The Power Of The System

The Power Of The System
BAB 27



"Eh, kamu tahu nggak? Amela?"


"Ada apa dengan Amela?" tanya Grizzla.


"Dia tadi di tembak sama anak idiot itu, sangat lucu, dia saja menangis saat di ejek anak-anak tadi," ucap Sila.


Grizzla melihat ke arah Zeiro, ia merasa tidak enak karena teman-temannya malah menceritakan hal tentang keburukan. Zeiro menatap Grizzla sekilas lalu ia mengambil ponselnya dan memainkan ponselnya.


Grizzla terus menatap Zeiro di saat teman-teman sedang berbicara, mereka ke sini untuk makan malah di ganggu oleh teman-temannya, Grizzla merasa bersalah karena tidak mempedulikan Zeiro padahal ia sudah banyak membantu dirinya dari penyelamatan waktu kecelakaan dan juga sudah membiarkan dirinya menumpang di rumah Zeiro.


Tak lama pegawai pun datang membawa makanan pesanan Zeiro dan Grizzla.


"Silakan," ucap pegawai itu meletakkan makanan itu di atas meja. Dan datang juga pegawai yang lain membawa buku menu mengantarkan kepada teman-teman Grizzla.


Karena di tempat duduknya saat ini ramai, Zeiro pun mengambil piring makanannya pindah ke meja lain agar bisa makan dengan tenang. Ia pun menyantap makanannya tanpa mempedulikan mereka semua, toh mereka juga tidak peduli dengan keberadaannya.


"Aku mau makan nih," ucap Grizzla mengambil piring miliknya dan ingin berdiri.


"Mau ke mana kamu? Makan di sini ajalah, kan kami juga makan," ucap Lucas menarik tangan Grizzla membuat Grizzla kembali duduk.


Lucas melihat ke arah Zeiro yang sedang asik dengan makanan. Ia menatapnya dengan tatapan benci, kenapa bisa Grizzla itu malah mengenali pria sepertinya.


Triring! Triring! Triring!


Sebuah panggilan masuk ke ponsel milik Zeiro dan ia segera mengangkatnya.


"Halo," jawab Zeiro.


"Apa ini bersama Tuan Zeiro Alfero?" terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.


"Ya saya sendiri," jawab Zeiro.


"Oh begini Tuan, nama saya Alina, saya di jabat sebagai kepala toko untuk mengurus segala sesuatu tentang toko ini dari pemilik sebelumnya. Berhubungan Anda adalah pemilik toko baju ini jadi ada barang-barang yang baru masuk, jadi ini bagaimana menurut Tuan?" tanya Alina.


"Baik Tuan." angguk Alina. Panggilan pun di putuskan. Zeiro segera menghabiskan makanannya dengan cepat agar ia bisa melihat toko barunya itu.


Terlihat seorang pegawai yang sedang berjalan menuju meja lain, Zeiro pun memanggilnya.


"Mbak!" panggil Zeiro.


"Ya sebentar," jawab pegawai itu


ia mengangguk. Setelah selesai dengan pengunjung yang lain, pegawai itu menuju meja Zeiro.


"Ada apa?" tanya pegawai itu.


"Saya ingin bayar, berapa semuanya?" tanya Zeiro. Pegawai itu melihat piring di meja dan ia menghitung jumlah.


"Semuanya 200 ribu," jawab pegawai itu. Bisa bayar pakai kartu?" tanya Zeiro.


"Bisa Tuan, ini mesinnya," ucap pegawai itu meletakkan mesin pembayaran di atas meja. Zeiro mengeluarkan kartu Black card-nya lalu menggesek di mesin pembayaran tersebut.


[Ding Ding]


[Uang Anda di potong 160.000]


[Sisa uang Anda 22.400.000]


"Terima kasih Tuan, silakan kembali," ucap pegawai itu.


"Iya sama-sama." angguk Zeiro. Ia pun berdiri sekilas ia melihat ke arah Grizzla.


'Dia sudah bertemu dengan teman-temannya, mereka pasti akan sibuk mengerjakan tugas yang dia maksud,' batin Zeiro. Ia pun berjalan meninggalkan mejanya dan menuju pintu utama restoran untuk pergi.