The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Alhamdulillah



Starbucks Dubai Mall


Izzy dan Reema menyesap kopi masing-masing lalu setelahnya keduanya terdiam. Tak lama, seorang wanita hamil bermata biru, mendatangi keduanya.


"Charlotte? Mau pesan choco?" tanya Izzy yang tahu semenjak kandungan Charlotte masuk tri semester kedua, bumil itu menjadi pecinta Choco frappe. Paling tidak Charlotte harus minum dua kali seminggu karena Radhi tidak mau kadar gula istrinya terlalu tinggi.


"Eh? Mbak Izzy ..." sapa Charlotte berlagak tidak tahu Reema. "Sama siapa mbak... Oh Reema. Halo, apa kabar?" Bumil itu menghampiri Reema sambil mengulurkan tangannya.


"Alhamdulillah baik, Charlotte. Wah sudah berapa bulan?" sapa Reema ramah.


"Alhamdulillah sudah empat bulan" jawab Charlotte sambil duduk di sebelah Izzy.


"Mau aku pesankan choco nya?" tawar Izzy.


"Eh... Nggak usah mbak..." tolak Charlotte.


"Santai saja. Kamu kan bawa double." Izzy tersenyum ke arah iparnya yang diketahui hamil kembar. Istri Damian itu pun


"Kembar?" seru Reema antusias.


"Iya. Alhamdulillah kembar. Hasil USG, aku dan Radhi akan mendapatkan anak kembar. Raine juga sedang hamil tapi dia satu" senyum Charlotte sambil mengelus perutnya.


Izzy datang dengan membawakan choco frappe pesanan Charlotte.


"Thanks mbak" senyum Charlotte.


"Belum tahu jenis kelaminnya?" tanya Reema.


"Belum. Masih ngumpet" kekeh Charlotte.


"Semoga kamu segera menyusul punya baby juga, Izzy" doa Reema tulus. "Damian sangat suka anak-anak."


"Aamiin. Terimakasih atas doanya" jawab Izzy.


"Siapa nama anakmu Reema?" tanya Charlotte.


"Eren."


"Namanya bagus. Kamal pasti memanjakan nya..." senyum Charlotte.


"Sangat tapi aku minta jangan terlalu memanjakan... Oh, Kamal sekarang sudah mahir menggantikan popok." Reema tertawa kecil mengingat saat Kamal ribut belajar mengganti popok Eren. "Seorang pangeran tetap saja menjadi ayah kalau sudah di kamar bersama dengan anaknya."


Izzy dan Charlotte bisa melihat bagaimana wajah Reema tampak lembut saat membicarakan suami dan anaknya. Kedua menantu keluarga Blair itu diam-diam bersyukur bahwa mantan menantu Direndra Blair sudah bisa mencintai keluarganya dari kerajaan Oman.


***


Kamar Damian dan Izzy Malam Harinya


Damian menatap wajah Izzy dengan perasaan ingin tahu. Izzy yang merasa suaminya sedang kepo maksimal, hanya tersenyum manis. Mereka berdua sedang berada di atas tempat tidur sambil memegang bacaan masing-masing. Damian dengan komik Asterix nya dan Izzy dengan majalah agrobisnis nya.


"Mas Dami kenapa lihatin Izzy seperti itu?" tanya Izzy bingung.


"Izzy... Sudah ketemu Reema?"


"Sudah."


"Terus?"


"Baik-baik saja. Reema baik, ya aku baik lah. Mas Dami nggak usah khawatir, Reema sudah tidak memikirkan mas Dami" jawab Izzy serius.


"Bagaimana kamu yakin?"


"Karena, setiap Reema membicarakan Emir Kamal atau Eren putranya, pasti matanya tampak lembut dan sayang ke keluarga kecilnya. Mas, Reema sudah move on, sudah mencintai Emir Kamal. Sejahat-jahatnya Reema, pasti naluri keibuannya muncul saat kandungannya makin besar ditambah Kamal sangat mencintai Reema. Itu yang membuat Reema bisa luluh dan mencintai Kamal."


"Kamal bisa merubah Reema, Izzy. Dan Reema sendiri juga bisa merubah dirinya sendiri jadi tidak hanya satu orang saja...."


Izzy tersenyum. "Kamu kok makin bijak sih?"


"Lha memang selama ini aku nggak bijak apa?" jawab Damian sambil manyun.


Izzy tertawa gemas melihat suaminya merajuk.


"Izzy... Apa kamu yakin kamu belum hamil?" Tiba-tiba Damian menanyakan tentang hal yang sensitif.


