The Power Of The System

The Power Of The System
BAB 35



"Hey kalian, sedang diskusi apa?" tanya Alina saat melihat orang karyawan itu berbisik-bisik.


"Tidak kak," jawab mereka melanjutkan pekerjaannya.


Alina pun berjalan keluar dari gudang penyimpanan itu.


"Kak Alina!" panggil pegawai itu. Alina memberhetikan langkahnya dan melihat kebelakang.


"Ada apa?" tanya Alina.


"Kak, kenapa sih kerjaan tetap keras, padahal ini kan bos baru, santai sedikitlah kerjanya, lagian bos juga seperti tidak peduli dengan tokonya," ucap pegawai itu mengeluh.


"Kamu nggak dengar dia bilang apa tadi? Kalau rajin kerjanya maka akan ia lebihkan gajinya, kalau nggak rajin berarti gajinya bisa saja di kurangi, itu artinya kalau dia akan memperhatikan kita dari cctv," ucap Alina mengingatkan.


Mereka pun terdiam dan Alina pun pergi keluar. Zeldy menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Inilah ciri-ciri orang yang mau gajinya, tapi nggak mau kerja,' batin Zeldy yang terus memilih baju yang akan di letakkan di toko.


Zeiro singgah di restoran sejenak untuk mengisi perutnya yang kosong, dan juga ini sudah senja.


Zeiro pun memberhentikan mobilnya di sebuah restoran khusus sea food. Zeiro pun masuk ke dalam restoran.


Zeiro duduk di kursi nomor 6 dan duduk di tepi jendela.


"Tuan ini buku menunya," ucap salah satu pegawai memberikan buku menu di atas meja membuat Zeiro tersadarkan karena ia melihat ke luar jendela.


"Eh, iya." angguk Zeiro mengambil buku menu itu dan melihat isi dalamnya.


Mereka pun berbincang-bincang.


"Aku mau yang ini dan ini saja," ucap Zeiro menunjuk gambar kepiting dan jus jeruk.


"Baik, harap menunggu sebentar ya," ucap pegawai restoran itu mengambil buku menunya dan ia pun pergi ke dapur dan datang lagi pegawai yang lain datang ke meja nomor 5.


Setelah mereka semua memesan makanan pegawai itu pun pergi.


"Hey Yudi, bukankah waktu itu kamu bilang orang tua mu ingin menjodohkan mu dengan gadis yang masih SMA itu, hm … siapa namanya itu?" tanya temannya.


"Grizzla," jawab pria yang di panggil Yudi itu.


Zeiro langsung terkejut saat mendengar nama wanita yang ia kenal itu di sebut, akan tetapi ia tidak melihat ke belakang, jika tidak pasti akan ketahuan.


"Iya, tapi nggak jadi karena aku nggak setuju dua berteman dengan siapa pun, aku juga mendengar jika dia kemaren malam tidak pulang ke rumah, entah kemana dia kelayapan, wanita tidak penurut itu hanya cocok di jadikan mainan saja," ucap Yudi mendengus kesal.


"Kamu ini, dia itu anak orang kaya, kalau kamu sudah menikah dengannya nanti mau tidak mau dia pasti akan menjadi penurut, kamu adalah lelaki, jangan sampai wanita berkuasa, kalau untuk saat ini oke lah, kamu menurut saja kerena belum dapat," saran temannya sambil tertawa.


"Bicara tentang bermain, bagaimana jika kita bermain di klub malam, aku sudah tidak sabar melihat wanita cantik, se ksi yang aduhai. kita akan bermain dengan sepuasnya di sana," saran temannya yang lain.


"Boleh, aku setuju, tapi di klub mana?" tanya temannya yang berjas abu-abu.


"Bagaimana kalau klub matahari, katanya di sana banyak wanita baru yang masih polos, itu pasti akan sangat mengasikkan," saran pria berambut panjang.