The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Epilog



Matahari senja selalu bisa menghipnotis semua orang, suasana terkesan romantis untuk para pasangan yang sedang memadu kasih. Warna keemesan yang terpantul di atas sungai Hudson menambah suasana magis. Alexa berdiri di pinggir pagar pembatas menikmati pemandangan sore di pinggir sungai. Semilir angina menerpa wajahnya lembut membuatnya memejamkan mata menikmati ketenangan yang ia rasakan.


“Ini!”


Alexa membuka matanya kemudian tersenyum menatap pria tampan di sampingnya yang menyerahkan gelas kertas berisi minuman dingin. Alex terlihat luar biasa seperti biasanya dengan jaket kulit hitam ciri khasnya, celana jeans dan kaus putih, tak lupa kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya menutupi mata birunya yang menawan.


Beberapa pasang mata perempuan tak bisa mengalihkan perhatiannya dari sosok salah satu detektif terbaik sekaligus Don Juan NYPD itu. Untung saja Alexa yang sudah terbiasa mendapatkan perhatian lebih dari para kaum hawa ketika sedang bersamanya hanya akan tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat para perempuan yang berusaha menarik perhatian kekasihnya.


Tapi Alex yang sekarang berbeda dengan Alex yang dulu, kalau dulu ia akan mengetahui wanita cantik dan seksi bahkan dari radius puluhan meter, tapi kini kemampuannya sudah menghilang karena ia tak lagi memedulikan perempuan yang seksi walaupun ia berada tepat di depannnya, matanya kini hanya tertuju pada gadis bermata ember dan berambut coklat yang kini berdiri di sampingnya dengan sangat cantiknya dan itu membuat getaran di dadanya bertalu hebat hanya dengan melihatnya tersenyum seperti sekarang.


“Kenapa kau tersenyum, apa yang kau pikirkan?” tanya Alex membuat Alexa menatapnya.


“Tidak,” jawabnya sambil tersenyum.


Mereka kembali terdiam menikmati menit-menit tenggelamnya matahari.


“Kasus Kely akan segera di meja hijaukan,” ucap Alex memecah keheningan di antara mereka membuat Alexa langsung menatapnya dengan terkejut.


“Apa… dia akan dihukum lama?” tanya Alexa, jujur saja ia merasa kasihan kepada mantan rekannya itu. Kely hanya dimanfaatkan oleh orang-orang gila itu, dia bahkan tidak mengetahui kalau kedua orangtuanya adalah korban dari Harry, orang yang selama ini ia anggap sebagai kakaknya sendiri.


“Aku tak tahu,” jawab Alex sambil menatap Alexa lembut karena ia tahu bagaimana kekasihnya itu sangat mengkhawatirkan Kely, “Kely adalah kaki tangan mereka, dan itu cukup memberatkan posisinya, dia juga yang telah membocorkan tentang penyamaranku dulu walaupun itu tak disengaja dan waktu itu ia belum mengetahui tentang aksi kejahatan mereka.”


Alexa membuang napas berat kemudian kembali membalikan badannya menatap sungai Hudson dimana dikejauhan berdiri dengan megah patung Liberty yang menjadi ikon kota itu. Alex sangat mengerti perasaan kekasihnya saat ini, karena bagaimana-pun Kely adalah seseorang yang selama ini cukup dekat dengannya.


Perlahan Alex memeluk Alexa dari belakang membuat gadis bermata amber itu menyandarkan kepalanya di dada bidangnya yang dengan lembut mengecup pucuk kepala gadis itu sebelum menumpunkan dagunya di atas kepala Alexa.


“Kely sudah mengakui kesalahannya dan dia cukup kooperatif bekerjasama dengan pihak kepolisian, jadi aku rasa itu akan sedikit meringankan hukumannya,” ucap Alex lembut sedikit menenangkan Alexa.


“Bagaimana dengan yang lainnya? Maksudku Simon dan Harry?”


“Kali ini Simon tidak akan bisa melarikan diri lagi, ia akan mendapat hukuman berat karena dituntut dengan pasal berlapis. Sedangkan Harry yang telah mendapat putusan hukuman mati, aku rasa eksekusi akan dipercepat karen jaksa penuntut sedang mengajukan itu kepada pengadilan.”


Alexa mengangguk dan senyum kembali terbit ketika merasakan dagu Alex kini berada d bahunya setalah sebelumnya memberinya sebuah kecupan di leher.


Damai… sore yang begitu damai yang dirasakan Alexa saat ini, berlatarkan jingga langit kota New York dan hembusan angin sore yang membelai sejuk wajahnya, tapi yang membuat semua terasa lengkap adalah pria yang mendekapnya lembut dari belakang seolah melindunginya dari segala bahaya duniawi.


