The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 33



"Meninggal?" Tanya Phillip yang kembali mendapat anggukan dari Dean, membuat Alex dan Phillip terlihat terbelalak kaget. Mereka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Alex kembali mengajukan pertanyaan.


"Apa kau tahu kenapa dia meninggal?" Tanya Alex membuat Dean terlihat berpikir sebelum kahirnya dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak, mereka jarang sekali bercerita tentang temannya yang satu itu dan aku belum pernah bertemu denganya sekali-pun," jelas Dean membuat Alex menganggukkan kepala.


"Baiklah, Dean, terimakasih atas waktu dan informasinya. Aku harap kau akan menghubungi kami kalau mengingat sesuatu yang masih berhubungan dengan mereka... apa-pun itu." Alex berkata sambil menjabat tangan Dean yang tersenyum ramah.


"Tidak masalah, maafkan aku tidak bisa membantu banyak," ucapnya yang mendapat anggukan dari Alex dan Phillip.


"Ah... Dean!" Alex menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap pria yang sedang berjalan menuju mejanya.


"Boleh aku tahu kau berada dimana jumat malam seminggu yang lalu?" Tanya Alex membuat Dean mengangkat kedua alisnya.


"Seminggu yang lalu?"


"Iya seminggu yang lalu."


"Aku makan malam bersama tunanganku dan setelah itu pulang ke apartemen kami, apa ada yang salah?" tanyanya curiga.


"Tidak... tidak ada yang salah," jawab Alex dengan senyum lebar di wajahnya, "Jadi kau sudah bertunangan?"


"Iya, apa Alexa tidak menceritakan pada kalian kalau dia tengah merancang gaun pernikahan kami?"


"Ah, kau benar, aku lupa!" Alex berkata sambil tertawa berpura-pura kalau dia mengetahui hal itu membuat Phillip menggelengkan kepala melihat perubahan reaksi dari rekannya itu, "Selamat untuk pernikahanmu, semoga kalian bahagia," ucapnya dengan sangat tulus dan senyum lebar menghiasi wajah tampannya, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruangan itu.


"Apa kau sebahagia itu mendengar pernikahannya?" Tanya Phillip basa basi karena dia tahu kalau pria yang baru mereka temui adalah pesaing berat Alex dalam urusan asamara.


"Tentu saja, Phil, kita harus bahagia untuk pernikahan teman kita," ucap Alex dengan senyum miringnya sambil masuk kedalam lift.


"Jadi sekarang Dean Tyler adalah temanmu, bukan sainganmu ataupun otak dari ghost?" Tanya Phillip yang kembali membuat ekspresi wajah Alex terlihat serius.


"Tidak, dia tetap ada di dalam daftar tersangka kita, tapi aku rasa kita harus mencari tahu tentang siapa 'King Arthur' ini dan kapan dia meninggal," ucap Alex dengan serius yang mendapat anggukan dari rekannya.


"Apa kau curiga kalau dia meniggal karena tembakkanmu malam itu?" Tanya Phillip membuat Alex terdiam.


"Aku tidak yakin kalau tembakanku bisa menyebabkan kematian, tapi kita tak boleh menghilangkan kemungkinan itu."


Mereka berdua keluar gedung Emerald group berjalan menuju mobil, Alex hendak memakai kaca mata hitamnya ketika matanya tanpa sengaja menatap siluet tubuh yang ia kenal, seketika kakinya berhenti melangkah, matanya dipicingkan untuk melihat lebih jelas lagi.


"Ada apa?" Tanya Phillip sambil melihat ke arah Alex memfokuskan matanya.


"Bukan apa-apa, sepertinya aku salah lihat... ayo!" Ajak Alex sambil melanjutkan kembali langkahnya kemudian memakai kacamata hitamnya, tapi tak lama kemudian dia kembali membalikan badannya tapi sosok itu telah menghilang.


"Apa yang kau lihat tadi?" Tanya Phillip terlihat penasaran.


"Hantu," jawab Alex singkat sambil menyalakan mesin mobilnya dan melaju membelah jalanan kota New York yang padat.


