The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 12



"Alex, kau tak akan percaya apa yang kami temukan di kepala penjaga pameran itu."


Seorang pria bertubuh kurus, berambut pirang dan berkacamata dengan wajah penuh semangat kini duduk di depan meja Alex yang terlihat berantakan dengan berkas-bekas.


"Biar ku tebak... hmmm peluru?" jawab Alex yang membuat pria menatapnya dengan takjub.


"Ya Tuhan, bagaimana kau tahu kalau kami menemukan peluru di kepalanya?"


"Nate, semua orang tahu kalau dia ditembak di kepalanya," ucap Phillip sambil tersenyum yang membuat pria itu diam sebentar kemudian berdehem menyadari kebodohannya, melihat itu Alex hanya tersenyum sambil menggeleng.


"Tapi ini bukan peluru biasa," ujar Nate membuat Alex dan Phillip saling pandang kemudian menatap pria dihadapan mereka dengan penasaran.


"Ini!" Nate berkata sambil menyerahkan map berwarna biru yang berisi hasil otopsi dari mayat penjaga.


Phillip menggeser kursinya ke arah Alex yang kini terlihat membuka map, di dalam berkas itu terdapat foto sebuah peluru dalam ukuran 3R.


"Perhatikan baik-baik," ucap Nate dengan semangat.


Alex dan Phillip terlihat mengerutkan alis matanya memerhatikan foto itu sampai akhirnya mereka menyadari ada yang berbeda dari gambar itu dengan peluru pada umumnya.


"Ini..." Alex berkata sambil menunjuk sebuah ukiran kecil yang tercetak di bagian belakang peluru.


"Iya, itu sebuah huruf G," ujar Nate sambil mengangguk-anggukan kepala.


"G?" tanya Phillip masih terlihat bingung.


"Kalian tidak tahu arti simbol itu?" tanya Nate tak percaya, yang hanya dijawab Alex dengan mengangkat alisnya meminta pria itu untuk menjelaskan.


"Baiklah aku akan menjelaskannya secara singkat," ucap Nate sambil mendorong kursinya semakin mendekat.


"Beberapa waktu lalu aku mendengar dari rekan CSI ku di New Jersey, mereka sedang kebingungan dengan sebuah kasus perampokan di sebuah toko perhiasan terbesar di sana. Seperti hantu mereka tak terdeteksi sistem keamanan sama sekali, hanya ditemukan seorang petugas keamanan yang terbunuh dan di dalam pelurunya ada simbol G, dari sana mereka menjuluki para perampok itu dengan sebutan Ghost."


"Ghost?" tanya Phillip yang mendapat anggukan semangat dari Nate.


"Iya, tapi ternyata mereka beraksi bukan hanya di sana, aku juga mendapat kabar kalau mereka telah menjarah hampir setengah wilayah yang ada di Amerika, dan akhirnya... sampai di New York."


Alex terlihat berpikir beberapa saat sebelum akhirnya dia bertanya, "Apa belum ada petunjuk apapun dari kasus-kasus itu?"


Nate menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Alex, "Itulah kenapa mereka dijuluki Gho..ost," ucap Nate sambil menggerak-gerakan jari tangannya dengan suara seram ketika menyebut kata ghost yang berarti hantu.


"Apa tidak ada persamaan dari perampokan-perampokan itu?" tanya Phillip.


Nate kembali menggelengkan kepalanya, "Tidak, selain perhiasan tentu saja."


"Apa selalu ada korban jiwa disetiap aksi mereka?" tanya Alex, yang kali ini dapat anggukan dari pria berkacamata itu.


"Aku belum tahu pasti tentang hal itu tapi biasanya yang menjadi korban adalah para penjaga keamanan, tapi... ada yang berbeda dengan keadaan di sini," ucap Nate dengan mata berbinar membuat Alex dan Phillip menatapnya dengan penasaran.


