
Rumah Singgah Milik Duncan Blair
Damian membuka pintu pagar yang menggunakan passcode yang sudah diberikan kodenya oleh Aidan. Pria itu lalu memarkirkan mobil Range Rover milik opanya dan mulai menurunkan koper dan barang bawaannya yang lain.
Pria tinggi tegap itu lalu membuka pintu rumah menggunakan passcode milik Aidan dan masuk ke dalamnya. Tampak suasana Inggris sangat kental disana meksipun dengan dominasi warna putih yang merupakan favorit Rhea Giandra Blair.
"Assalamualaikum Opa Duncan, Oma Rhea" sapa Damian seolah keduanya masih ada disana.
Damian pun membawa masuk semua barangnya dan menutup pintu rumah. Pria itu lalu memeriksa semua isi rumah termasuk isi kulkas dan peralatan dapur lainnya. Damian tersenyum puas melihat semuanya sudah dipersiapkan oleh suruhan Aidan.
Damian memang sengaja tidak membawa pengawal selama dirinya liburan karena ingin menikmati kesendiriannya. Pria itu lalu membuka pintu kamar tidurnya dan tersenyum melihat lukisan Yuna Pratomo Blair disana.
Pria itu lalu membuka lemari baju yang harum pengharum lemari lalu menggeser salah satu tutup disana dan tampak lemari besi tertanam di dinding. Damian membuka lemari besi itu setelah memencet kodenya dan melihat ada dua buah Glock lengkap dengan kotak peluru disana.
Damian mengambil salah satu Glock dan mengisi magazinenya lalu menyimpannya di dalam laci nakas sebelah tempat tidurnya. Pria itu lalu menutup kembali pintu lemari besi itu dan mengambil koper dan duffle bag miliknya.
Damian menemukan bluetooth speaker di meja kerja kamar tidur lalu mencolokkan kabelnya karena tahu pasti batereinya habis. Setelah mensetting ke ponselnya, Damian mulai menyetel playlist lagu-lagu favoritnya.
Emir Blair itu mulai membongkar koper dan tasnya lalu memasukkan semua pakaian yang dibawanya. Setelahnya semua perlengkapan mandi, dia letakkan di kamar mandi yang sangat modern.
Damian juga meletakkan parfum, jam tangan Patek Philippe yang akan dipakainya bergantian dengan Hublotnya. Sekarang Damian memilih memakai Apple watch nya dibandingkan dua jam mahalnya yang dia letakkan di meja kerja.
Kiri Patek Philippe, Kanan Hublot
Setelah selesai membongkar bawaannya, Damian menyimpan koper dan duffle bag nya lalu berjalan ke halaman belakang dimana pemandangan danau menjelang musim semi tampak sangat indah.
Damian duduk di kursi yang tersedia di teras belakang sembari menikmati cahaya matahari yang meskipun sudah masuk pukul dua siang masih terasa hangat, bukan panas yang membuat kulit gosong. Pria itu memejamkan matanya dan telinganya mendengar banyak suara alam yang membuatnya tenang.
Suatu hal yang tidak bisa dia dapatkan di Dubai yang dikenal panas karena tinggal di area gurun. Udara di sekitar rumah singgah keluarga Blair memang masih segar udaranya dan Damian bisa mencium aroma pohon Cemara dan tanaman lainnya.
Nikmati Hari ya Mas Dam Bendungan
Dan tak berapa lama Damian pun terlelap di halaman belakang karena merasa sangat nyaman dan tenang.
***
Istana Bahrain
Reema mencoba menghubungi Damian tapi semuanya berakhir dengan kegagalan karena nomor teleponnya sudah di blokir oleh mantan suaminya. Reema ingin tahu kemana mantan suaminya pergi karena dia ingin mereka bisa melakukan rekonsiliasi lagi.
Bagi Reema, perpisahan yang dipaksakan Damian, sangat mengganggu egonya. Reema sudah bertanya ke Raine tapi adik Damian itu pun tidak mau memberikan keterangan pada Reema.
"Sudahlah Reema, kalian sudah berpisah, ya sudah! Pada saat kalian menikah saja mas Dam tidak mau sama kamu, apalagi dengan posisi sudah berpisah begini. Mas Dam makin tidak akan mau bersamamu!" hardik Raine.
"Reem, aku tidak suka ya dengan sifat obsesi kamu! Move on! Mas Damian tidak cinta kamu! Paham!"
Reema hanya mematikan panggilannya ke Raine.
Sialaaaannn!
Dan sekarang Reema tidak tahu pria itu kemana.
***
Rumah Singgah Milik Duncan Blair di Knightswood Glasgow Skotlandia
Damian terbangun ketika mendengar suara bel rumahnya dan bergegas menuju pintu depan. Pria itu melihat dari layar intercom jika ada seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu. Damian pun membuka dan pria tua itu tersenyum.
"Good day mate. Apakah kamu cucu Mr Blair? Perkenalkan nama saya Huxley, saya yang bertanggung jawab atas rumah Mr Blair. Apakah ada yang kurang, boy?" sapa Huxley dengan logat khas Scotland yang membuat Damian sedikit ngelag.
"Oh... oh... No. Semuanya oke dan perfect, Huxley. Nama saya Damian, by the way" ucap Damian sambil mengulurkan tangannya yang kemudian dijabat oleh Huxley.
"Always happy to see one of Blairs ( selalu senang bertemu dengan salah satu keluarga Blair ). Wajahmu mirip Aidan."
"Well, I'm his grandson ( saya cucunya )" kekeh Damian.
"Jadi sudah aman semua ya Damian?"
"Sudah Huxley" jawab Damian.
"Jika kamu butuh sesuatu, rumah aku satu kilo dari sini, sebelah Utara. Rumah dengan banyak tanaman Poppy. Dan aku sudah meninggalkan nomor ponsel aku di kulkas" ucap Huxley. "Oh ada baiknya mobil mu kamu tutupi dengan cover karena kalau malam, salju terkadang masih suka turun." Pria tua itu menunjuk ke Range Rover milik Aidan yang terdapat di carport tanpa atap.
"Terima kasih atas sarannya."
Huxley mengangguk sambil memegang topi newsboynya. "Have a nice holiday ( selamat berlibur )."
"Thanks Huxley." Damian melambaikan tangannya saat pria itu masuk ke dalam mobil Vauxhall nya dan pergi meninggalkan rumah singgah nya. Pantas bisa masuk pagar karena dia yang bertanggung jawab disini.
Damian lalu mengambil kunci mobil dan membukanya mencari cover car lalu menutup mobil mewah opanya. Setelah nya pria itu masuk ke dalam rumah, menutup pintu, memasang alarm dan menguncinya dengan plang kayu yang kesannya kuno tapi efektif.
Damian pun berjalan ke dapur dan mulai menyiapkan bahan makanan untuk makan malam dirinya.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️