The Power Of The System

The Power Of The System
BAB 21



"Ya kan tetap saja sayang banget," ucap Grizzla.


Zeiro tersenyum dan ia pun ke dapur untuk mengambil piring dan gelas.


Tin! Tin!


Terdengar suara klakson mobil masuk ke perkarangan Villa Zeiro.


Grizzla menekuk alisnya dan ia pun berdiri dan melihat lewat jendela.


"Siapa itu?" tanya Grizzla heran. Zeiro keluar dari dapur dengan membawa piring dan melihat Grizzla di jendela.


"Siapa?" tanya Zeiro meletakkan piring dan gelas itu di atas meja.


"Tidak tahu," jawab Grizzla mengangkat bahunya.


Zeiro pun keluar dari rumahnya dan melihat 2 buah mobilnya, dan 2 orang keluar dari mobil tersebut.


Zeiro menuruni anak tangga dan mendekati pria itu. Pria itu juga menghampiri Zeiro.


"Apa ini bersama Tuan Zeiro Alfero?" tanya pria itu.


"Ya saya sendiri," jawab Zeiro.


"Ini ada kiriman mobil untuk Anda, surat-suratnya sudah di alih menjadi nama Anda. Anda hanya perlu menandatanganinya di sini, jadi mobil ini sudah menjadi sah milik Anda," ucap pria itu mengeluarkan sebuah pena dari saku jasnya dan memberikan kepada Zeiro.


Zeiro menerimanya, ia bingung bagaimana tanda tangan, karena sebelumnya ia tak pernah mempunyai tanda tangan, jadi ia hanya membuat huruf Z lalu di beri garis.


"Baik Tuan, terima kasih, ini surat mobil Anda," ucap pria itu memberi surat BPKB dan STNK kepada Zeiro. Zeiro menerimanya.


"Terima kasih kembali," ucap Zeiro tersenyum.


Grizzla datang mendekati Zeiro dan melihat surat mobil yang di buka Zeiro dan membacanya.Dinsana tertera nama Zeiro dan berarti mobil itu milik Zeiro.


"Haishh … rasanya percuma juga aku khawatir tadi, ternyata kamu tidak bingung karena sudah ada ganti yang lebih besar lagi," ucap Grizzla manyun.


"He-he-he, sekali pun tidak ada gantinya aku juga nggak merasa khawatir kok, yang namanya bukan rezeki mau di cari pun tetap tidak akan bisa di dapatkan lagi," ucap Zeiro tersenyum. Grizzla terdiam dan menatap Zeiro.


"Ya udah ayo masuk, kita sarapan dulu," ajak Zeiro memegang tangan Grizzla masuk ke dalam rumah. Grizzla melihat tangannya dan ia merasa tersentuh. Rasanya kenapa beda begini, wajahnya memerah. Apa karena cuacanya memang panas hari ini? Atau ada faktor lain dari dirinya.


Zeiro melepaskan tangan Grizzla, Grizzla tetap diam dan melihat tangannya yang di pegang oleh Zeiro.


"Hm … itu aku minta maaf ya, gara-gara aku lambat akhirnya kamu jadi nggak sekolah," ucap Zeiro merasa bersalah, ia mengusap tengkuknya melihat ke samping dan tidak berani menatap Grizzla.


"Tidak apa-apa kok, aku memang nggak niat sekolah hari ini, aku masih ngambek sama Mama dan Papa aku, biar mereka panik nyariin aku dan tidak akan menjodohkan ku seperti itu lagi," ucap Grizzla manyun, jika mengingat kejadian itu rasanya sangat menyebalkan.


"Oh begitu ya, ya udah sarapan yuk," ajak Zeiro terlebih dahulu duduk di sofa.


Grizzla juga duduk di sofa dan mereka menyantap sarapannya pagi ini.


"Kamu setiap pagi makan roti dan susu?" tanya Zeiro.


"Iya." angguk Grizzla.


"Memang kenyang?" tanya Zeiro mendelik.


"Hm … karena terbiasa, jadi itu tidak masalah," jawab Grizzla mengangguk.


"Hm … itu … kamu nggak kasih tau orang tua kamu jika kamu baik-baik saja, mereka pasti khawatir," ingat Zeiro.