
"Tuan, maaf tidak menyambut Anda karena saya pikir itu akan lama, maafkan saya Tuan," ucap Alina membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa, oh ya katanya ada barang masuk, di mana?" tanya Zeiro.
"Ada di gudang Tuan, apa Anda ingin melihatnya?" tanya Alina.
"Iya." angguk Zeiro.
"Mari Tuan," ucap Alila berjalan terlebih dahulu menunjukkan jalan dan Zeiro pun mengikuti Alina dari belakang.
Pegawai itu langsung menutup mulutnya, karena pria yang ia sebut gigolo tadi rupanya bosnya.
"Ya ampun, untung saja di tidak mendengar perkataan ku tadi," ucap pegawai itu ketakutan sambil menepuk-nepuk mulutnya.
"Ini gudang penyimpanannya Tuan," ucap Alina menunjukkan gudang yang penuh baju.
"Lalu di mana baju yang baru masuk tadi? Berapa semuanya?" tanya Zeiro.
"Barang yang baru masuk tadi di sebelah sini Tuan, dan semuanya masuk 10 juta, kata kepala pabrik itu dananya di kirim lewat rekening aja dan ini nomor rekeningnya," ucap Alina mengeluarkan sebuah kartu nama dari kantongnya dan memberikan kepada Zeiro.
Zeiro menerimanya dan melihat kartu nama itu.
"Ya sudah, aku kirimkan. Oh ya, uang dari penjualan ini di mana?" tanya Zeiro.
"Sudah di ambil sama pemilik lama Tuan, jadi penjualan hari ini akan menjadi milik Anda," jelas Alina.
"Oh, begitu ya." Zeiro pun mencatat nomor rekening tersebut lalu mengirimkan sejumlah uang kepada rekening tersebut.
[Ding Ding]
[Uang Anda di kurang 10.000.000]
"Berapa orang pegawai di sini?" tanya Zeiro melihat ke dalam gudang. Ada 2 orang pria dan satu perempuan sedang membereskan gudang tersebut.
"Ada 7 pekerja termasuk saya Tuan," jawab Alina. Zeiro mengangguk.
"Mari Tuan, saya ajak berkeliling, mungkin ada tempat yang ingin Anda ketahui," ucap Alina.
"Baiklah, biar bagaimana pun, saya harus tau tempat ini," jawab Zeiro mengangguk setuju. Alina berjalan terlebih dahulu dan ia menunjukkan ruangan tempat istirahat para pekerja jika siang hari, ruang pemilik toko. Ada garasi kendaraan kendaraan juga.
Setelah semuanya di lihat, Zeiro dan Alina kembali berjalan menuju tokonya.
Saat baru saja sampai di pintu utama, terlihat 2 orang pemulung sedang mengorek Yong sampah di depan tokonya yang berjarak 3 meter darinya.
Zeiro menekuk alisnya melihat ke arah dua pemulung itu. Rasanya kenal tapi takut salah.
"Ehem! Ngapain Bang?" sapa Zeiro. Kedua pria itu melihat ke arah Zeiro dan mereka sama-sama terkejut.
"Kamu?" pria yang Zeiro kenal itu menunjuk ke arah Zeiro.
"Alina, ambilkan beberapa baju untuk para mereka ini," perintah Zeiro sambil melihat ke arah para orang yang ia kenal itu.
"Baik Tuan." angguk Alina masuk ke dalam dan mengambil beberapa pakaian dan masuk ke dalam plastik.
Mereka adalah orang yang dulu juga mengusirnya dari jembatan, padahal sesama tinggal di bawah jembatan. Entah apa salahnya waktu itu, mengusik mereka tidak pernah, tapi mereka sakit hati dengannya hingga ia terluntang lantung mencari tempat tinggal baru. Begitulah hidup, jika ingin hidup harus bertahan dalam keadaan apa pun, termasuk di maki dan di hina.
Mereka terdiam sambil menatap Zeiro. Ingin bertanya tapi segan. Jika tidak bertanya tapi penasaran.
"Tanya kan apa yang ingin kalian tanyakan," ucap Zeiro saat mereka melihat toko itu.