
Rumah Singgah Milik Duncan Blair Glasgow Skotlandia
Damian hanya duduk manis ketika kedua gadis itu yang memaksa untuk mencuci piring dan semua peralatan yang tadi dipakai memasak dan makan.
"Ladies, tinggal saja" kekeh Damian.
"Kamu duduk manis saja Dam. Kan kamu sudah memasakkan buat kami jadi kami bantu cuci piring dan semuanya lah!" jawab Izzy.
"Apalagi kami mendapatkan makanan sedap... Macam di restauran. Tidak bisa bayar, cuci piring" timpal Betty sambil tertawa.
"Oh my God... Ini kan bukan restauran" gelak Damian.
"Oh come on Dam, tidak usah banyak komentar !" senyum Izzy sambil memamerkan gigi kelincinya.
Damian hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Izzy. "Betty, kamu di rumah tinggal dengan siapa?"
"Aku tinggal bersama ayah dan adikku. Ayahku sering pergi berlayar jadi aku hanya bersama adikku yang bekerja di sebuah restoran."
"Adikmu laki-laki atau perempuan?" tanya Damian.
"Laki - laki. Usia 20 tahun. Adik tiri sebenarnya karena dia anak ayahku dari wanita lain."
"Adik Betty memiliki kebutuhan khusus, Dam. Tapi dia sangat suka memasak jadi menjadi cook di sebuah restauran Knightswood" timpal Izzy. "Jack pasti suka kamu bawakan Trout, Bet."
"Yup. Dia pasti akan mengolah nya besok untuk makan malam. Kan sudah kita bekukan ini."
Damian tersenyum mendengar percakapan keduanya. Baginya bertemu dengan orang-orang yang dari kalangan berbeda dari Dubai yang high class, merupakan pengalaman tersendiri. Damian yang dari lahir sudah biasa makan dengan sendok emas, memang selalu dididik oleh Raana untuk humble dengan siapa saja tapi karena lingkungannya rata-rata elite dan sultan, Damian jarang bisa berinteraksi dengan orang-orang diluar circle nya.
Dan kini Damian dipertemukan dengan dua gadis dengan masalah masing-masing tapi mereka menghadapinya dengan sikap positif dan optimis, membuat mood Emir Blair itu menjadi baik. Kehadiran keduanya yang tanpa beban bercerita berbagai hal padanya, membuat Damian merasa terhormat karena dengan begitu dia tahu latar belakang mereka dan mereka juga bukan orang yang ingin tahu tentang dirinya.
Dari situ Damian bisa menilai, mereka bercerita karena memang mereka mau bukan karena terpaksa dan mereka juga tidak memaksa harus tahu siapa dia.
"Oke sudah bersih..." senyum Izzy.
"Ayo, aku antar kalian pulang. Apalagi sudah pukul delapan malam." Damian mengambil kunci mobilnya.
"Besok kamu ke toko jam berapa Dam?" tanya Izzy sambil mengambil tasnya. Betty juga mengambil tas dan membawa kotak berisikan ikan Trout beku miliknya.
"Jam makan siang Izzy. Kan aku sudah bilang akan membawakan olahan Trout yang berbeda" senyum Damian.
"Mr Azzam, aku pinjam dulu kotaknya ya" ucap Betty. "Besok anda ke toko kan? Tolong aku diingatkan Izzy untuk membawanya agar bisa aku kembalikan."
"Of course Betty" jawab Izzy.
Damian mengunci pintu rumah setelah ketiganya keluar dan memasang alarm. Rumah milik Duncan memang memiliki tingkat keamanan sangat tinggi.
"Ladies, mari." Damian membukakan pintu mobil untuk Izzy dan Betty. Ketiganya masuk ke dalam mobil dan Damian memencet remote untuk membuka pagar. Setelahnya mobil Range Rover itu keluar dan pagar itu pun menutup otomatis.
***
Perjalanan menuju kota Knightswood di malam hari memang agak menyeramkan dari rumah singgah Damian karena benar-benar jalan desa khas Inggris Raya yang sedikit penerangan jalan.
