
"Pantas saja bos sengaja menyuruhku untuk membawa berkas sepenting ini menyuruhku sendiri untuk membawanya tanpa pengawal. Rupanya inilah tujuan mu untuk menyingkirkan ku, tapi kenapa harus pakai cara ini? Kenapa tidak langsung mengatakan jika bos sudah tidak membutuhkan ku lagi, jika seperti ini bagaimana jika berkasnya rusak atau mereka bawa entah ke mana, bisa-bisa rahasia perusahaan bos akan di curi," ucap Zeldy.
'Astaga anak ini! Di saat ia sudah di pecat pun masih memikirkan perusahaan bosnya, sungguh polos,' batin Zeiro.
"Itu bukan berkas penting yang kamu bawa, berkas penting itu sudah ada di laptopku, mana mungkin aku salin di lembar kertas," ucap Josy.
Zeldy menatap Josy dengan menelan air ludahnya kemudian ia menunduk. "Bos, aku sudah bekerja dengan mu sudah bertahun-tahun lamanya, tapi karena hanya dengan orang baru kau melepaskan ku, aku melakukan kesalahan apa? Apa yang kurang dariku selama melayani mu? Aku sudah bekerja dengan mu sangat lama dan sudah tahu apa yang kau sukai dan yang tidak kau sukai, tapi ternyata aku tidak tahu apa yang kau inginkan," ucap Zeldy tersenyum getir. dari alur wajahnya menetes bulir bening yang jatuh ke lantai. Ia menjatuhkan tas yang sedari tadi ada di tangan ke lantai.
"Ya, yang ku inginkan adalah orang yang sempurna, untuk bekerja dengan ku, kau hanyalah seperti ban serap yang hanya diperlukan saat di butuhkan, tapi sekarang kau sudah tau jika aku tidak membutuhkan mu lagi, jadi jangan datang lagi ke perusahaan ku untuk bekerja lagi. Mose berikan uang kepadanya," perintah Josy kepada Mose.
Mose mengeluarkan amplop berwarna coklat yang di dalamnya ada sejumlah uang dan melemparnya tepat di kaki Zeldy.
Zeldy menatap amplop coklat di bawah kakinya itu, ia pun membalikan badan tanpa mengambil sepeser uang itu dan meninggalkannya begitu saja. Ia pun pergi dengan langkah gontai.
Zeiro menarik nafas dan ia pun mengikuti Zeldy dari belakang. Zeldy berhenti di depan mobil dan membaringkan kepalanya di atas mobil dengan menutupnya dengan kedua tangan.
Zeiro berdiri di samping dan menatap Zeldy yang sedang menangis.
"Kenapa sih aku malah di khianati oleh orang yang paling aku percaya, aku benar-benar payah," ucapnya sambil menangis.
"Jika dia tidak menghargai mu lagi, maka cari orang yang bisa menghargai mu. Suatu saat nanti kau pasti akan menyesal karen sudah membuang mu, orang yang sudah setia padanya selama ini," ucap Zeiro menghiburnya.
"Ya sudah lah, aku kembali kerja di sawah saja," ucap Zeldy mengangkat kepalanya dan menyeka air matanya.
"Hm … kamu mau kerja di tempat ku?" tanya Zeiro.
"Aku punya toko baju, mau kau kerja di sana? Kalau mau kerja ayolah ke toko ku sekarang," ajak Zeiro.
"Ah beneran, ya udah ayo." angguk Zeldy.
"Ayo masuk ke dalam mobil ku saja," ucap Zeiro duluan masuk ke dalam mobil dan Zeldy juga mengikuti Zeiro masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju di jalanan.
"Oh ya, nama kamu siapa?" tanya Zeldy.
"Oh ya, aku juga lupa. Namaku Zeiro, nama kamu siapa?" tanya Zeiro melihat Zeldy sambil tersenyum.
"Eh, nama kita hampir sama, jangan-jangan kita kembaran yang terpisah. Nama ku Zeldy," ucap Zeldy tersenyum setengah ketawa.
'Astaga! Dia ini cepat sekali berubahnya, baru saja bersedih, eh udah ceria lagi, benar-benar lucu,' batin Zeiro tersenyum.
"Kamu punya keluarga?" tanya Zeiro.
"Ada, tinggal sama paman ku dan bibi ku, kamu gimana?" tanya Zeldy.
"Aku nggak punya siapa-siapa, aku hanya hidupku yang berharga," jawab Zeiro menatap kedepan.