The Power Of The System

The Power Of The System
BAB 76



Zeiro runtuh bersamaan rollercoaster itu membuat orang-orang berteriak histeris. Orang-orang yang di tolong oleh Zeiro tadi sangat sedih mendalam, mereka menangis dan berteriak.


Terutama Grizzla. Tangannya gemetaran hebat dan air matanya jatuh begitu saja, rasanya sangat lemas dan ia jatuh ke tanah dengan tubuh yang tak berdaya. Rasanya ia tidak ingin percaya dengan apa yang ia lihat, tapi itu tidak bisa di bohongi, kenyataan ada di depan matanya.


"Zei … ro …." tanpa sadar Grizzla jatuh ke tanah dan pingsan.


Petugas itu beramai-ramai datang masuk antara reruntuhan itu untuk mencari Zeiro. Orang-orang masih menangis dan sudah menganggap Zeiro sebagai pahlawan. Hati mereka sangat hancur melihat orang yang menolong mereka malah tidak bis di tolong.


Zeiro membuka matanya, karena ia terjatuh cukup tinggi membuat kesadarannya tadi menghilang.


"Eh, aku masih hidup rupanya." ia pun bangun dan mengipas-kipaskan wajahnya yang penuh dengan debu.


Saat melihat Zeiro duduk di antara reruntuhan itu, para petugas berlarian dan sangat suka cita, mereka tertawa kegirangan dan langsung memeluk Zeiro.


"Untunglah kamu selamat," ucap para petugas itu meneteskan air mata bahagia. Mereka segera mengangkat Zeiro dengan suka cita dari reruntuhan itu. Sorak sorai dari orang-orang terdengar bahagia. Seketika ia pun terkenal.


"Terima kasih semuanya sudah datang menyelamatkan ku," ucap Zeiro.


"Kau adalah pahlawan kami, tanpa kamu yang gagah berani tadi, mungkin kami tidak akan selamat. Jika antara Batman dan Ultraman, aku adalah pahlawan yang sesungguhnya. Kau salah pahlawan yang nyata bagi kami," ucap mereka berteriak dengan bahagia.


"Terima kasih semuanya, tapi kalian juga harus berterima kasih kepada petugas yang lain juga ikut membantu, tanpa bantuan dari mereka aku juga tidak bisa sendiri menolong kalian semua," ucap Zeiro.


Saat itu para orang-orang minta foto bareng Zeiro.


"Terima kasih semuanya, aku mau pulang dulu ya untuk istirahat," ucap Zeiro.


Mereka pun bubar dan memilih untuk pulang.


"Di mana Grizzla?" tanya Zeiro yang tidak melihat keberadaan Grizzla.


"Grizzla! Grizzla! Kamu di mana!" panggil Zeiro yang melihat ke kiri dan kanan.


"Cari siapa Dek?" tanya salah satu penjual di sana.


"Saya cari teman saya perempuan? Yang rambutnya sebahu, kulitnya putih, pake baju warna tosca dan celana jins hitam, ada lihat nggak Bu?" tanya Zeiro.


"Oh ada, tadi dia pingsan di tengah lapangan, jadi ada seseorang yang bawa ke sebelah penjual di sana," ucap penjual itu memukul ke sebelah penjual di sampingnya.


"Oh, terima kasih ya Bu," ucap Zeiro berlari ke warung sebelah dan melihat Grizzla terbaring lemas di sebuah kursi yang di rapatkan dengan kursi lain.


"Grizzla!" Zeiro langsung berlari masuk ke dalam dan memeluk Grizzla.


"Oh, di pacar kamu ya Dek? Tadi ada orang yang datang antar dia kesini," ucap seorang ibu-ibu yang penjual bakso bersama suaminya.


"Eh bukan, dia cuma … cuma … dia baik-baik saja kan Buk?" tanya Zeiro memilih untuk mengalihkan pembicaraan karena di bilang pacar bukan, di bilang teman tapi suka.


"Sepertinya dia cuma pingsan saja melihat kamu yang jatuh dari ketinggian itu, aku bahkan menganggap kamu sudah tidak bisa di selamatkan, apa lagi dia," ucap Ibu itu duduk di sebelah Grizzla.