"Apa yang berbeda?" Alex bertanya sambil menumpukan tangannya yang dilipat di atas meja dan mencondongkan badannya, sedangkan Phillip memajukan kursinya mendekati Nate.


“Kalian pasti telah mengetahui kalau sebelum perampokan ini, ada perampokan toko perhiasan terbesar disekitar Madison Avenue.”


Alex dan Phillip mengangguk, membuat Nate kembali melanjutkan ceritanya.


“Pada malam terjadinya perampokan ada seseorang yang terbunuh disekitar Madison Avenue, dan tebak apa yang kami temukan di dalam tubuhnya?”


"Peluru dengan inisial G," tebak Phillip.


"Binggo!" seru Nate sambil menepuk tangannya dan tersenyum lebar ke arah Phillip, sedangkan Alex terlihat mengerutkan keningnya ketika mendengar dimana penembakan itu terjadi.


"Tapi, korban kali ini bukan penjaga keamanan yang bertugas menjaga toko perhiasan atau apapun, dia hanya seorang mahasiswa."


"Mahasiswa?" tanya Alex terlihat serius.


"Iya, dia adalah seorang mahasiswa di NYU, dan tidak ada hubungan apapun dengan segala macam perhiasan."


Alex kembali terdiam terlihat berpikir, kini kedua tanganya dilipat di atas dada dan badannya disandarkan ke sandaran kursi.


"Jadi kenapa mereka membunuhnya?" tanya Alex yang membuat Nate mengangkat bahu dan menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Apa kau tahu siapa yang menangi kasus ini?" Ia kembali bertanya yang kali ini mendapat anggukan dari Nate.


"Kau bisa bertanya tentang kasus ini kepada Jake," jawabnya yang mendapat anggukan dari Alex yang kini telah berdiri dari kursinya.


"Terima kasih, Nate, kau sangat membatu kami," ucap Alex sambil menepuk bahu pria dari bagian CSI itu sebelum dia berjalan ke arah meja Jake.


*****


Alexa baru saja kembali dari makan siang ketika dia melihat sebuah karangan bunga mawar merah di atas mejanya, dia mengerutkan keningnya dan dengan ragu mengambil kartu yang tersemat di antara kuntum bunga. Dia langsung membuang napas berat ketika membaca pesan yang tertulis di atas kartu berukuran kecil itu.


"Satu.. dua.. tiga.. karma semakin mendekat, semua orang bersembunyi."


"Hallo, ini aku Alexa, apa kau tahu siapa yang mengirim bunga untukku?" tanyanya dengan serius.


"Kurir mengatakan kalau itu dari salah satu penggemar anda, Miss. Winchester," jawab sang customer service yang membuat Alexa memejamkan matanya sambil membuang napas berat.


"Baiklah terima kasih... tunggu dulu!" Serunya ketika ia baru saja akan menutup telepon itu, "Bisakah kalau lain kali ada kiriman bunga untukku, kalian menghubungiku biar aku yang menerimanya langsung?"


"Iya, tentu saja, lain kali kami akan menghubungimu."


Alexa menutup teleponnya lalu terdiam terlihat berpikir sambil memerhatikan kartu ucapan yang membuatnya bingung, lalu kemudian memasukan kertas bergambar hati itu ke dalam tasnya untuk nanti diperlihatkannya kepada Alex.


"Hai, Em, bagaimana keadaanmu?" tanya Alexa setelah dia melihat Emily menghubungi ponselnya.


"Perutku semakin besar dan aku terlihat seperti paus yang terdampar, tapi Dylan mengatakan kalau aku paus tercantik."


Alexa tertawa mendengar jawaban kembarannya itu.


"Percalah, Em, secantik-cantiknya paus tetaplah paus," ucap Alexa dengan nada bercanda.


"Ah, kau benar, seharusnya aku tak mudah kena rayuan seperti itu."


Alexa kembali tertawa, "Jadi, kapan keponakanku akan lahir."


