
Western General Hospital, Edinburgh Skotlandia
Damian menunggu Izzy keluar dari ruang observasi untuk memeriksa apakah ada perubahan alergi obat, tensi dan semua hal yang bisa membahayakan saat dilakukan anestesi dan operasi.
Memang Izzy sudah sering melakukannya sebelumnya tapi tidak ada salahnya semuanya diperiksa ulang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Damian lalu menelpon Raana untuk mengabarkan bahwa Izzy akan melakukan operasi minggu depan.
"Bagaimana dengan kondisi Izzy, Dam?" tanya Raana penuh perhatian.
"Fisik tadi bagus tapi sekarang dilakukan observasi dan pemeriksaan lebih intens agar semuanya berjalan lancar, Mom."
"Dam, kalau mommy datang... Apakah Izzy akan panik ?" tanya Raana dengan nada jenaka.
"Mungkin pingsan mom..." gelak Damian.
"Tapi nggak papa ya mommy datang ?"
"Ya tidak apa-apa. Hunter juga datang kok..."
"Damian, kalau sampai Hunter tidak datang menemani adiknya, Mommy sendiri yang meminta Bayu menendang ****@* anak itu ke Edinburgh !" ucap Raana galak membuat Damian semakin terpingkal.
"Mom, mas Bayu pasti akan senang hati menendang Hunter" kekeh Damian.
"Oh Dami... Mommy ingin berbicara sesuatu dan ini serius."
"Apa itu mommy?"
"Reema hamil."
Damian terdiam. "Kan ada suaminya. Jadi bukan urusanku."
"Masalahnya adalah, Reema tidak mau mengandung tapi Kamal tetap meminta istrinya mempertahankan anak mereka."
Damian mengusap rambutnya. "Dasar cewek freak !"
"Dam, tahu nggak. Kamal sampai menahan Reema untuk tidak kemana-mana sama sekali, takut jika Reema melakukan hal yang jahat ke bayinya. Sampai semua melakukan pengawasan ketat."
"Astaghfirullah... Dari mana mommy tahu?" tanya Damian.
"Kemarin perwakilan dari Oman datang dan ingin bekerjasama untuk pembangunan pembangkit listrik tambahan di pinggiran kota. Istrinya mengajak ghibah mommy jadi mommy tahu semua."
Damian terpekur mendengar cerita ibunya. Kenapa kamu membenci anak dalam kandungan kamu, Reema? Dia tidak berdosa...
"Mom, aku rasa apa yang dilakukan Kamal itu untuk melindungi keturunannya apalagi kalau nanti anak laki-laki saat lahir..."
"Dam, mommy hanya sekedar cerita ya, jangan kamu pikirkan karena sudah bukan ranah kamu. Cukup sekedar tahu. Sekarang yang penting adalah, kamu fokus mempersiapkan mental Izzy, hingga proses penyembuhannya. Baru setelah itu, kalian memikirkan jenjang selanjutnya... Kamu mau menikah dengan Izzy kan?" ucap Raana.
"Iyalah mommy... Aku tidak masalah harus dilangkahi Dewa, Radeva, Nelson ataupun Shinichi sekalipun untuk menikah. Karena yang penting kesembuhan Izzy dan dia bisa berjalan dengan normal lagi."
"Ah iyaaa... Dewa sudah menikah, Radeva bulan depan, Nelson mungkin tahun depan lalu setelahnya Shinichi. Tinggal kamu dan Ken nanti Dam" komentar Raana. Saat Dewananda menikah di Jakarta, Damian tidak datang.
"Dam, jangan menikah terburu buru..."
"No, mom. Aku lebih santai sekarang...." jawab Damian. "Aku juga masih harus membimbing Izzy untuk mempelajari keyakinan kita."
"Dahir serius mau berhenti jadi pengawal kamu kalau nanti menikah dengan Betty?"
"Katanya serius mom. Bagi aku sih tidak apa-apa, karena Dahir mendapatkan jodohnya. Masa aku menghalanginya. Apalagi Betty dan Dahir sama seriusnya seperti aku dan Izzy."
"Alhamdulillah... Jika kita memiliki niat baik, insyaallah akan diberikan yang terbaik dari Allah..." ucap Raana. "Kalau menilik dari cerita kamu, Betty anaknya ceria dan selalu positif jadi membuat Dahir menjadi lebih manusiawi. Kita kan tahu pengawal mu sama saja sama kamu kalau sudah keluar kaku dan judesnya."
