
Setelah cukup Zeiro pun kembali melajukan mobilnya untuk menuju ke perusahaan itu kembali.
"Di mana orangnya?" tanya CEO itu.
"Sebentar Tuan, saya panggilan kan orangnya," ucap satpam itu masuk antara kerumunan itu dan ia pun keluar dari perusahaan mencari Zeiro.
Terlihat mobil datang mendekat dan itu adalah Zeiro. Zeiro pun keluar dari kendaraan yang dikendarainya.
"Ini dia bilang keroknya, cepat! CEO ingin bertemu dengan mu," ucap petugas keamanan itu menarik tangan Zeiro membawa ke tempat keramaian itu.
"Tuan! Tuan! Ini orangnya!" panggil petugas itu.
CEO itu melihat ke arah Zeiro dengan tatapan tajam. Zeiro malah menyengir.
"Apa maksud Anda berbuat ini?" tanya CEO itu.
"Hm? Aku tidak berbuat apa pun, mereka hanya datang untuk menuntut hak mereka, jadi aku katakan aku bisa membayar gaji mereka jika aku bisa mengakusisi perusahan ini, tapi jika perusahaan ini tidak bisa aku miliki bagaimana aku akan membayar mereka. Yang mereka inginkan adalah hak mereka, tidak lebih dari gaji mereka itu saja. Pikirkan bagaimana kau membayarnya," ucap Zeiro.
"Tidak perlu kamu pikirkan bagaimana cara aku membayarnya karena ini bukan urusan mu!" ucap CEO itu dengan membelalakkan matanya.
"Aku bawa uang sekarang, apa kalian mau uang?" tanya Zeiro kepada para karyawan itu.
"Mauuuu! Pak saya nggak mau tau mau perusahaan bangkrut atau tidak, tapi karena ada yang ingin membayar gaji kami maka bapak harus memberikan perusahaan bapak kepada dia sekarang juga!" ucap karyawan itu dengan panas membara.
"Apa-apaan kalian! Ini adalah perusahaan ku! Kalian tidak boleh seenaknya menyuruhku memberikan perusahaan ini pada orang!" tolak CEO itu.
"Oh tidak mau ya, kalau begitu mari kita kejalur hukum saja, aku akan telpon polisi saja dan tunggu saja perusahaan mu membusuk." tiba-tiba saja pemegang saham perusahan itu datang.
"Benar, karena perusahaan ini bangkrut aku juga menginginkan uang ku kembali," sahut pemegang saham yang lain.
"Jika tidak mau aku sendiri yang akan menelpon polisi, adikku kerja di kepolisian akan aku telpon sekarang," ucap pemegang saham yang lain.
CEO itu saling berpandangan dengan para petinggi perusahaannya. jika sampai ia di sorot media dan di tangkap oleh polisi, habiskan dirinya, bukan hanya menanggung malu, ia juga tidak akan bisa berinvestasi. Sekali pun ia bisa bebas dengan cepat tapi tetap saja jika ia mantan napi.
"Baiklah, baiklah, aku setuju!" ucap CEO itu pasaran.
Para karyawan itu tersenyum senang, tapi CEO-nya yang pusing.
"Biar aku telpon orang akan membeli perusahaan ku," ucap CEO itu.
Zeiro langsung manyun, jika orang yang ingin membeli perusahaan CEO itu lebih besar darinya, maka ia gagal dalam misi ini.
Tuuut! Tuuut!
Tuuut! Tuuut!
"Halo Mosen, bagaimana? Apa kamu jadi membeli perusahaan ku? Karena para pegawai dan pemegang saham datang meminta uangnya, jadi apa bisa aku minta uangnya sekarang?" tanya CEO itu berharap.
"Maaf, kalo untuk saat ini aku tidak punya, mungkin 3 hari lagi lah," ucap pria yang bernama Mosen itu.
"Maukah kalian tunggu tiga hari lagi?" tanya CEO itu.
"Kalau ada yang pasti kenapa harus menunggu? Katanya kamu ada uang sekarang, jadi tunjukkan pada kami," ucap wanita gendut itu.