
"Jadi dia adalah penjaga di pameran perhiasan?" tanya Alex sambil memerhatikan mayat dengan luka tembak tepat di dahinya.
"Iya, aku rasa sekarang kita mengetahui bagaimana para pencuri itu masuk ke dalam gedung," ucap Phillip yang mendapat anggukan dari Alex.
"Dia dibunuh kemudian seseorang menyamar menjadi dirinya, menggunakan kartu identitasnya untuk masuk ke dalam gedung, mematikan sistem keamanan lalu membuka pintu sehingga para pencuri itu bisa dengan leluasa masuk dan menjarah semua perhiasan yang ada di sana."
Phillip mengangguk menyetujui prediksi Alex yang masih berjongkok mengamati mayat pria akhir dua puluhan yang mayatnya baru saja di temukan tadi pagi oleh kekasihnya.
"Tapi itu terlalu mudah... seperti ada kepingan yang hilang dalam prediksiku," ucap Alex sambil berdiri dan terlihat masih berpikir.
"Bagaimana dengan kekasihnya?" lanjutnya dengan mata mengamati sekeliling rumah, dimana beberapa orang dengan jaket bertuliskan CSI di belakangnya tengah mencari petunjuk di sekeliling TKP.
"Lucy sedang meminta keterangan lebih lanjut darinya," jawab Philip yang ikut berjalan di samping Alex keluar dari TKP, "Apa maksudmu dengan seperti ada kepingan yang hilang?"
"Aku sudah mendapatkan laporan dari bagian CSI, mereka menemukan kalau seseorang telah menyabotase kamera pengawas, itulah kenapa pencuri-pencuri itu tak tertangkap kamera. Tapi, sistem keamanan mereka berlapis yang tidak mungkin dimatikan begitu saja walaupun dari dalam tanpa diketahui oleh para penjaga yang lain."
Alex berusaha menjelasakan apa yang mengganjal dalam pikirannya sambil berdiri menatap Phillip yang terlihat memikirkan semua ucapannya, mereka kini sedang berdiri di halaman rumah yang menjadi TKP dengan lalu lalang para polisi dan para warga yang berkerumun di belakang garis polisi.
"Kau benar, jadi menurutmu ada orang dalam?" tanya Phillip dengan serius setelah mencerna ucapan Alex.
"Kita akan mencari tahu," jawab Alex sambil kembali meneruskan perjalanannya ketika melihat Lucy yang sedang berbincang dengan seorang perempuan berambut gelap menatap ke arahnya.
"Alex, aku tahu ini bukan urusanku tapi... boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Phillip sambil menatap Alex yang sedang memakai kaca mata hitamnya lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Aku tahu kalau kau sekarang sedang berhubungan dengan Alexa dan aku sangat senang mengetahuinya... tapi, apa kau telah menyelesaikan masalahmu dengan Lucy?"
Alex menatap Phillip di balik kacamata hitamnya sesaat sebelum menjawab pertanyaan itu, "Aku tak mempunyai masalah apapun dengannya, Phil."
"Oh ayolah, kau tahu apa maksudku," ujar Phillip sambil mengikuti Alex yang berjalan menuju mobilnya lalu masuk disusul Phillip yang duduk di sampingnya.
"Dengar, hubunganku dengan Lucy sudah lama berakhir. Aku sudah sering mengatakan padanya kalau aku tak menginginkan hubungan dengan komitmen apapun dan dia setuju, tapi..."
Alex tak bisa melanjutkan perkataannya mengingat bagaimana Lucy masih sangat berharap bisa kembali padanya.
"Man, percayalah dia sangat mencintaimu."
"Aku tahu... hei! Bukankah semua perempuan mencintaiku!" seru Alex dengan senyum miring membuat Phillips tertawa sambil menggeleng.
"Ya Tuhan, aku bersyukur karena aku tak setampan dirimu, kalau tidak istriku akan mengurungku di dalam rumah supaya tak ada perempuan lain yang menggodaku."
Alex tertawa sambil menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju meninggalkan TKP.
"Jadi kau benar-benar tinggal bersama dengan Alexa?" tanya Phillip yang di jawab anggukan oleh Alex.
"Aku tahu dari pertama melihatnya, kalau hanya dia yang bisa menaklukanmu," lanjut Phillip yang membuat Alex menatapnya tak percaya untuk beberapa saat sebelum kembali menatap ke arah depan.
