The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Pamit



Toko Bunga Milik Elizabeth McDouglas


Damian memilih untuk pergi dari toko bunga itu setelah mencuci piring yang dibawanya, ke sebuah cafe kopi yang berada di sebelah toko Izzy. Damian tidak mau mengganggu Izzy dan Betty yang sibuk bekerja.


Damian tersenyum saat teringat ucapan Izzy yang menggodanya karena memakai jam Hublotnya. Dam, Damian, bagaimana kamu pakai jam mahalmu sih? Dasar kebiasaan !


Suara ponselnya berbunyi dan Damian tersenyum melihat siapa yang meneleponnya.


"Assalamualaikum mommy" sapa Damian.


"Wa'alaikum salam. Bagaimana Knightswood? Sudah bisa menikmati tinggal disana?" tanya Raana lembut seperti biasanya.


"Alhamdulillah sudah menikmati hidup di pedesaan."


"Apakah ada yang menarik? Bagaimana dengan orang-orangnya?"


"Sangat khas Inggris tapi ya enjoy saja."


"Apa kesibukan kamu Dam?"


"Memancing, membersihkan rumah, merawat bunga mawar..."


"Tunggu ! Kamu merawat tanaman? Mawar? Kaktus di kamar kamu saja sampai mati, kamu sekarang merawat bunga mawar?" potong Raana yang tidak percaya putranya yang berlibur ke Glasgow berubah banyak. "What happened ( apa yang terjadi ) Damian?"


"Well, aku gabut terus rumah Opa Duncan terlalu dominasi warna putih dan kayu lalu aku mencari alternatif biar lebih semarak, akhirnya aku ke toko bunga dan tertarik dengan bunga mawar orange. Kata Izzy, sesuai dengan karakteristik aku..."


"Siapa Izzy?" potong Raana lagi.


"Pemilik toko bunga itu mommy."


"Apakah dia wanita tua khas Inggris?"


Damian terbahak. "No mom, Izzy masih muda."


"Apakah dia cantik?" goda Raana. Damian bersyukur ibunya menggunakan bahasa Arab jadi dirinya pun menggunakan bahasa itu.


"Punya gigi kelinci..." jawab Damian mengambang.


"Kamu suka dia Dam?"


"Belum tahu. Biarkan saja mengalir saja dan aku tidak mau terburu-buru juga."


"Dam, nikmati hidup kamu. Daddy tidak masalah kamu liburan yang lama toh kamu juga bisa bekerja dari sana. Setidaknya, tanggung jawab kamu di AJ Corp tidak terlupakan."


"Tentu mom. Aku tidak mungkin meninggalkan tanggung jawab aku di pekerjaan meskipun hanya dua sampai tiga jam setiap pagi."


"Kabari mommy kalau ada update ya. Oh, namanya lucu juga... Izzy" goda Raana.


"Moooommmm..."


Raana tertawa. "Jangan lupa pulang pas ulang tahun Oma Sabine."


"Oke mom. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam sayang."


Damian tersenyum usai menerima telepon dari Raana sang ibu.


"Dam! Aku minta tolong!" panggil Izzy saat melihat Damian duduk di kursi cafe di sebelah.


"Oke Izzy." Damian menghabiskan kopinya dan meninggalkan uang diatas meja lalu menghampiri Izzy.


"Minta tolong apa?" tanya Damian saat sudah dekat ke Izzy.


"Tolong bawakan pot-pot itu. Lumayan besar soalnya" senyum Izzy sambil menunjukkan beberapa pot tanah liat yang besar. "Klien ku membelinya."


"Hai Mate, bisa bantu membawakan?" tanya seorang pria paruh baya yang keluar dari toko Izzy. "Mobil pickup aku disana dan biasanya ada Jack, adik Betty yang bisa dimintai tolong tapi dia sedang bekerja shift pagi."


"Sure. Tidak masalah" jawab Damian santai.


"Sorry Dam, aku tidak tahu minta tolong siapa lagi" senyum Izzy.


"Berarti aku sudah diterima kerja nih?" goda Damian sambil membawa pot-pot besar itu.


"Anggap saja sudah ! Betty bisa marah padaku karena aku tidak menerima pembuat makanan enak nanti" kekeh Izzy.


