The Power Of The System

The Power Of The System
BAB 59



Setelah mandi Zeiro pun berganti pakaian. Ia memakai jas abu-abu yang di belinya tadi, menyelipkan bunga di saku kirinya. Menyisir rambut kebelakang lalu memakai sepatu hitam mengkilap.


Parfum ia semprotkan ke atas dan ia pun berputar-putar di bawahnya.


"Hm … ini sudah wangi sekali, he-he-he, saatnya tebar pesona," ucap Zeiro.


Hari juga sudah malam. Zeiro dan Zeldy pun keluar dari kamarnya masing-masing dan mereka terlihat keren dan rapi.


Zeldy berjalan terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Zeiro.


"Silakan bos," ucap Zeldy mempersilakan Zeiro masuk ke dalam.


Zeiro pun masuk ke dalam mobil dan Zeldy melajukan mobilnya. Sedangkan Sekretaris Mei pergi sendiri dengan mobil dari rumahnya.


Sesampainya di sana, hotel itu terlihat ramai sekali yang sudah berdatangan. Mobil-mobil mewah tersusun rapi di parkiran.


Para istri-istri pengusaha memamerkan tas mahal dan barang mewah lainnya. Mereka yang membeli barang yang di bawah harga mahal hanya bisa minder padahal tas mewah mereka sangat sulit di beli oleh kalangan bawah.


Sedangkan para suami-suami sedang menyambung persahabatan dan mencari teman kerja sama.


Tak lama Zeiro sampai, sekretaris Mei pun sampai.


"Ayo kita masuk Tuan," ajak sekretaris Mei.


Mereka pun masuk ke dalam yang mana sudah di penuhi oleh para pengusaha sukses, baik yang tua mau pun yang muda, mereka masing-masing membawa anak-anaknya, mana tau mereka menemukan jodoh untuk anaknya dan menyambung tali kekeluargaan melalui pernikahan anak-anaknya.


Karena Zeiro baru saja menjadi CEO, tentu saja belum ada yang mengenalinya. Tapi mereka mengenali sekretaris Mei.


"Wah, Sekretaris Mei sangat cantik malam ini," ucap salah satu seorang pria muda yang tampan sambil tersenyum.


"Terima kasih," jawab Zeiro tersenyum. Wajah pria itu mendadak manyun melihat Zeiro. Kemudian pria itu melihat ke arah sekretaris Mei dengan senyum yang di paksakan.


"Sekretaris Mei, dengar-dengar jika perusahaan tempat sekretaris Mei bekerja mengalami kebangkrutan, tidak tahu mungkin jika Nona Mei ingin bekerja dengan ku saja," ucap pria itu.


"Tidak terima kasih, karena perusahaan tempat aku bekerja sudah berganti CEO maka perusahaan itu sudah terselamatkan," jawab sekretaris Mei membalas senyuman pria itu.


"Oh begitu ya, jadi siapa ceo-nya sekarang? Apa dia datang malam ini?" tanya pria itu lagi.


Sekretaris Mei melihat ke arah Zeiro. "Dialah orangnya," jawab Sekretaris Mei.


"Oh dia ya, tidak terlihat seperti seorang CEO," ucap pria itu masam melihat Zeiro.


"Lalu apa perlu ku bawakan papan tamplet yang bertulisan CEO biar kau percaya?" tanya Zeiro dengan mendongakkan kepala.


Pria itu langsung pergi meninggalkan mereka dan pria itu lebih memilih mengoda wanita lain.


"Cih! Dasar Playboy! Lihatlah, dia barusan mengatakan mu cantik, sekarang dia mengatakan pada wanita lain. Kamu jangan tergoda dengan pria seperti itu," ucap Zeiro mengingatkan.


"Baik Tuan." angguk Sekretaris Mei tersenyum meskipun ia tahu apa yang harus ia lakukan.


Orang-orang terus berdatangan.


"Pada hadirin sekalian harap tenang karena acara akan segera di mulai." terdengar suara menggema dari pengeras suara yang membuat mereka semua terdiam sejenak.