Ia memejamkan matanya menikmati saat-saat ini, senyumnya semakin lebar ketika dirasa jari-jari mereka saling bertautan di atas perutnya yang rata, tapi seketika matanya langsung terbuka ketika ia merasakan sesuatu tersemat di jari manisnya.


Deg!


Jantungnya seolah berhenti berdetak dengan mata terbelalak menatap cincin emas putih berhiaskan berlian kecil di sekelilingnya yang sangat elegan, matanya tak bisa lepas dari cincin itu seolah telah menghipnotisnya, tenggorokan tercekat terasa panas dengan gumpalan yang menghangi.


“I-ini?” tanya Alexa tanpa mengalihkan pandangannya.


Alex memutur tubuh Alexa yang membeku menjadi menghadapnya, untuk pertama kalinya Alexa melihat kegugupan di wajah pria di hadapannya yang kini menatapnya dengan penuh cinta.


“Apa Daniel akan marah kalau kita menikah lebih dulu?” tanya Alex dengan senyum miringnya membuat Alexa semakin membelalakan mata, untuk sesaat ia seolah lupa bagaimana caranya bernapas, matanya kini berkaca-kaca menatap mata biru Alex yang juga menatapnya


.


“Dia pasti akan sangat marah,” jawab Alexa sambil tertawa tapi tanpa terasa airmata bergulir membasahi wajah cantiknya.


Alex mengusap airmata itu lembut lalu mencium kedua kelopak mata Alexa sama lembutnya membuat Alexa tersenyum dalam tangis bahagianya.


“Bagus, karena aku paling suka membuatnya marah,” ucap Alex sambil tersenyum lebar membuat Alexa kembali tertawa.


“Jadi… Alexa Winchester, apa kau mau menikah denganku?” tanya Alex dengan mata menatap matanya langsung, kedua tangan mereka saling bertautan, Alexa terdiam seolah ia berada dalam mimpi, lidahnya seolah kelu tak mampu untuk menjawabnya.


Melihatnya terdiam membuat jantung Alex seolah berhenti berdetak karena tak sabar menunggu jawaban gadis yang telah menjungkir balikkan dunianya itu.


“Oh ayolah, Lexi! Kenapa kau berpikir sangat lama sekali!” Protes Alex dengan wajah gusar, dan untuk pertama kalinya Alexa melihat Detektif NYPD seperti itu membuatnya ingin sekali tertawa, “Kau tidak boleh mengatakan tidak!” lanjutnya dengan sorot mata mengancam.


“Kenapa tidak?” tanya Alexa sambil berusaha menahan diri untuk tidak tertawa.


“Karena… karena kau masih berhutang satu permintaanku dalam taruhan tentang Daniel,” jawab Alex dengan senyum miring penuh kemenangan, “Kau ingat? kau harus mengabulkan tiga permintaanku, tapi kau baru mengabulkan dua permintaan jadi permintaanku yang terakhir adalah… menikahlah denganku, habiskan sisa hidupmu denganku, dan cintai aku sebesar aku mencintaimu.”


“Itu tiga permintaan, Alex.”


“Itu satu paket,” jawab Alex dengan senyum lebarnya membuat gadis di hadapnnya kembali tertawa.


“Ya Tuhan, kau memang lain daripada yang lain,” ucap Alexa dengan senyum lebar, “Disaat yang lainnya melamar kekasih mereka dengan kata-kata romantis, kau malah menggunakan taruhan untuk melamarku,” lanjutnya masih dengan senyum mengambang, “Tapi karana itulah aku mencintaimu.”


Alexa kembali tersenyum, tangannya terulur menyentuh pipi kekasihnya yang juga tengah tersenyum.


“Baiklah… aku mau menikah denganmu Alex MacArtur, bahkan kalau kau tidak melamarku.. aku yang akan melamarmu lebih dulu,” ucap Alexa membuat senyum lebar Alex terbit, dengan penuh kebahagian Alex mencium bibir merah Alexa dan tawa kebahagian terdengar dari keduanya.


“Apa kau tak menyesal karena akan kehilangan kebebasanmu sebagai seorang pria tampan ketika kau menikah denganku nanti?” tanya Alexa yang dijawab Alex dengan senyuman.


“Selama ini kau-lah pemilik hati dan hidupku, jadi aku tak akan menyesal kehilangan kebebasanku sebagai seorang pria tampan untuk hidup bahagia seumur hidup dengan perempuan tercantik yang aku cintai.”


