The Power Of The System

The Power Of The System
BAB 79



Setelah semuanya selesai, Zeiro pun keluar dari ruangannya dan melihat Grizzla yang bengong duduk di sofa.


"Ayo aku antar, ini juga sudah malam," ajak Zeiro.


"Iya." angguk Grizzla.


Mereka pun beranjak dari tempat dan keluar dari perusahaan.


Zeiro dan Grizzla masuk ke dalam mobil.


Mobil pun melaju di jalan.


"Kamu ada yang ingin di beli nggak?" tanya Zeiro.


"Enggak," jawab Grizzla menggeleng.


"Ya udah, kalau gitu kita langsung pulang aja." Zeiro menambah kecepatan laju mobilnya menuju rumah Grizzla.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Grizzla.


"Ayo masuk dulu," ajak Grizzla.


"Kamu sendirikan tahu kalo orang tua kamu nggak suka sama aku, aku juga nggak enak kalo mereka nanti jadi emosi lihat aku," ucap Zeiro.


"Hm … ya udah, aku pulang dulu ya, kamu juga hati-hati di jalan," pesan Grizzla turun dari mobil Zeiro.


Zeiro pun melajukan mobilnya dan arah pulang.


Triring! Triring!


Triring! Triring!


"Halo," jawab Zeiro.


"Bos gawat!" teriak Zeldy dari telpon.


"Iya aku di menjadi tersangka pembunuhan, padahal bukan aku yang bunuh. Tadi aku …."


"Katakan di mana alamat mu, aku akan ke sana, masalahnya ceritakan sana nanti," potong Zeiro.


"Eh iya, aku ada di jalan Mahoni nomor 30," jawab Zeldy.


"Baiklah, kamu tunggu di sana, jangan pergi sebelum aku datang," ucap Zeiro menutup panggilannya dan ia menambahkan kecepatan mobilnya menuju tempat tujuannya.


"Sial! Kenapa Zeldy bisa jadi tersangka, lihat saja nanti! Yang membuat Zeldy kambing hitam aku tidak akan melepaskannya!" ucap Zeiro geram.


Perjalanan yang memakan waktu beberapa menit itu akhirnya ia pun sampai di lokasi kejadian. Di sana sangat ramai, ada polisi dan petugas forensik yang sedang bertugas.


Zeiro berlari ke arah Zeldy yang di mana tangannya sudah di borgol.


"Zeldy! Kamu baik-baik saja kan?" tanya Zeiro khawatir.


"Aku enggak baik-baik saja Bos, lihatlah tangan ku di borgol dan aku menjadi tersangka pembunuhan, bagaimana ini Bos," rengek Zeldy.


"Ya sudah ceritain pelan-pelan," ucap Zeiro.


"Tadi saat aku ingin pulang ke rumah Bos, ada mobil yang terparkir, karena merasa aneh aku berhenti dan memeriksa isi mobil itu. Aku melihat ada seorang wanita yang terbaring di dalam, aku memeriksanya karena ia tidak bergerak, jadi aku memegangnya dan ternyata aku memegang tubuhnya yang berdarah. Mendadak saja ada seorang pria yang datang tiba-tiba langsung menuduhku karena sudah membunuh wanita itu. Bagaimana pun aku membela tapi semua bukti mengarah pada ku, termasuk sidik jari dan darah yang menempel di tanganku. Bos tolongi aku ya," ucap Zeldy dengan wajah sedih.


"Begitu ya, baiklah, aku akan menolong mu," ucap Zeiro melihat ke arah para polisi itu.


"Aku akan mengungkapkan pelaku yang sebenarnya," ucap Zeiro membuat semua mata memandang ke arah Zeiro.


"Apa yang bisa kamu lakukan untuk mengungkap pelakunya?" tanya seorang detektif polisi yang maju ke depan.


"Aku akan memulai dari mobil ini kenapa bisa terparkir di sini. Apa di sini tidak ada CCTV?" Zeiro balik bertanya.


"Jika ada untuk apa kami memeriksa seperti ini," ucap detektif polisi itu.


"Oke baiklah, jadi aku minta pada kalian jangan larang aku untuk memeriksanya," ucap Zeiro menatap detektif itu lalu berjala menuju mobil itu.