The Power Of The System

The Power Of The System
BAB 34



Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan toko Zeiro.


"Ini toko kamu? Ya ampun kamu bos toko baju ini?" tanya Zeldy kaget.


"Hm … begitulah," jawab Zeiro melepaskan sabuk pengamannya.


"Wah, kalau aku kerja di sini berarti aku harus panggil kamu bis donk," ucap Zeldy menyengir.


"Boleh juga," jawab Zeiro mengangguk. Ia pun keluar dari mobil dan Zeldy keluar mengikuti Zeiro.


"Alina, kamu beri pekerjaan untuknya ya, aku mau ganti baju dulu," ucap Zeiro.


"Baik Tuan." angguk Alina.


Zeiro masuk ke dalam ruangannya, karena ini tokonya, jadi ia sesuka hati untuk mengambil baju untuk ia pakai.


"Siapa nama Anda?" tanya Alina.


"Nama ku Zeldy," jawab Zeldy.


"Ayo ikut aku, aku akan memberikan kamu pekerjaannya," ucap Alina. Mereka berdua menuju gudang penyimpanan barang.


"Karena kamu laki-laki jadi kerja kamu adalah di gudang penyimpanan aja, di sana kerjanya untuk membongkar baju-baju yang akan di buka dan di panjangkan. Juga mengangkat manekin-manekin ini ke toko depan," ucap Alina.


"Oh itu aja," ucap Zeldy.


"Iya, mungkin ada yang ingin di tanyakan lagi?" tanya Alina.


"Hm … di sini pulangnya jam berapa? Makan siangnya di tanggung apa bawa bekal sendiri?" tanya Zeldy.


"Siang nggak pulang ya karena ada ruangan untuk istirahat, kalo makan siang di tanggung, atau nanti dengar dari kebijakan dari bos, karena hari ini dia baru jadi bos jadi lihat bagaimana peraturannya nanti," ucap Alina.


"Oh begitu ya, baiklah kalau begitu. Jadi langsung kerja nih?" tanya Zeldy.


"Ya, bisa langsung kerja kalau mau kerja hari ini juga." angguk Alina.


"Oke, berhubungan aku juga sudah nggak punya pekerjaan," ucap Zeldy mengangguk.


Zeiro pun keluar dari ruangannya dan menuju tempat penyimpanan barang. Alina menundukkan kepala memberi hormat.


"Hm … berhubungan pulang kerja sampai jam 10 malam, jadi makan dari toko saja yang tanggung dari pagi sampai malam," jawab Zeiro.


"Wah, bos yang terbaiklah," ucap Zeldy mengacungkan jempol.


"Jadi gajinya berapa bos perbulan?" tanya Zeldy tanpa basa basi.


"Gajinya lihat kerjaan kalianlah, kalau rajin gajinya lebih, kalau malas ya gajinya ku kurangi," jawab Zeiro.


"Tapi bos aku nggak punya kendaraan, jadi aku setiap hari harus jalan kaki lah," ucap Zeldy.


"Siapa suruh kamu tadi tidak mengambil uang di amplop tadi, sok jual mahal kamu," ejek Zeiro sambil menyengir.


"Tu lah bos, nggak bisa rasanya aku mengambil uang pengkhianat itu, jika aku ambil duit itu berasa kayak makan dosa aku nanti, aku lebih baik makan hasil kerja keras ku sendiri saja," jawab Zeldy teringan kejadian tadi.


"Lha, tadi itu juga uang kerja kamu lho," sahut Zeiro mengingatkan.


"Nggak, gaji ku cuma 5 juta perbulan, tadi aku rasa ada kira-kira 15 juta jika di lihat dari tebal yang di dalam amplop itu, jadi itu hak ku, di tambah lagi dia ingin memberhentikan ku dengan memakai siasat yang terhina itu, benar-benar malang nasib ku," keluh Zeldy.


"Justru bagus seperti itu, setidaknya kamu tidak bekerja lebih lama lagi dengan pria kejam itu, mana tau nanti kamu malah di suruh melakukan hal lebih dari pada ini," ucap Zeiro.


"Iya ya, aku memang harus bersyukur tidak bekerja pada pengkhianat itu. Jika ku lihat pria pilihannya itu memang pintar, justru dengan kepintarannya nanti dia yang malah di khianat nanti, lihat saja, tunggu lah masanya nanti," ucap Zeldy kesal.


"Udahlah, sekarang kamu sudah mendapatkan pekerjaan ya meskipun tidak sebesar gaji kamu yang di sana," ucap Zeiro.


"Iya iya bos terima kasih banyak ya karena sudah menampung ku," ucap Zeldy mengangguk-angguk.


"Ya udah, nanti malam kamu ke rumah ku saja ya, alamat rumah ku di jalan permata sari, nanti ada gedung tingkat 5 nah kamu ke sana aja ya, aku mau pulang mau istirahat juga," ucap Zeiro.


"Oke, siap bos," ucap Zeldy.


"Baik Tuan." angguk Alina.


Zeiro pun beranjak dari gudang penyimpanan dan ia pun menuju mobilnya. Perlahan-lahan mobil pun melaju di jalanan.


"Enak banget jadi dia ya, baru saja jadi pegawai baru sudah di undang ke rumah bos," bisik pegawai itu kepada temannya.


"Mungkin dia temannya kali, mereka terlihat akrab," jawab temannya melihat ke arah Zeldy yang sedang membongkar baju-baju.