The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 32



"Apa maksudmu kalau DNA-nya tidak memiliki kecocokan dengan darah penyerangan apartemen Lexi?" Tanya Alex setibanya di kantor CSI dan bertemu dengan Nate, salah satu anggota CSI yang cukup dekat dengannya.


"Mereka orang yang berbeda... ini!" Jawab Nate sambil menyerahkkan selembar kertas yang memerlihatkan hasil pemeriksaan DNA yang menyatakan kalau contoh DNA yang diperiksa tidak memiliki kecocokan dengan darah yang ada pada mereka.


"Sial! Aku sangat yakin, kalau baj*ngan itu adalah orang yang aku tembak malam itu!" seru Alex sambil menggebrak meja milik Nate membuat pria kurus dan berambut berantakan itu terperanjat.


"Apa mungkin kau salah lihat?" tanyanya yang membuat Alex terdiam terlihat berpikir.


"Tidak, aku sangat yakin dengan apa yang aku lihat. Mataku dengan jelas menatap matanya malam itu."


Alex kembali terdiam terlihat berpikir, mencoba mengingat kejadian malam penembakan di apartemen Alexa. Tapi berapa kali-pun dia berpikir, dia sangat yakin kalau pria itu adalah James, mereka bahkan saling berpapasan sebelum kejadian itu dan dari postur tubuhnya Alex bertambah yakin, tapi kenapa hasil tesnya bisa sangat berbeda?


"Apa kau yakin kalau ini contoh DNA-nya?" Tanya Alex memastikan.


"Tentu saja aku sangat yakin," jawab Nate dengan penuh percaya diri membuat Alex kembali mengumpat.


"Baiklah, terima kasih karena sudah memberitahuku, Nate," ucap Alex sambil berlalu meniggalkan ruangan CSI.


"Yeah... tentu saja," jawab Nate sambil menatap ruangan kosong karena Don Juan NYPD itu telah menghilang meninggalkannya seorang diri.


Alex berjalan dengan cepat menyusuri koridur kantor NYPD yang terasa lebih ramai hari ini, ia melewati kantor Kapten dan terlihat beberapa orang dengan setelan rapi tengah berbincang dengan pria akhir 40an itu. Alex bisa menebak kalau mereka adalah FBI.


"Apa kau sudah mendengarnya?" Tanya Phillip ketika melihat Alex memasuki ruangan mereka.


"Iya, dan aku tak percaya itu... kita harus memastikan sendiri."


"Aku sudah melakukannya, tapi dia tak memiliki bekas luka tembakan di tubuhnya."


Ucapan Phillip itu membuat Alex langsung menggebrak meja hingga membuat beberapa orang rekannya menatap ke arahnya tapi ia tak peduli, ia perlu sesuatu untuk melampiaskan amarahnya.


"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Phil, aku sangat yakin kalau dia adalah baj*ngan itu!" geram Alex dengan rahang mengeras menahan amarah.


"Alex, aku sudah memikirkan ini." Phillip berkata sambil menatap Alex serius, "Bagaimana kalau orang yang kau lihat dan orang yang kau tembak adalah orang yang bebeda? Maksudku ada dua orang saat itu."


Alex menatap Philip dengan serius, seolah baru saja disadarkan dari kesalahannya selama ini.


"Sial, kau benar, Phil!" Seru Alex dengan mata terbelalak ketika menyadari sesuatu, dari kejadian semalam ia menyadari kalau ghost adalah pelaku yang bekerja secara berkelompok bukan secara perorangan.


"Mereka adalah tipe yang bekerja secara kelompok, mereka telah memainkan peranannya masing-masing." Alex mencoba menganalisa yang dapat anggukan dari Philip.


"Bradly Foster, dia adalah seorang IT handal dan Gerard mengatakan kalau dia adalah salah seorang black hacker yang cukup terkenal dikalangan para hacker, dengan kemampuannya itu ia bisa menembus keamanan mana saja, manipulasi CCTV hanya masalah kecil baginya seperti halnya Gerard, dia juga akan mudah untuk meretas keamanan manapun bahkan Phentagon sekalipun."


Alex mencoba menerangkan prediksinya satu persatu, otaknya kini seolah terbuka dan dapat menganalisa tentang kawanan perampok itu.


"James Barton, mengingat dia adalah seorang FBI yang berpengalaman di lapangan maka kita dapat pastikan kalau dia berperan sebagai eksekutor," lanjut Alex yang dapat anggukan dari Phillip.


"Dan Rebeca Duvon, dia yang akan mengurus segala sesuatu dalam bidang hukum termasuk mencari alibi yang kuat bagi mereka," ucap Phillip melengkapi analisa dari Alex.


"Kau benar... tapi sepertinya ada yang kurang di sini," ujar Alex sambil mengerutkan kedua alisnya dan menatap Phillip dengan serius, "Mereka tak mungkin bekerja hanya 3 orang, ada seseorang di belakang mereka dan dia adalah otak dari semuanya."


