The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Bersiap Untuk Operasi



Muscat Oman, Istana Pangeran Kamal


Reema membaca pesan dari mantan dayangnya yang tinggal di Edinburgh karena menikah dengan orang Skotlandia. Matanya terbelalak melihat foto Damian tampak tertawa dengan lepas bersama seorang gadis berambut coklat yang juga tertawa. Wajah mantan suaminya sangat berbeda, tampak begitu bahagia, berbanding terbalik saat bersama dengannya.


Wanita yang sedang hamil itu melihat video yang dikirimkan menunjukkan Damian bergandengan tangan bersama gadis tersebut dan Reema melihat bagaimana kakinya cacat, langkahnya sedikit dengklang.


"Damian, kenapa kamu memilih gadis cacat? Mana jalannya tidak benar itu..." gumam Reema.


Tiba-tiba ponsel Reema direbut oleh Kamal dan suaminya melihat video Damian bersama dengan seorang gadis.


"Jadi kamu masih berharap bersama Damian, Reema?" ucap Kamal dingin lalu membanting ponsel istrinya. "Kamu itu adalah istriku ! Istriku ! Dan aku tidak akan membiarkan kamu berselingkuh dariku !"


"Kalau kamu berani mengancam ku, aku pun juga bisa Kamal ! Apa kamu tahu, selama kamu mengajak aku berhubungan, aku selalu membayangkan Damian ! Bukan kamu ! Karena aku benci kamu !" bentak Reema tidak kalah pedas.


Kamal berusaha sekuat tenaga untuk tidak menampar Reema namun emosinya sudah sangat memuncak.


"Dan aku bisa saja membuat anak si@l@n ini lenyap !" Reema memekik saat Kamal mencengkram lengannya.


"Berani kamu membunuh anakku, aku sendiri yang akan membuang kamu ke Padang pasir ! Biar kamu mati kepanasan disana !"


"Bunuh saja aku sekarang ! Toh aku juga tidak perduli !" balas Reema.


Kamal dan Reema saling bertatapan dengan penuh amarah serta kebencian.


"Lahirkan anakku, dan setelahnya aku tidak akan memperdulikan kamu !" ucap Kamal dingin. "Dan jika kamu sengaja membuat anak ini hilang... Jangan pernah remehkan aku, Reema !"


***


Edinburgh Skotlandia


Damian memutuskan untuk menyewa apartemen dekat rumah sakit tempat Izzy akan dioperasi dan dirawat karena baginya, tinggal di apartemen lebih nyaman dibandingkan dengan hotel. Pria itu menyewa apartemen dengan dua kamar untuk enam bulan.


Dahir dan Betty sudah kembali ke Knightswood menggunakan kereta karena Izzy mengijinkan pengawal Damian itu memakai mobil mini Cooper nya untuk dipakai mobilitas pria Arab itu. Range Rover milik Aidan tetap dipakai Damian di Edinburgh.


Dan kini Damian tinggal satu apartemen dengan Izzy sambil menunggu jadwal gadis itu masuk ke rumah sakit.


***


"Dami..." panggil Izzy.


"Ya Izzy?" tanya Damian yang sedang membuatkan makan malam.


"Apa mommy mu tahu kita satu atap?" tanya Izzy cemas. Jujur dia tidak mau dicap cewek gampangan karena tinggal bersama dengan seorang pria tanpa ikatan resmi.


"Mommy dan Daddy tahu. Hunter juga tahu" jawab Damian santai.


Izzy terkejut. "Duh, kak Hunter pun tahu?"


"Yup. Kenapa?" Damian menoleh kearah Izzy yang sedang membuat kopi.


"Tapi kak Hunter... " Izzy tidak melanjutkan ucapannya.


"Izzy, Hunter juga cemas sebenarnya tapi dia tahu kamu tinggal bersama aku. Jadi pesan dari kakak mu adalah jangan sampai aku menyalahgunakan kepercayaan yang dia berikan. Dan aku pun tidak akan melanggar janjiku pada kamu, kedua orang tuaku dan Hunter. So, kamu tenang-tenang saja. Kalau kamu masih khawatir, kunci saja pintu kamarmu... Siapa tahu aku berjalan dalam tidur ke kamar kamu?" kekeh Damian.


"Memangnya kamu suka sleep walking?" Izzy menatap Damian serius.