"Apa maksudmu?" tanya Alex sambil menyetir dengan serius.
"Kau ingat ketika kita menemuinya di rumah sakit setelah dia tertembak dulu?"
Alex mengangguk, bagaimana bisa ia melupakan kejadian itu. Saat itu Alexa tertembak oleh orang yang ingin melukai Dylan dan jantungnya terasa mau copot ketika melihat gadis bermata amber itu tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.
"Aku melihat bagaimana kau sangat mencemaskannya di balik kekasaranmu, selama kondisi Alexa dalam bahaya kau seperti harimau yang akan menerkam siapapun membuat semua orang di kantor sebisa mungkin menjauhimu dan akhirnya akulah yang selalu menjadi sasaran kemarahanmu," ucap Phillip sambil membuang napas berat membuat Alex tersenyum.
"Tapi setelah melihat Alexa di rumah sakit, aku tahu alasan kemarahan itu. Kau sedang mencemaskannya, dan aku lihat kalau dia perempuan satu-satunya yang berani menentang semua perkataanmu dan tak terpengaruh dengan pesonamu. Alexa juga satu-satunya perempuan yang bisa membuat seorang Alex MacKena uring-uringan karena cemas tapi bisa membuat tertawa disaat dalam keadaan kalut... seperti kemarin."
Alex kembali tersenyum mendengar ucapan rekannya yang memang benar, ia membelokkan mobilnya ke arah kanan menuju jalan W32th.
"Tapi aku juga kasian melihat Lucy, dia sangat mencintaimu dan ketika mendengar kalau kalian tinggal bersama, dia terlihat sangat hancur... apa kau tak lihat bagaimana dia menatapmu tadi?"
"Dengar Phil, aku bukanlah malaikat yang bisa membahagiakan semua orang, yang bisa aku lakukan hanya sedikit mungkin melukainya dan dengan aku memutuskannya aku sedang membantunya supaya tak merasakan sakit hati yang lebih dalam lagi."
"Tapi kau sudah menyakitinya."
"Aku tahu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dari awal aku sudah memberitahunya kalau aku tak akan bisa mencintainya dan dia menerima hal itu... apa itu salahku kalau dia ternyata jatuh cinta padaku? Aku tak bisa melarang orang untuk jatuh cinta ataupun membenciku, karena tak ada seorangpun yang bisa mengontrol perasaan orang lain."
Phillip terdiam beberapa saat sambil mengangguk, "Kau benar... aku harap Alexa akan menjadi kekasihmu yang terakhir," ujar Phillip membuat Alex tersenyum.
Mereka kini berada di depan sebuah gedung bercat putih, Alex mematikan mesin mobilnya, lalu keluar diikuti Phillip yang bediri di sampingnya.
"Kita akan mencari tahu kelemahan dari sistem keamanaan mereka," ucap Alex sambil setengah berlari menyeberangi jalan.
*****
"Hai, Lexa, bagaimana dengan koleksi musim semimu apa sudah selesai?"
Seorang gadis mungil dengan kacamata berbingkai putih berdiri di samping Alexa yang tengah berkutat dengan pakaian setengah jadi yang ditempel di patung model, membuat gadis berambut coklat yang kini dikuncir kuda menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatap ke arahnya.
"Belum, kaset-kaset yang aku pinjam untuk jadi reverensiku tertinggal di dalam bagasi mobil di bengkel dan sialnya ketika kemarin aku ke sana untuk mengambil dus kaset, bengkelnya tutup sampai besok, karena itu tadi aku kena amukan dari Sheryl," ucap Alexa yang membuat rekannya tersenyum miris.
"Kau tahu, aku rasa dia iri padamu karena kau mendapat proyek dari si tampan Dean Tyler," ujar Kely rekan kerja Alexa membuat gadis bermata amber itu tersenyum sambil mengelengkan kepala.
"Aku serius, Lexa, semua orang membicarakannya kalau kau akan segera debut dengan label sendiri setelah mendapatkan proyek itu. Dan demi Tuhan, Lexa, dia Dean Tyler!" serunya dengan antusias membuat Alexa tertawa.
"Iya aku tahu, bukankah dia sangat... hot!" tambah Alexa membuat keduanya menjerit histeris layaknya ABG yang membicarakan idolanya.
