The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Operasi Izzy



Western General Hospital Edinburgh Skotlandia


Damian datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit sambil membawa satu kotak sandwich dan dua botol susu serta air mineral. Pria itu mengetuk pintu ruang rawat inap Izzy dan membukanya pelan. Tampak Hunter masih terlelap di atas sofa tapi Izzy sudah bangun dan tersenyum saat melihat Damian datang.


"Kok sudah bangun ?" tanya Damian sambil duduk di sebelah Izzy. "Sorry Izzy, kamu tidak boleh makan sandwich ku."


Izzy tertawa. "No, Dami. Kamu makan saja."


"So, kenapa kamu bangun pagi-pagi Izzy. Apa kamu tidak bisa tidur?"


Izzy tersenyum. "Actually, aku mencoba ibadah subuh."


Damian yang hendak menggigit sandwich nya, sampai berhenti di udara. "Say that again ( katakan sekali lagi )?"


"Mencoba berdoa sesuai dengan keyakinan kamu tapi aku tidak menemukan mukena jadi aku pakai handuk untuk menutupi kepalaku..."


Damian meletakkan sandwich di atas piring dekat nakas sebelah tempat tidur Izzy lalu memeluk gadis itu. "Aku senang mendengarnya..."


"Aku belajar dari ponsel dan memang benar, aku lebih tenang menghadapi operasi hari ini." Izzy tersenyum dalam pelukan Damian.


"Ya ampun kalian ! Ini masih pagi !" gumam Hunter yang sudah bangun. "Kamu bawa apa Dam?"


"Sandwich, susu dan air mineral." Damian melerai pelukannya ke Izzy lalu menatap Hunter.


"Aku ke kamar mandi dulu." Pria berdarah Irlandia itu pun menuju kamar mandi dengan wajah sedikit mengantuk.


"Jam berapa kamu jadwal operasinya?" tanya Damian setelah Hunter masuk ke dalam kamar mandi.


"Jam delapan pagi."


Damian melirik ke arah jam Patek Philippe nya. "Satu jam lagi..."


"Selamat pagi Miss McDouglas" sapa suster yang datang ke kamar Izzy. "Saya periksa tensi dan suhu dulu ya."


Damian pun menyingkir dari sisi tempat tidur Izzy untuk memberikan tempat ke suster guna memeriksa gadis itu.


Hunter yang sudah selesai dari kamar mandi pun, melihat adiknya sedang diobservasi.


"Mana sandwich nya Dam ? Aku tiba-tiba lapar..." tanya Hunter.


"Tuh, diatas meja."


Hunter membuka kotak makanan dan mengambil satu sandwich disana. "Beef huh ?"


"Yup. Enak ?"


"Enak." Hunter lalu duduk di sebelah Damian yang duduk di sofa. "Kamu yang membuatnya?"


"Yup. Thanks kalau bilang enak" senyum Damian. "It's only a sandwich."


"Tapi kalau sausnya tidak enak, tetap saja kurang, Dam."


"Gentlemen, bisakah anda semua keluar ? Saya harus menggantikan baju pasien..." senyum suster yang datang memeriksa Izzy.


"Sure." Hunter dan Damian pun berdiri. "Kami keluar dulu Izzy."


Izzy tersenyum sambil mengangguk.


***


"Aku cemas Dam..." ucap Hunter saat mereka berdua berada di kursi tunggu depan kamar Izzy.


"Memangnya aku tidak ?" jawab Damian.


"Secara teori, memang oke tapi itu kan..."


"Hunter, be positive. Jangan memberikan aura negatif ke Izzy. Dia sudah berani mengambil keputusan dan aku tetap akan bersama Izzy."


"Kita ambil worst case scenario, kalau operasi Izzy nantinyq Izzy tetap tidak bisa berjalan sempurna..."


