
"Zeiro, kamu mau ke mana?" panggil Grizzla berdiri.
"Aku mau pergi," jawab Zeiro tanpa menoleh ke arah Grizzla.
"Aku ikut dengan mu," ucap Grizzla mengatup kedua bibirnya berharap jika Zeiro menyetujuinya.
"Nggak usah, kamu dan teman-temanmu kan ingin mengerjakan tugas. Selesaikan dulu tugas mu, nanti setelah selesai telpon aku nanti," ucap Zeiro berjalan keluar restoran tanpa menunggu jawaban dari Grizzla.
Grizzla menatap punggung pria yang ia kenal itu pergi masuk ke dalam mobil, ia merasa benar-benar tidak enak hati.
'Mungkinkah Zeiro marah pada ku karena aku malah bersama mereka? Aku haru gimana nih?' batin Grizzla menarik nafas berat.
"Dia siapa kamu sih sampai segitunya," ujar Lucas dengan wajah masam.
"Dia adalah penyelamat ku, aku berhutang padanya," jawab Grizzla pelan dan masih menatap ke arah depan meskipun Zeiro sudah tidak ada di sana lagi.
"Kan tinggal bayar aja berapa yang kamu hutangi itu," sahut Sila.
"Ini bukan tentang uang, tapi ini tentang nyawa, jika bukan dia yang menyelamatkan ku, mungkin aku sudah tidak ada sekarang," jawab Grizzla terduduk sedih. Ia menarik nafasnya dan menghempaskan dengan pelan.
'Sial! Dia pikir karena dia menyelamatkan Grizzla lalu dia sengaja membuat Grizzla merasa bersalah, dengan gitu dia bisa memanfaatkan Grizzla agar Grizzla jatuh cinta padanya? Dasar penjahat! Lihat saja nanti, aku akan membereskan mu,' batin Lucas menyipitkan matanya dan mengatupkan rahang.
Mobil Zeiro terus melaju, rasanya sedikit sepi saat tidak mendengar celotehan Grizzla. Tapi ia sadar, dirinya tidak boleh egois meminta Grizzla untuk berteman dengannya, ia juga kehidupannya sendiri. Perbedaan mereka juga berbeda, Grizzla bersekolah sedangkan ia tidak. Grizzla pasti menyibukkan dirinya dengan tugas-tugas sekolah.
"Wah, nggak nyangka aku punya toko baju, padahal dulunya karena mau beli baju aja aku sampai di gebukin," ucap Zeiro tersenyum melihat toko baju yang lumayan besar.
Ia pun keluar dari mobilnya setelah memperhatikan beberapa saat. Zeiro menghampiri toko baju itu dan pegawai toko baju itu menghampiri Zeiro.
"Tuan Anda ingin beli baju seperti apa? Semuanya ada di toko kami," ucap pegawai itu tersenyum manis.
"Hm … aku ke sini ingin menemui Alina, di mana dia?" tanya Zeiro. Pegawai itu menekuk alisnya. Sejak kapan Alina berteman dengan anak remaja, dan mengapa juga pria di hadapan mencarinya? Jangan-jangan Alina bermain bersama brondong.
"Oh di ada di gudang penyimpanan barang," jawab pegawai itu.
"Bisa panggilkan, soalnya dia yang menelpon ku untuk datang tadi," ujar Zeiro.
"Sebentar." angguk pegawai itu. Ia pun pergi ke belakang tempat penyimpanan barang.
"Hm … sudah ku duga, ternyata Kak Alina bermain sama brondong, kenapa dia tidak mencari yang seusianya saja, ternyata di balik lembut dan baik hatinya malah dia sangat bejat," omel pegawai itu.
"Kak Alina, ada yang mencarimu!" panggil pegawai itu dari mulut pintu.
"Oh iya." Alina pun langsung keluar dan berlari ke depan.
"Astaga! Dia bahkan tak sabar ingin bertemu dengan brondong itu, apa jangan-jangan dia adalah gigolo," tebak pegawai itu menggelengkan kepalanya. Ia pun berjalan kembali menuju ke arah depan ingin melihat apa yang di lakukan Alina.