Seseorang keluar di antara tembok-tembok gedung pencakar langit, mulutnya menyeringai penuh kebencian, matanya menatap tajam di balik kacamata hitamnya mengamati mobil Alex yang semakin menjauh, ia mendengus sebelum akhirnya berjalan meninggalkan tempat persembunyiannya dan perlahan menghilang di antara kerumunan para pejalan kaki.


*****


"Kalian berdua berhentilah seperti anak kecil, sampai kapan kalian akan marahan seperti ini," ujar Alexa sambil menatap Raina dan Gerard bergantian.


Saat ini mereka tengah berada di The Rock dan kedua sejoli yang katanya saling merindukan itu hanya terdiam dengan mata saling mendelik dari tadi tak ada yang mau mengalah untuk saling menyapa.


"Sampai dia meminta maaf terlebih dahulu," ucap Raina dengan mata mendelik menatap Gerard yang mendengus mendengar ucapannya.


"Hah! Yang benar saja, kenapa aku harus meminta maaf terlebih dahulu," ujar Gerard tak mau kalah.


"Karena kau yang marah lebih dulu," jawab Raina sambil menatap Gerard dingin.


"Ya Tuhan, kalian berdua benar-benar seperti anak kecil!" seru Alexa sambil menggelengkan kepala.


"Dengar, kalau kalian saling mencintai seharus kalian tidak bertengkar hanya gara-gara masalah sepele seperti ini, salah satu dari kalian harus ada yang mengalah." Alexa berkata dengan bijaknya membuat semua orang menatapnya dengan sorot mata seolah mengatakan ‘yeah, yang benar saja’.


"Apa!? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Alexa setelah melihat reaksi semua orang yang menatapnya seolah dirinya adalah makhluk asing.


"Oh lihatlah siapa yang berbicara," ucap Gerard sambil menggelengkan kepala.


"Lexa, kau dan Alex bahkan bertengkar hanya karena rebutan keripik kentang," ujar Raina yang mendapat anggukan dari semuanya.


"Aku? kapan?" Tanya Lexa dengan wajah tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Biar ku ingat-ingat," ucap Daniel terlihat pura-pura berpikir, "Kemarin... kemarinnya lagi,... kemarinnya lagi... dan kemarinnya lagi, ah! Dari kau mulai belajar bicara kalian sudah mulai bertengkar," lanjut Daniel yang membuat Alexa mendelik ke arahnya sedangkan yang lainnya tertawa, bahkan kini Raina dan Gerard terlihat sudah mulai baikkan gara-gara itu, terlihat dari Raina yang tak menolak ketika Gerard menarik gadis berambut sebahu itu ke dalam pangkuannya.


"Oh percayalah, bahkan aku sendiri-pun tak percaya hal itu," ucap Alexa sambil mengambil minumanya.


"Apa yang kau tak percaya?" Alex yang baru saja datang langsung mengambil gelas dari tangan Alexa dan meneguknya sampai habis.


"Hei!" protes Alexa tapi percuma karena kini gelasnya telah tandas dan orang yang menghabiskannya hanya tersenyum dengan wajah tak berdosa.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Alex sambil menarik kursi untuk duduk di samping Alexa.


"Mereka," ucap Alexa sambil menunjuk Raina dan Gerard yang kini terlihat mesra.


"Mereka kenapa?"


"Mereka bertengkar seperti anak kecil."


"Gara-gara masalah kemarin?" Tanya Alex yang mendapat anggukan dari Alexa, "Ckk.. mereka memang seperti anak kecil kalau bertengkar hanya gara-gara hal sepele seperti itu."


"Aku sudah mengatakannya, tapi mereka malah mengatakan kalau kita yang seperti itu."


"Apa! Kapan kita bertengkar hanya gara-gara hal sepele?" tanya Alex dengan wajah tak percaya yang kembali mendapat anggukan semangat dari Alexa.


"Hei! Kami tak pernah bertengkar gara-gara masalah sepele," lanjut Alex membuat Daniel, Gerard, Raina dan Kerelyn menatap ke arah mereka.


"Apa kalian tahu kenapa kalian mendapat julukan Tom&Jerry?" Tanya Daniel sambil mengangkat alisnya.