Alexa mengecup bibir Alex lembut, hatinya serasa dipenuhi oleh cinta dari pria yang dicintai dan mencintainya sepenuh jiwa.


Matahari hampir tenggelam, cahaya keemasan telah memudar dan menua, berganti dengan semburat merah di garis cakrawala dan perlahan cahaya merah itu menghilang berganti dengan cahaya keperakan dari bulan yang bertugas menerangi bumi dikala malam, menemani dua insan yang baru saja memutuskan untuk melangkah menuju masa depan yang bertabur kebagian dan juga cinta.


*****


Flashback


(Beberapa tahun kebelakang, jauh sebelum Alex menjadi Don Juan NYPD)


"Mereka kembar?" tanya anak laki-laki bermata biru dengan wajah menempel di kaca ruang khusus bayi Rumah Sakit.


"Iya," jawab anak laki-laki lainnya yang bermata hitam dengan wajah menempel pada kaca sama persis seperti anak pertama.


"Wow!" seru anak ketiga yang mengenakan kaca mata dengan takjub, wajahnya-pun menempel seperti anak pertama dan kedua.


"Mereka seperti malaikat," ucap anak bermata biru yang dapat anggukan dengan senyum lebar dari kedua temannya.


Mereka tetap dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat, sampai salah satu bayi kembar itu terbangun lalu menangis membuat ketiganya kaget, dan sejurus kemudian bayi kedua-pun ikut menangis membuat mereka bertiga tambah bingung, sambil menepuk-nepuk kaca mereka berusaha menenangkan kedua bayi kembar itu.


"Mereka masih menangis!" Seru anak dengan kaca mata.


"Ssttt... jangan menangis," ujar anak bermata biru sambil menepuk-nepuk kaca seolah tepukan itu bisa sampai pada si bayi.


"Mom!!! Mereka menangis!" seru anak bermata hitam sambil berlari di lorong rumah sakit menuju kamar ruang inap ibunya yang baru melahirkan beberapa hari lalu.


Alex MacKena, anak laki-laki tampan bermata biru yang masih berusaha menenangkan bayi yang masih menangis itu kini terlihat terpesona menatap bayi perempuan bermata amber yang telah berhenti menangis dan kini seolah-olah tengah menatapnya dengan matanya yang bening.


"G..." Alex memanggil temannya Gerard yang masih berdiri di sampingnya, "Aku akan menikah dengannya," lanjutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi yang mengenakan baju pink itu.


"Siapa?" tanya Gerard terlihat bingung.


"Dia," jawab Alex sambil menunjuk bayi yang kini tengah mengemut jempol tangannya.


"Kau akan menikah dengan bayi?" tanya Gerard tak percaya.


"Bukan sekarang, bodoh, tapi nanti," ujar Alex sambil menatap Gerard yang kini terlihat mengangguk mengerti.


"Kau akan menikahi keduanya?" Gerard kembali bertanya setelah menyadari kalau bayi yang Alex tunjuk itu kembar.


"Tentu saja tidak, aku akan menikahi... dia," jawab Alex sambil menunjuk bayi paling ujung, "Alexa," lanjut Alex sambil membaca nama bayi yang tertulis di papan yang tertempel di tempat tidur bayi dengan senyum mengembang di wajahnya.




***Haiii....!!! akhirnya seri The Secret tamat sudah semuanya 😁 Kalau ada yang nanya kisah Gerard sama Raina mana, Kak? untuk kisah Gerard saya minta maaf karena sampai sekarang ceritanya masih mentok 😪 Tapi tidak perlu khawatir setelah ini saya akaun mengupload cerita baru dengan genre berbeda dari Secret Series.. ya anggap saja sebagai pendinginan setelah senam jantung selama baca the secret 😁 Saya ucapkan terimakasih banyak buat teman\-teman yang selama ini selalu support cerita saya, senang rasanya membaca setiap komen, mengetahui rasa penasaran dan juga begitu banyak yang excited menunggu setiap bab nya, sampai kalau telat up, beberapa akan bertanya 'kok belum up, Kak?" 😁 membaca setiap komen inilah yang membuat saya semangat setiap pagi sebelum aktifitas dimulai, saya menyempatkan diri untuk selalu mengupload cerita saya... sekali lagi terimakasih banyak untuk semuanya atas dukungan selama ini, mohon dukungan untuk cerita saya yang lainnya 🙇‍♀️🙇‍♀️🙇‍♀️ big hug n kiss for all of you 😍😍😍😘😘😘 sampai jumpa di cerita yang lain 💗A.K💗***