"Well, dokter mengatakan itu sekitar minggu-minggu ini, dan kami sudah tak sabar untuk melihatnya."


"Aku juga! Ya Tuhan, dia pasti akan setampan ayahnya.. Em! Jangan katakan kepada Dylan kalau aku memujinya tampan."


"Sudah terlambat, aku mendengarnya, Lexa."


Suara Dylan membuat Alexa tersenyum sambil membulatkan matanya, "Hei, Bos, apa yang kau lakukan di rumah jam segini? Bukankah seharusnya kau di kantor?"


"Well, aku baru tahu kalau ternyata menjadi Bos itu sangat menyenangkan, kau bisa datang ke kantor sesuka hati kita tanpa ada yang memarahi."


Alexa tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu, "Hei, apa kau baru menyadari itu? Aah.. sepertinya aku harus mencari kekasih seorang pewaris perusahaan sepertimu, jadi aku bisa meminta sebuah perusahan mode diriku sendiri sebagai hadiah ulang tahun."


Alexa bisa mendengar Dylan dan Emily tertawa mendengar khayalannya itu.


"Tapi sekarang kau berpacaran dengan seorang detektif terhebat NYPD."


"Bagaimana kalian tahu!" seru Alexa tanpa sengaja meninggikan suaranya membuat beberapa rekannya menatapnya lalu dia tersenyum sambil berdiri dan pergi dari sana menuju toilet.


"Jadi itu benar?" tanya Emily tak percaya.


"Dia menjebakku! Aku tak pernah setuju untuk menjadi kekasihnya."


"Hmm, menurutku kalian pasangan yang sangat cocok."


"Yeah, yang benar saja, Em."


"Aku setuju dengan istriku, kalian pasangan yang cocok."


"Dylan, kapan kau tidak setuju dengannya? Kau selalu setuju apapun yang dikatakan Em." Dylan tertawa mendengar ucapan adik iparnya itu.


"Aku harus melakukan itu, kalau tidak dia akan menangis seperti bayi.. aww!"


Alexa tersenyum mendengar suara kesakitan Dylan yang pasti disebabkan oleh istri tercintanya itu.


"Ok, yang pasti aku tak pernah setuju untuk berpacaran dengannya, dan ku pikir dia hanya bercanda saja ketika mengatakan hal itu."


"Well, kau tak pernah tahu apa isi hatinya yang sebenarnya, Lexa," ucap Dylan membuat Alexa terdiam, "Tapi yang pasti aku pernah melihatnya begitu terpukul, cemas dan hancur ketika melihatmu tertembak waktu itu, melebihi kami semua," lanjut Dylan yang kali ini sukses membuat jantung Alexa sedikit berdetak kencang.


"Lexa, Daniel pernah berkata seperti ini kepadaku... jangan tanyakan kepada kepalamu tentang perasaanmu karena cinta tak lahir dari logika, tapi tanyakan pada hatimu karena cinta lahir dari perasaan termurnimu. Jadi... sebaiknya kalian berciuman dan setelah itu kita lihat apa jantungmu berdetak kencang atau biasa saja."


"Em! Ya Tuhan, yang benar saja," ujar Alexa sambil tertawa, "Dylan, apa yang sudah kau lakukan kepada kembaranku yang sangat polos itu?"


"Aku hanya mengajarinya sedikit saja," Jawab Dylan yang membuat Alexa tertawa.


"Baiklah, aku harus kembali bekerja, aku akan menghubungi kalian lagi nanti."


Alexa baru akan menutup ponselnya ketika mendengar Emily berteriak memanggil namanya.


"Lexa! Jangan lupa untuk berciuman, ok."


"Em!" seru Alexa sambil tersenyum dan menggeleng, kemudian menutup ponselnya dan keluar dari toilet itu setelah merapihkan rambut coklat pajangnya.


*****


Haiii.. bonus double update khusus buat yg long week end ga kemana-mana kaya aku 😪, mudah"an suka.. love 💓A.K💓