
Akan tetapi, tiba-tiba saja kedua pria itu bangun dan mereka meronta-ronta di dalam mobil, terpaksa pria itu memberhetikan mobilnya. Zeiro juga memberhentikan mobilnya juga di belakang mobil pria itu.
Kedua pencuri itu berusaha untuk kabur dan membuka pintu mobil itu, Zeiro pun langsung berlari lagi dan menangkap pencuri yang hendak kabur itu.
"Kamu urus yang satunya, biar aku urus yang satu ini," ucap Zeiro.
"Baiklah, terima kasih Tuan." angguk pria itu.
Zeiro membawa masuk pria yang satu itu ke dalam mobilnya lalu mendudukkannya di kursi depannya.
Pencuri itu melawan dan ingin meninju Zeiro, Zeiro menghindar dan ia pun memukul kepala bagian belakang pria itu hingga pingsan.
"Dasar pencuri," denggus Zeiro membetulkan posisi duduk pria itu. Zeiro melihat ke arah mobil yang ada di depannya. Sepertinya pria itu kewalahan melawan pencuri yang satunya lagi karena dia terus melawan. Zeiro pun datang dan ia memukul wajah pria itu dua kali dan membuat pencuri itu kembali pingsan.
Pria berjas itu menyengir, karena Zeiro bisa mengatasi masalah dengan cepat.
"Terima kasih banyak Tuan," ucap pria itu lagi.
"Ya sudah, lanjut lagi jalannya," ujar Zeiro dan mereka kembali masuk ke dalam mobil.
Perjalanan beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di sebuah rumah mewah, pria itu memberhetikan mobilnya di depan perkarangan rumah itu dengan menyeret pria itu keluar dari mobil.
Zeiro mengangkat pria itu mendekati pria berjas itu.
"Ini rumah kamu?" tanya Zeiro.
"Bukan, ini adalah rumah tempat aku bekerja, tas yang kamu selamatkan itu adalah berkas-berkas penting yang bos suruh bawakan ke rumahnya. Karena mereka pencurinya sekalian saja aku membawa mereka," ucap pria itu tersenyum.
Mereka berdua pun membawa kedua pencuri itu masuk ke dalam rumah itu. Terlihat Susi kiri dan kanan adalah pengawal yang menjaga rumah ini.
Zeiro sedikit merasa aneh, pengawal pemilik rumah cukup banyak, lalu kenapa pria berjas ini membawa berkas penting sendirian dan tidak di kawal?
"Bisakah Anda memanggil bos?" tanya pria berjas itu kepada kepala pelayan rumah besar itu.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi Tuan, Zeldy ingin bertemu dengan Anda," ucap kepala pelayan.
"Oh, dia sudah datang ya," ucap pemilik rumah itu tersenyum sinis.
Ia pun keluar dari ruang kerjanya dan menuju rumah tamu. Tapi ia terkejut karena bukan seperti apa yang ia pikirkan. Ia mengeryitkan matanya melihat kedua orang yang pingsan di depan Zeldy.
Zeldy sendiri adalah asisten dari pemilik perusahaan besar itu yang bernama Josy.
"Bos, ini adalah pencuri yang sudah berusaha mencuri berkas penting Anda, berkat bantuan Tuan ini akhirnya pencurinya ini bisa di tangkap.
Josy terdiam dan menatap kedua pria yang berangsur-angsur membuka matanya sambil memegang kepalanya yang sakit.
"Aduh … kepala ku sakit sekali," ucapnya mengeluh dan ia melihat Josy yang ada di depannya.
"Tuan … Tuan … kami minta maaf, kami tidak bisa melakukan dengan baik, kami janji akan melakukan kali ini dengan benar," ucap mereka merangkak ke arah Josy.
Josy menatapnya tajam lalu menendang wajah kedua pria itu hingga mereka terjungkang.
Zeldy sangat terkejut karena kedua orang pencuri itu kenal dengan bosnya, dan membuatnya terkejut lagi adalah mereka mengatakan jika mereka tidak melakukannya dengan baik yang berarti mereka bekerja sama.
"Bos, apa maksud semua ini?" tanya Zeldy dengan mata berkaca-kaca.
"Karena kamus sudah tahu maka akan langsung aku beri tahu saja, bahwa … mereka adalah orang suruhan ku. Aku melakukan ini agar bisa memecat mu karena kau sudah tidak membutuhkan mu lagi, aku sudah orang yang bekerja lebih baik dari mu, dia adalah More," ucap Josy.
Seorang pria yang bernama More bertubuh tegap tampan dan juga sangat terlihat orang berpendidikan datang berdiri di samping Josy.
Zeldy terlihat gagap dan menarik nafas berat.