"Setelah Kakak ipar dan sahabatmu hanya tinggal dia sang pewaris kerajaan bisnis tampan yang tersisa... aah, aku sangat iri padamu karena selalu dikelilingi oleh pria-pria tampan, bisakah kau mengenalkanku pada salah satu dari mereka? Aku tak mungkin bersaing dengan Kerelyn Howard, walaupun aku akan dengan senang hati menjadi kakak iparmu."
Alexa kembali tertawa mendengar permintaan Kely, "Tapi aku tak mau menjadi adik iparmu," ucap Alexa sambil tertawa.
"Yang benar saja, aku akan menjadi kakak ipar yang sangat sempurna."
"Kau hanya akan menjadi kakak ipar yang sangat cerewet," ucap Alexa membuat Kely tertawa.
"Bagaiamana dengan ahli IT yang waktu itu datang ke sini?"
"Gerard? Dia sedang jatuh cinta setengah mati kepada... sepupuku," ujar Alexa sambil mengangkat alis matanya bangga, sedangkan Kely membuang napas putus asa.
"Kalau detektif seksi yang dulu sempat berkencan dengan Caroline? Oh ya Tuhan, aku hampir meneteskan air liurku ketika melihatnya mengantarkan Caroline saat itu. Dia terlihat tampan, berbahaya sekaligus seksi."
Alexa kini menatap Kely sambil melipat tangannya di atas dada dengan mata tajam menatap perempuan yang tak berhenti-hentinya memuji Alex.
"Alex pernah mengantarkan Caroline ke sini?" tanya Alexa sambil menatap Kely dengan serius.
"Iya aku melihatnya di lobi ketika Caroline turun dari mobilnya, aku bertanya padanya siapa pria itu? Dia mengatakan kalau dia adalah seorang Detektif yang kau kenalkan padanya," jawab perempuan berkaca mata itu membuat Alexa mengangguk.
"Apa dia sering mengantarnya atau mungkin menjemputnya?" Alexa kembali bertanya yang membuat Kely sedikit curiga.
"Aku hanya melihatnya sekali... Lexa, apa dia kekasihmu?"
"Apa? Kekasih? Bu-bukan, dia bukan kekasihku."
"Tapi kenapa kau terlihat cemburu?" tanya Kely membuat Alexa membelalakan mata tak percaya.
"Cemburu padanya?" tanya Alexa sambil tertawa hambar, "Yang benar saja, Kely, aku tak mungkin cemburu pada zombie mesum itu."
"Zombie mesum?" tanya Kely tak mengerti.
"Lupakan saja," jawab Alexa sambil berjalan keluar dari ruangan itu diikuti Kely dari belakang, yang masih terlihat penasaran.
"Kau menyukainyakan?"
"Aku menyukainya? Tidak, kau salah, Kely, aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri, sama seperti dengan Dylan dan yang lainnya," jawab Alexa sambil terus berjalan menuju lift untuk kembali ke mejanya di lantai dua.
Kantor Alexa hanya berupa bangunan berlantai empat dimana lantai teratas merupakan kantor direksi dan bagian keuangan, lantai 3 merupakan kantor hampir semua bagian dan juga workshop, lantai 2 adalah kantor untuk para designer, dan ruang-ruang tempat feeting pakaian, sedangkan lantai satu hanya lobi pada umumnya.
"Aku bisa merasakan kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu," ucap Kely dengan mata penuh selidik dari balik kacamatanya dan itu membuat Alexa tidak nyaman.
Mereka kini tengah berada di dalam lift dan untung saja karena hanya turun satu lantai jadi dia tak perlu berada di dalam ruangan sempit itu hanya berdua dengan Kely yang terus mengajukan pertanyaan tentang hubungannya dengan Alex, dan entah kenapa untuk saat ini dia tak ingin membahas tentang itu.
Dia berjalan ke arah mejanya tak memedulikan ocehan Kely, tapi langkahnya tiba-tiba berhenti ketika dia melihat pria yang daritadi dibicarakan oleh Kely kini tengah duduk di mejanya dengan bertumpang kaki santai sambil membuka-buka majalah mode yang ada di atas meja.
Jantung Alexa entah kenapa kini berdetak lebih kencang ketika melihat pemandangan di depannya itu, ia sudah sering kali melihat para model pria yang ketampanannya sudah tak diragukan lagi dalam posisi yang sama, tapi Alex berbeda, aura maskulin yang sangat kental menguar dari seluruh tubuhnya dan itu membuatnya terlihat sangat luar biasa.
*****