"Tampaknya kamu harus berhati-hati Dam. Jalannya agak gelap" ucap Izzy yang tampak takut meskipun di sepanjang jalan ada rumah juga tapi memang jaraknya agak jauh dari satu ke lainnya.
"It's okay Izzy. Don't worry. Apakah tingkat kriminal disini tinggi?" tanya Damian ke Izzy dan Betty.
"Tidak terlalu tapi rata-rata pencurian kecil-kecilan. Biasa anak-anak remaja yang berusaha mendapatkan uang untuk obat atau minuman" jawab Betty. "Makanya aku selalu khawatir soal Jack. Tapi untungnya flat kami hanya tinggal menyebrang dari restauran tempatnya bekerja."
"Syukurlah" sahut Damian sambil melihat spion ke arah Betty yang duduk di belakang.
***
"Terimakasih Mr Azzam. See you tomorrow ( sampai jumpa besok )" senyum Betty usai Damian mengantarkan di depan flat gadis itu.
"See you Betty!" ucap Damian dan Izzy bersamaan. Pria itu pun menjalankan mobilnya menuju toko Izzy dimana gadis itu tinggal di lantai dua.
Damian memarkirkan mobilnya di tempat parkir umum karena tidak bisa masuk ke jalan tempat toko Izzy berada dan keduanya pun berjalan menuju bangunan tempat tinggal gadis itu.
"Thank you Damian buat acara makan malamnya dan buat pesanan monstera nya" senyum Izzy.
"Sama-sama Izzy. Terima kasih suka dengan masakan aku" balas Damian.
"Aku masuk dulu Dam." Izzy mengambil kuncinya dan membuka pintu tokonya.
"Selamat beristirahat Izzy."
Izzy mengangguk sambil tersenyum sebelum menutup pintu dan Damian melambaikan tangannya. Setelah gadis itu masuk dan mengunci pintunya, Damian mengambil CCTV bentuk kancingnya yang bisa berkamuflase dari saku jaketnya dan dipasangnya di bawah papan nomor rumah.
Entah kenapa Damian ingin merasa Izzy aman apalagi dia tinggal sendirian. Pria itu lalu berbalik dan melihat masih banyak orang yang masih menikmati acara makan di beberapa cafe dan bar.
Damian pun berjalan menuju parkiran mobilnya dan setelahnya pergi kembali pulang ke rumah milik Duncan Blair.
***
Sesampainya di rumah, Damian langsung mengaktifkan link CCTV yang dipasang di depan rumah Izzy. Damian khawatir dengan keselamatan Izzy apalagi dengan adanya cafe dan bar pasti akan ada banyak orang mabuk apalagi acara sepakbola di hari Minggu ini.
Damian melihat mereka mulai heboh apalagi pertandingan antara Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers yang macam Merseyside Derby antara Liverpool dan Everton.
Pria itu tampak cemas ketika banyak orang-orang mabuk hingga akhirnya dia menelpon Izzy dengan tidak kentara.
"Ya Damian?" sapa Izzy.
"Hei, apakah kamu bakalan aman? Aku lihat banyak orang di seberang sambil nonton bola tadi saat aku hendak pulang. Apalagi ini kan Derby..."
"Oh Damian, apakah kamu mengkhawatirkan aku? Tenang saja, aku sudah lama tinggal disini dan para tetangga kami selalu saling menjaga jika acara sepak bola" jawab Izzy tenang.
"Are you sure ( apakah kamu yakin ) Izzy?"
"Damian, Polsek disini berada dekat dengan toko - toko sekitar kami."
Damian tertawa kecil. "Mungkin aku memang terlalu khawatir."
"Wajar Damian, karena kamu bukan orang lokal jadi tidak tahu situasinya. Beside, aku mengenal hampir semua orang disini jadi kami saling menghormati dan menjaga khas pedesaan Skotlandia."
"Maaf jika aku terlalu panik" ucap Damian.
"It's okay. Selamat beristirahat Damian."
"Good night Izzy."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️