"Kenapa?"


Izzy tertegun. "Iya ya... Tapi aku nggak merasa mual atau pusing tuh mas..."


"Coba besok kita ke rumah sakit, diperiksa."


Izzy mengerenyitkan dahinya. Masa sih aku hamil? Tanda-tandanya saja nggak ada cuma sholat nggak pernah absen.


***


International Modern Hospital Dubai


Damian dan Izzy menunggu dokter obgyn mereka datang dengan perasaan cemas. Damian menolak melakukan pregnancy test dari alat yang biasa dibeli dan memilih langsung ke rumah sakit. Bagi Damian, jika memang Izzy hamil, Alhamdulillah. Tapi jika Izzy belum hamil, mereka berdua akan merencanakan program kehamilan.


"Assalamualaikum Emir Blair, nyonya Blair. Saya dokter Petra yang akan memeriksa anda. Bagaimana nyonya? Apakah sudah melakukan test pack ?" tanya Dokter wanita itu.


"Wa'alaikum salam dokter. Saya belum melakukan test pack, sebab mas Dami ingin kami langsung ke rumah sakit" jawab Izzy sambil tersenyum.


"Tuan Emir tampaknya lebih mantap kalau diperiksa langsung ya?" kekeh Dokter Petra. "Mari nyonya, kita periksa." Dokter berhijab itu menanyakan tinggi dan berat badan serta tensi Izzy yang sudah dicek sebelumnya oleh suster nya.


"Relaks saja Nyonya Blair...." ucap Dokter Petra saat Izzy tiduran diatas tempat tidur sambil menggerakkan transducer diatas perut Izzy.


"Saya geli dok..." jawab Izzy yang harus menahan rasa menggelitik di perutnya.


"Izzy memang gampang geli di perut nya dok..." timpal Damian yang serius menatap layar monitor untuk mengetahui apa hasilnya.


Dokter Petra memeriksa dengan teliti dan wajah dokter berhijab itu tersenyum. "Selamat tuan Emir Blair. Nyonya Blair mengandung empat Minggu."


"Apakah kembar? Mengingat kami ada gen kembar..." tanya Damian.


"Well, ini baru satu titik yang terlihat... Tampaknya tidak tuan. Hanya satu titik..."


Damian menatap Izzy dengan perasaan bahagia. "Alhamdulillah..." ucap Damian dan Izzy bersamaan sambil menggenggam tangan.


"Selamat ya nyonya Blair. Saya ikut senang. Tampaknya Emir Blair bersaudara panen cucu ini..." senyum Dokter Petra. "Nyonya McGregor Blair saya yang menangani dan sangat antusias punya anak kembar."


"Katanya belum bisa diketahui jenis kelaminnya ya dok?" tanya Izzy sambil bangun dengan dibantu Damian setelah membenarkan bajunya.


"Belum. Tuan Radhi Blair sampai kesal karena tidak tahu jenis kelamin anak - anaknya. Saya sudah menawarkan untuk test darah tapi tuan Radhi menolak. Katanya nunggu bulan depan sebab dia mau bersabar. Semoga anak-anaknya tidak membuat Daddynya Julid ya..."


Damian dan Izzy tertawa. "Tampaknya kalau Julid sudah menjadi gen keluarga Blair."


***


Istana Al Azzam Blair Dubai Saat Makan Malam


Berita kehamilan Izzy membuat semua anggota keluarga Blair di istana Al Azzam Blair bahagia. Terutama Direndra dan Raana.


"Beneran doanya Radhi dikabulkan. Usia anaknya Radhi dan Raine nanti tidak berbeda jauh" ucap Nura yang ikut senang karena bakalan ramai nanti istana dengan tiga bayi.


"Nggak heran kalau Izzy langsung isi karena kan Izzy sempat halangan habis menikah. Habis itu kan pas masuk masa subur... " gumam Raana.


"Berarti sebaya dengan Elfesya, Duncan dan Aslan ya..." ucap Alaric.


"Lebih menjurus sebaya dengan anak keduanya Bayu, mas" celetuk Nura.


"Ah kamu benar Ben-ben..." Alaric manggut-manggut.


"Nanti habis makan malam, kita menghubungi Daddy, Mommy, Tante Kaia dan Opa Rhett. Biar mereka senang mau dapat cicit lagi..." ucap Direndra.


"Jangan lupa kabari Hunter ..." Damian menatap Izzy lembut.


"Iya mas."


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️