Ruangan itu tiba-tiba hening, kedua detektif yang telah bekerja sama cukup lama itu saling pandang dengan pemikiran di kepala masing-masing, sampai akhirnya Phillip memecah keheningan dengan hasil pemikirannya.


"Dan dia adalah orang yang kau tembak malam itu."


Alex mengangguk membenarkan hal itu, "Tapi siapa dia? Dia pastilah seorang perencana handal yang memiliki kekuasaan cukup tinggi."


Mereka kembali terdiam larut dalam pemikiran dan segala analisa yang mengisi otak keduanya, dan akhirnya mata mereka terbelalak ketika nama seseorang terlintas dalam pikiran mereka berdua secara bersamaan.


"Apa mungkin dia..."


"Dean Tyler." Alex berkata dengan mata terbelalak menatap Phillip yang mengangguk menandakan kalau ia memiliki pikiran yang sama.


"Belum terlambat. Ayo! Sebaiknya kita buktikan prediksi kita benar atau tidak," ucap Phillip sambil mengajak Alex keluar dari ruangan untuk menemui pria yang mereka curigai sebagai otak dari ghost.


Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam gedung milik Emerald group, sebuah bangunan pencakar langit yang berada di salah satu deretan gedung pencakar langit lainnya di tengah kota New York. Alex dan Phillip kini tengah duduk di ruangan Dean Tyler, sebuah ruangan luas nan megah yang menyuguhkan pemandangan Kota New York dari ketinggian.


"Apa kau tahu berapa gaji yang diterimanya bekerja di tempat seperti ini?" Tanya Phillip sambil menatap ruangan itu dengan kagum.


"Jangan bertanya, Phil, atau kau akan pingsan ketika mengetahui berapa angka nol yang berada di belakangnya," jawab Alex sambil tersenyum miring, membuat Phillip bersiul ketika membayangkan nominalnya.


Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka bersamaan dengan masuknya Dean membuat Alex dan Phillip langsung berdiri.


"Maafkan aku karena membuat kalian menunggu lama," ucap Dean sambil tersenyum ramah.


"Kami yang meminta maaf karena harus mengganggu waktumu," balas Alex sambil menjabat tangan pria itu.


"Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Dean setelah duduk di kursi disusul oleh keduanya.


"Apa kau sudah mendengar berita tentang..."


"Ghost? Ya, aku telah membacanya di koran tadi pagi dan aku tak percaya kalau mereka adalah kawanan pencuri terkenal," ujar Dean dengan sorot mata tak percaya kalau teman-temannya adalah pencuri yang paling dicari di Amerika.


"Jadi... apa yang bisa aku bantu?" lanjutnya kembali terlihat santai sambil bertumpang kaki.


"Kalau kau tidak keberatan kami hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan," ucap Phillip yang membuat Dean terdiam beberapa saat kemudian mengangguk sambil menjulurkan tangan kanannya sebagai tanda kalau dia tak keberatan.


"Aku dengar kalau kau dan James Barton sudah berteman dari jaman kuliah dulu, apa itu benar?" Phillip kembali bertanya yang mendapat anggukan dari Dean.


"Lebih tepatnya, aku mengenal Bradly ketika kuliah dan dia yang mengenalkan aku kepada James."


Jawaban Dean itu membuat Alex dan Phillip saling pandang beberapa saat.


"Jadi kau mengenal Bradly Foster lebih dulu?"


"Iya, kami kuliah di tempat yang sama dan James adalah teman masa kecilnya." Dean menjawab pertanyaan Alex.


"Bagaimana denga Rebeca Duvon?" Alex kembali bertanya dengan wajah serius.


"Aku pernah mendengar kalau mereka bertiga tumbuh di lingkungan yang sama, sebenarnya aku tak begitu mengenal Rebeca Duvon, aku hanya baru beberapa kali bertemu dengannya karena urusan pekerjaan... dia adalah salah satu tim pengacara di perusahan kami," jelas Dean membuat Alex terdiam terlihat berpikir.


"Jadi mereka adalah teman dari kecil?" Tanya Phillip.


"Iya," jawab Dean sambil mengangguk santai, "Bradly hanya mengenalkanku kepada James, sedangkan Rebeca kebetulan adalah salah satu rekan bisnisku dan ternyata mereka saling mengenal... ah, aku baru ingat, mereka pernah bercerita kalau ketika kecil mereka dipanggil three musketeers dan salah satu temannya menjadi King Arthur."


"Three Musketeers?"


"King Arthur?"


Tanya Phillip dan Alex bersamaan, yang dijawab Dean dengan anggukan.


"Iya... aku rasa semua anak-anak pasti pernah memainkan cerita dalam dongeng seperti itukan?"


Pertanyaan itu tak diacuhkan oleh kedua detektif yang kini terlihat terdiam dengan pikiran di kepala masing-masing.


"Apa kau tahu siapa yang menjadi King Arthur?" Tanya Alex sambil menatap Dean serius.


"Tidak, aku dengar kalau orang itu meninggal belum lama ini, kalau tidak salah namanya... Pier," jawab Dean terlihat ragu ketika mengucapkan nama orang yang suka memerankan tokoh raja dalam cerita three musketeers itu.


****