan teror yang mereka berikan selama ini dan ia ingin sekali mengakhirinya secepat mungkin. Dengan tekad yang kuat, ia meraung mengeluarkan amarahnya sambil menerjang, menghajar Juan dengan membabi buta tak memberikan kesempatan sedikit-pun bagi lawannya untuk melakukan perlawanan.
Juan terlihat kewalahan, tubuhnya sudah mulai lunglai akibat pukulan bertubi-tubi dan akhirnya Alex melakukan tendangan tepat mengenai kepalanya membuat kaki tangan Simon itu langsung ambruk tak sadarkan diri di atas tanah yang dingin. Dengan napas terengah-engah dan mata masih nyalang ia menatap tubuh lawannya, tenaganya seolah terkuras tapi ada sedikit kepuasan ketika melihat salah satu orang yang telah membuat orang-orang yang ia sayangi berada dalam ketakutan selama ini tergeletak tak sadarkan diri.
Dor!!!
Seketika Alex terbelalak, merasakan panas terbakar di lengan kanannya, ia bisa merasakan darah merembes dan terus turun hingga menetes dari jari-jarinya. Ia menatap arah tembakan itu berasal dan dari kegelapan malam muncul dengan perlahan sosok pria yang merupakan otak dari kejadian hari ini.
“Aku pastikan, detektif, kali ini tembakanku tak akan meleset,” ucapnya dengan seringai di wajah dan siap dengan kokangan senjata diarahkan tepat ke jantung Alex yang mematung.
*****