"Iya mom."
Damian melihat pintu ruang observasi terbuka dan tampak Izzy keluar bersama suster dan dokter Kingston. "Mom, ini Izzy sudah selesai."
"Oke. Kabari mommy yaaa" ucap Raana yang mematikan panggilannya.
"Bagaimana dokter Kingston?" tanya Damian.
"Puji Tuhan. Semua hasil tes bagus, Mr Blair. Miss McDouglas tidak ada alergi obat apapun termasuk obat anestesi."
"Alhamdulillah..." ucap Damian penuh syukur. "Jadi jadwal operasi tetap dilaksanakan sesuai dengan kita sepakati?"
"Iya Mr Blair. Dua hari sebelum hari H, saya minta Miss McDouglas sudah menginap disini untuk bisa pemeriksaan kembali sebelum operasi."
Damian menatap Izzy yang tampak sedikit tegang. "Tenang, Izzy, Hunter akan datang dua hari sebelum kamu operasi. Tadi dia sudah bilang padaku."
"Tapi apa Mr Bayu mengijinkan kak Hunter cuti agak lama?" tanya Izzy karena tahu, Hunter nyaris tidak meninggalkan Bayu lama kecuali saat Bossnya itu berbulan madu keliling dunia.
"Izzy, kalau sampai mas Lisus itu tidak mengijinkan Hunter pergi menemani kamu operasi, aku sendiri yang akan menendang mas Bayu !"
Izzy cekikikan karena tahu meskipun Damian juga memiliki tubuh tinggi besar tapi masih kalah besar dengan Bayu. Bisa kalah lah Dami dengan Mr Bayu.
***
Damian menyelesaikan sebagian adminstrasi termasuk memesan kamar VIP khusus buat Izzy membuat gadis itu manyun karena kartu debitnya tidak laku untuk membayar karena pria itu langsung mengeluarkan kartu saktinya yang bewarna hitam.
"Sudah Izzy, uang yang kamu kumpulkan, buat keperluan toko kamu" ucap Damian saat melihat gadis gigi kelincinya cemberut.
"Dami, tapi aku sudah menabung lamaaa... Kamu itu belum menjadi suamiku tapi kok kamu sudah mengeluarkan uang begitu banyak untukku?"
"Hei, aku mengeluarkan uang untuk biaya operasi kamu, untuk kesehatan kamu bukan untuk barang konsumtif jadi aku tidak sayang lah!"
"Apakah kamu pernah seperti itu? Memberikan atau membelikan barang-barang konsumtif buat gadis lain?" selidik Izzy.
"Sebelum aku bersama Reema, aku bersama Emily, seorang model. Dia penasaran karena aku tidak bisa diajak tidur bersama dan aku memang tidak mau berzinah ... Dia minta barang macam-macam, aku masih okelah tapi saat aku tahu dia tidur dengan fotografer, manager butik terkenal... Bye, cukup sekian dan tidak terima kasih."
Izzy melongo. "Oh poor Dami."
"Naahhh, anggap saja salah satu peristiwa dari bagian hidupku. Memang harus perlu banyak jalan sebelum aku bertemu dengan mu Izzy" jawab Damian santai tapi serius. "Eh kamu mau kan menggunakan uang tabungan kamu di kartu debit itu?"
"Iya Dami. Kenapa?"
"Traktir aku makan di cafetaria rumah sakit dong. Aku lapar ini..." ucap Damian memelas.
"Oh ya ampun Dami ... Kamu kelaparan ya?" kekeh Izzy.
"Sangat !" ucap Damian sambil manyun.
"Yuk kita makan ... Aku yang traktir..." ajak Izzy sambil merangkul lengan Damian.
Keduanya pun menuju cafetaria dan memesan makanan. Izzy membuktikan omongannya dengan membayarkan makan siang mereka. Damian dan Izzy asyik bercakap - cakap tanpa mengetahui bahwa ada seseorang yang menatap mereka berdua.
Bukan kah itu Emir Blair ? Makan siang dengan gadis cacat ? Tunggu...
Pria itu mengambil foto kedua orang itu dan mengirimkan ke Reema.
Princess, Emir Blair sudah bersama dengan wanita cacat.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️