"Radhi yang sering waktu kecil. Dan biasanya dia jalan ke dapur mengambil coklat di kulkas. Akhirnya sama Tante Nura, dipasang keset basah jadi pas Radhi turun dari tempat tidur, langsung terbangun karena kakinya kena air."


"Tapi kenapa Radhi jalannya ke dapur?"


Damian tersenyum mengingat sepupunya satu itu. "Radhi itu waktu kecil gendut banget ! Dia hobi makan jadi sama Tante Nura no food di kamar nya. Eh malah jadi sleep walking. Radhi mulai diet saat dia serius terjun di dunia balapan gokart. Demi bisa kencang, dia harus menurunkan berat badan jadi dia olahraga termasuk bela diri juga dilakoni demi berat ideal."


"Ternyata kalian pernah tidak perfect ya?" senyum Izzy.


"Izzy, jangan pernah mengira keluarga aku perfect... Sangat jauh dari kata itu. Bobroknya keterlaluan."


Izzy tertawa kecil. "Kopinya sudah jadi. Hitam satu blok gula kan?"


"Yup." Damian mematikan kompornya dan mulai meletakkan beef stew dengan saus jamur bersama dengan mashed potatoes diatas piring lalu membawanya ke meja makan. Damian merasa beruntung mendapatkan apartemen yang sangat nyaman lengkap dengan furniture yang masih baru.



"Enaklah Izzy. Aku yang masak" senyum Damian.


"Mari kita makan" ajak Izzy yang merasa perutnya sudah keroncongan.


***


Akhirnya jadwal Izzy masuk rumah sakit pun tiba. Gadis itu dengan ditemani Damian, mulai menempati ruang rawatnya yang akan dipakainya selama proses pemulihan nanti.


"Dam, kamarnya Kebagusan..." Komentar Izzy membuat Damian cemberut.


"Kamu tuh ! Sengaja tahu aku pesan biar kamu nyaman !" Damian mengerucutkan bibirnya dengan wajah menggemaskan hingga Izzy terbahak.


"Iiissshh kamu tuh gemesin !" ucap Izzy sambil memegang rahang Damian.


"Ehem!"


Izzy melepaskan pegangan tangannya di wajah Damian saat mendengar suara asing dan raut muka gadis itu langsung berubah saat melihat orang yang berdiri di pintu kamar Izzy.


"Tante Raana?" bisik Izzy tidak percaya ibu Damian akan datang ke Edinburgh. "Dami, kamu kok nggak bilang kalau mommy mu mau datang ?"


Damian nyengir. "Biar surprise. Halo mommy" sapa pria itu ke wanita yang memiliki tubuh mungil bahkan lebih pendek dari Izzy.


"Apa kabar sayang?" balas Raana sambil memeluk Damian yang mencium pipi ibunya.


"Alhamdulillah baik. Izzy, ayo kenalan langsung dulu sama mommy. Kemarin kan sudah via virtual, sekarang bisa ketemu live" ajak Damian sambil mengulurkan tangannya ke arah Izzy yang disambut gadis itu.


"Assalamualaikum Tante Raana" salam Izzy yang sudah mempersiapkan ucapan itu jika suatu saat bertemu dengan Raana secara langsung.


"Wa'alaikum salam." Raana lalu memeluk Izzy yang merasakan sesuatu yang hangat dalam tubuhnya. Izzy tahu bahwa dirinya rindu pelukan seorang ibu dan Raana memeluknya seperti ibunya sendiri. "Bagaimana perasaan kamu?" tanya Raana usai melerai pelukannya dan menatap concern ke Izzy.


"Gugup Tante ... " jawab Izzy sambil tersenyum.


"Wajar lah..."


"Mommy sama siapa kemari?" tanya Damian.


"Bersama Maryam dan Latifah" jawab Raana. Damian mengangguk karena dua wanita itu memang pengawal ibunya.


"Mommy menginap dimana?"


"Radisson Blu Hotel. Kalian memilih tinggal di apartemen kan?"


"Iya mommy. Hanya beda satu blok dari rumah sakit. Jadi aku milih disana daripada di hotel ..."


"Halo ? Sudah pada kumpul?"


Ketiga orang disana menoleh dan tampak Hunter berdiri disana sambil membawa kopernya.


"Kak Hunter !" seru Izzy sambil tersenyum dan menghampiri kakaknya.


"Halo sayang... Gugup?" tanya Hunter sambil memeluk adiknya.


"Yup."


"Don't worry, semua orang yang menyayangi kamu, ada disini untuk mensupport kamu."


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️