The Power Of The System

The Power Of The System
BAB 72



"Aku mohon Tuan! Jangan pecat aku, aku akan memperbaiki kesalahan ku Tuan," ucap Roby memohon.


"Tidak! Tidak! Tidak! Kau sudah melakukan kesalahan! Sana pergi! Zeldy, bawa dia pergi!" perintah Zeiro.


"Baik Bos." Zeldy menggeret Roby turun dari tangga.


"Tuan, aku mohon jangan pecat aku!" teriak Roby. Tapi Zeiro tidak mempedulikannya dan membiarkan Zeldy menyeretnya hingga sampai ke bawah, Zeiro mengikuti Zeldy dari belakang dan hanya melihat saja.


Zeldy pun melempar Roby ke lantai hingga ia di lihat oleh semua orang.


"Jangan pernah datang lagi ke sini! Jika aku melihat batang hidung mu lagi, aku akan mematahkannya!" ancam Zeiro.


Roby bangun dan menatap Zeiro tajam. "Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkan mu hidup tenang, akan aku balas dendam ini," ucap Roby serius.


"Oh benarkah? Akan ku tunggu balas dendam mu," tantang Zeiro.


Roby pun pergi dengan mendengus kesal.


"Pergi kau jauh-jauh! Awas saja kalau bertemu di sini atau di mana pun! Aku tidak ingin melihatmu lagi!" teriak Zeiro.


"Aku juga tidak ingin melihat mu!" jawab Roby.


"Baguslah jika begitu, kau silakan pindah ke luar negeri sana!" sahut Zeiro.


Zeiro melihat ke arah para pegawainya dengan marah.


"Kalian semua sudah tau dia melakukan kesalahan seperti itu kenapa malah membiarkannya! Kalian malah tidak bicara pada ku dari awal hal ini! Kalian lebih memihaknya sana pergi ikut dia! Kalian semua malah menutupi kesalahannya! Apa salahnya kalian langsung menyuruhku ke atas! Kalian benar-benar ya membuat ku emosi!" tukas Zeiro marah-marah, ia tidak peduli dengan pelanggan yang ada sekitar 7 orang itu yang sedang melihatnya.


"Tuan, harap bersabarlah, karena di sini ada pelanggan," ucap salah satu pegawai itu mencoba menenangkan.


"Kenapa! Sekalipun restoran ku ini tidak ada pelanggan aku juga tidak masalah! Asalkan restoran ku ini bukan restoran klub! Mulai hari ini kalian semua di pecat karena sudah membiarkan nama restoran mewah ini tercemar, dan terutama nama ku di sini di pertaruhkan! Pergi kalian semua!" teriak Zeiro.


"Aku hanya ingin mempekerjakan orang yang jujur dan bersih, bukan karena semata karena uang," ucap Zeiro.


"Tapi kami di paksa oleh Tuan Roby, jika tidak kami akan di pecat," ucap mereka.


"Di sini pemilik restoran dia atau aku?" tanya Zeiro.


"Tapi kami belum tahu jika Tuan adalah pemilik restoran ini, sebelumnya juga pemilik restoran ini juga melakukan hal yang sama apa yang di lakukan Tuan Roby," jawab mereka.


"Ingat satu hal! Lebih baik di pecat dari pada menyimpan kejahatan. Kalian tahu apa kesalahannya kalian? Yaitu menyimpan kesalahan Roby dan bekerjasama dengannya, jadi kalian tidak perlu datang lagi ke sini. Aku beri sebuah nasehat pada kalian, setelah keluar dari sini bersikaplah dengan baik dan jadilah orang jujur dalam keadaan apa pun kalau ingin selamat," ucap Zeiro.


Mereka tampak tak rela, akan tetapi ia harus angkat kaki.


"Mereka benar-benar membuat ku kesal!" denggus Zeiro duduk di sofa.


4 orang pria yang berjas hitam datang dan masuk ke dalam, mereka duduk di kursi.


"Pelayan, sesuai pesanan," ucap salah satu pria mengangkat tangannya.


"Pesanan apa?" tanya Zeiro.


"Pesanan 4 anak ayam," ucap pria itu lagi mengangkat alisnya merasa heran karena karyawan yang mereka kenal sudah tidak ada lagi.


"Anak ayam?" tanya Zeiro bingung.


"Tuan, anak ayam itu sebutan untuk para wanita pelayan untuk melayani mereka," bisik Zeldy.


Wajah Zeiro tambah merah padam. Ia berdiri dan bercekak pinggang.


"Apa kata kalian! Wanita pelayan?"