Damian tertawa lalu mengikuti klien Izzy sambil membawa pot-pot itu.


***


"Wah untung ada kamu, boy. Kasihan Izzy dan Betty kalau harus membawanya. Memang orang-orang di sekitar biasa membantu kalau kedua gadis itu kerepotan saat Jack tidak bisa membantu. Tapi tadi kata Izzy, ada temannya datang jadi bisa membantu" ucap pria tua itu sambil menutup pintu bak mobil terbukanya.


"Kamu bisa panggil aku Dec dari Declan. Aku pemilik penginapan tidak jauh dari sini dan pot-pot itu untuk menggantikan pot yang sudah usang" jawab Declan sambil bersalaman dengan Damian.


"Damian" ucap Damian sambil memperkenalkan diri.


"Kamu bukan orang Scottish. Brit?! Amerika?"


"Half Brit half Amerika. Aku dari London. Bagaimana anda tahu aku bukan Scottish?" Damian menatap pria itu sambil tersenyum.


"Aksen kamu berbeda. Well selamat datang dan tinggal di Knightswood. Semoga betah." Declan pun berpamitan.


"Sure Dec." Damian membalas lambaian tangan Declan saat mobil pickup itu pergi dari parkiran.


***


"Aku tidak akan ada disini mulai besok sampai Minggu depan ya?" ucap Damian saat sudah kembali ke toko bunga Izzy sambil membereskan bawaannya.


"Kamu jadi ke London, Dam?" tanya Izzy yang juga mempersiapkan tanaman Damian. "Bagaimana dengan mawarmu?"


"Makanya besok pagi sebelum aku ke London, pagi aku kemari menitipkan mawar aku disini. Kasihan kalau sampai mati" jawab Damian santai.


"Dimana-mana biasanya penitipan hewan tapi kali ini berbeda, penitipan tanaman" gelak Betty.


"Jadi monstera nya dipending dulu ya Dam. Biar tetap terawat disini. Bagaimana?" tawar Izzy.


"Absolutely. Kan Minggu depan aku sudah kembali ke Knightswood" jawab Damian.


Izzy mengangguk.


Damian pun berpamitan untuk pulang karena hari sudah mulai senja dan toko bunga milik Izzy tutup pukul lima sore.


***


Keesokan Harinya...


Damian memarkirkan mobilnya di parkiran umum sembari membawa pot bunga mawarnya yang semakin berbunga banyak. Tampaknya harus segera dipecah ini biar tetap bisa tumbuh dengan sehat.


Pria itu pun memencet bel toko Izzy dan mendengar langkah kaki dari gadis itu. Damian merutuk dirinya karena datang jam tujuh pagi disaat Izzy pasti masih tidur. Tapi aku harus sampai London sebelum sore.


Suara kunci dibuka dan tak lama wajah Izzy muncul dari balik pintu dengan gigi kelincinya yang menurut Damian sangat kiyut.



Izzy


"Selamat pagi Dam" sapa Izzy.


"Pa.. pagi Izzy. Maaf jika pagi-pagi sudah membuat kamu bangun" seyum Damian.


"Oh it's okay. Lagipula aku gadis pagi kok, jam enam sudah bangun. Jadi pulang ke London?" balas Izzy.


"Jadi. Makanya aku titip mawarku ya." Damian menyerahkan pot bunga mawar orange itu ke Izzy.


"Wah Dam, ini harus segera dipecah menjadi dua pot sebab akarnya sudah mulai sesak ditambah bunganya juga banyak" komentar Izzy.


"Sekalian aku minta tolong deh pada ahlinya. Aku pulang kan tinggal jemput" cengir Damian.


"Sure, tidak masalah." Izzy memperhatikan bagaimana Damian serius merawat bunga mawarnya. "Kamu sangat telaten merawatnya Dam. Aku salut."


"Thanks. Oh, aku harus pergi. Aku tidak mau terlalu sore masuk London yang sudah pasti macet !" senyum Damian.


"Oke Dam. Hati-hati di jalan" ucap Izzy.


"Nanti aku bawakan oleh-oleh untuk kamu, Betty dan Jack. Makanan."


Izzy tertawa. "Thanks Dam."


"See you next week, Izzy."


"Bye. Be Careful."


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️