"Tetap aku bersama Izzy, Hunter. Dengar, aku dan Izzy sudah saling cocok. Kamu merestui, mommy suka Izzy, kurang apalagi ? Lagipula, aku juga sudah oke jika Izzy membuka toko bunga di Dubai nanti jika kami sudah menikah. Aku tahu adik mu itu bukan tipe yang bisa berdiam diri saja di rumah. Selama masih kegiatan positif, kenapa tidak?" potong Damian.


Hunter menoleh ke adik sepupu Bayu O'Grady itu. "Kamu benar-benar keturunan Blair yang benar... Oh, Blair dan Giandra yang benar."


"Memang mas Bayu nggak ?"


Damian terbahak. "Bisa berubah jadi Twister F-5 kalau sampai mas Lisus dengar..."


"Ah aku sudah biasa Dam. Bayu ribut dengan Radeva juga sudah biasa. Bayu kan hanya kalah kalau sama Ajeng..." kekeh Hunter.


"Hebat lho mbak Ajeng. Benar-benar Lois Lane nya mas Lisus."


"Yup."


Dokter yang akan menangani Izzy pun datang dan tak lama, gadis itu dikeluarkan dari kamarnya dengan brankar.


"Mr McDouglas, Mr Blair, operasi Miss Elizabeth McDouglas akan segera dilaksanakan. Anda bisa menunggu di ruang depan ruang operasi..."


"Kira-kira berapa lama operasi nya ?" tanya Hunter.


"Plus minus sekitar lima jam tapi bisa kurang."


Izzy menatap ke kedua pria yang disayangi sambil tersenyum. Gadis itu sudah mengenakan pakaian operasi termasuk hair cap.


"Kalian kenapa?" tanya Izzy yang melihat kakak dan kekasihnya tampak serius.


"Menghitung berapa pizza harus kita pesan" jawab Hunter sambil nyengir. "Tapi nanti tunggu kamu kentut dulu baru boleh minum dan makan..."


Wajah Izzy memerah saat Hunter mengatakan soal kentut keras-keras. "Kak Hunter !" hardik Izzy malu.


"Lho bukannya begitu ?"


Izzy cemberut membuat Hunter dan Damian tertawa kecil.


"Mari, kita ke ruang operasi" ucap Dokter bedah tulang itu.


Sepanjang perjalanan menuju ruang operasi, Hunter dan Izzy saling menggenggam tangan satu sama lain. Damian sendiri membiarkan kedua kakak beradik itu saling menguatkan karena tahu bagaimana dekatnya hubungan Hunter dan Izzy meskipun jarang bertemu.


"Baik, kami akan segera masuk. Silahkan Mr McDouglas, Mr Blair ..."


Hunter mencium kening dan pipi Izzy. "Good luck Sis. Aku akan menunggu di ruang tunggu" ucap Hunter dengan nada bergetar menahan haru.


"Kak, kalau operasi nya..."


"Pasti akan berhasil. Dengar, kapan lagi kamu minta dibuatkan toko bunga sama Emir Dubai?" kerling Hunter membuat Izzy tertawa kecil.


"Thanks kak."


"Always, Sis. Always..." Hunter memberikan kesempatan kepada Damian untuk mensupport adiknya.


"Just relaks. Bayangkan saja aku harus menjual Patek Philippe ku untuk membangun toko bunga untukmu..." cengir Damian membuat Izzy tertawa.


"Thanks Dami."


"Love you Izzy. Kamu sangat berani..." Damian mengelus pipi Izzy.


"Kamu dan kak Hunter yang membuat aku berani."


Damian mencium kening Izzy. "Aku tunggu disini, bersama Hunter." Pria itu lalu mencium bibir Izzy lembut.


"Mr Blair ... " tegur dokter bedah tulang itu sambil tersenyum.


"Ah iya. Maaf.. Good luck Izzy."


"Thanks Dami. Thanks kak" ucap Izzy sambil melambaikan tangannya sebelum masuk ruang operasi.


Dua orang pria yang sama-sama menyayangi dan mengasihi Izzy pun membalas lambaian tangan gadis itu. Tak lama lampu di kamar Operasi pun menyala.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️