"Karena kami lucu?" ucap Alex yang mendapat tatapan yang benar saja dari semuanya.


"Karena kami menggemaskan?" giliran Alexa yang kini mendapat tatapan yang benar saja dari semunya.


"Bukan karena alasan itu?" Tanya Alex tak percaya.


"Mereka hanya tak mau mengakuinya saja kalau kita sangat menggemaskan." Alexa berkata yang mendapat anggukan dari Alex.


"Ya Tuhan, kalian berdua memang sangat menyebalkan," ujar Raina putus asa yang hanya membuat double A tersenyum sambil mengangkat bahu santai.


"Akhirnya dia mengakui kalau kita memang menggemaskan," ucap Alexa santai.


"Ya Tuhan! Apa kalian berdua belum pernah merasakan makan botol!" seru Daniel sambil mengangkat botol minumannya.


"Kami lebih suka isinya dari botolnya, kalau kau mau kau boleh makan botolnya, kau bisa berbagi dengan Gerard, aku yakin dia juga menyukai makan botol, benarkan, G?" jawab Alex sambil tersenyum miring, membuat Daniel dan Gerard terlihat kesal sedangkan Kerelyn sudah tak bisa lagi menahan tawanya.


"Kalian berdua, hentikanlah!" ucap Kerelyn di antara tawanya sambil menatap double A, "Kalian memang terlihat menakutkan kalau sudah bersatu seperti itu."


"Apa ku bilang, tak akan ada yang bisa mengalahkan mereka berdua kalau sudah bersatu, itu sebabnya kami lebih suka melihat mereka bertengkar daripada bersatu seperti itu."


"Karena lebih aman untuk kesehatan mental kita semua." Gerard melanjutkan ucapan Daniel yang mengangguk membenarkan, sedangkan double A hanya tersenyum santai sambil menghabiskan tacos di hadapan mereka.


"Oh iya, bagaimana? Apa ada kemajuan tentang kasus kemarin?" Tanya Raina mengalihkan pembicaraan membuat Alex terdiam beberapa saat lalu mengangguk.


"James Barton, bukanlah orang yang ku tembak pada kejadian di apartemen Lexi."


"Apa!? Dia bukan orangnya?" Tanya Gerard tak percaya, begitu pula dengan semua orang yang kini menatap Alex dengan serius.


"Hasil tes DNA-nya tidak cocok dan dia tidak memiliki luka tembak di bahunya," jelas Alex yang membuat semua orang terdiam.


"Jadi orang yang menyerang apartemen Lexa tidak ada hubungannya dengan ghost?" Daniel bertanya yang mendapat gelengan kepala dari Alex.


"Dia salah satu dari mereka, hanya saja kita belum menangkapnya," jawab Alex yang membuat semua orang terdiam.


"Maksudmu masih ada anggota mereka yang belum tertangkap?"


"Iya, dan siapa-pun itu adalah orang yang kemarin tertembak saat penyerangan apartemen Lexi." Alex menjawab pertanyaan Raina.


"Apa kau sudah memiliki seseorang yang kau curigai?" Tanya Kerelyn yang membuat semua orang menatap Alex dengan serius.


"Iya, tapi aku masih belum memiliki bukti kuat," jawab Alex membuat semua orang terdiam beberapa saat dan tak berani lagi mengajukan pertanyaan lebih lanjut karena tahu kalau Don Juan NYPD itu tak akan memberitahu mereka kecuali sudah pasti, walaupun sepertinya Daniel dan Gerard sudah bisa menebak siapa orang yang dicurigai oleh seorang Alex MacKena.


Tapi mereka semua tak tahu kalau pria bermata biru itu kini bukan tengah memikirkan tersangka otak ghost, tapi ia tengah memikirkan sosok seseorang yang dilihatnya tadi siang, seseorang yang mengingatkannya kepada orang yang telah meninggal atau seseorang yang dikira semua orang telah meninggal.


*****


Haiii... sudah ada yang bisa menebak siapa King Arthur alias otak The Ghost?... clue sudah mulai disebar ya dari bab sebelumnya 😉