The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Acara Merayu



Restauran McIntyre di Knightswood Glasgow Skotlandia


Dahir melihat bagaimana Damian tampak santai mengobrol dengan Izzy dan Betty membicarakan acara ulang tahun Oma Sabine.


"Jadi Opamu itu tattoan? Dua tangannya? Penuh?" tanya Izzy.


"Yup. Penuh ! Badan juga ada. Tapi setelah menikah dengan omaku, opa berjanji tidak menambah tattoo lagi."


"Kamu tattoan nggak Damian?" tanya Izzy lagi.


"No. Aku tidak suka merusak badanku dengan kena rajam jarum."


"Bagus lah. Aku juga tidak suka melihat pria bertatto."


Damian juga mendengarkan cerita Betty tentang patahnya kaki meja yang membuat semua media tanah tumpah ruah.


"Terpaksa aku lembur lah Mr Azzam. Membersihkan semuanya sampai Jack menyusul ku ke toko. Dan malam itu kami memesan meja supaya bisa diantar esok paginya."


"Kasihan..."


Ketiga orang itu menoleh ke arah Dahir yang menikmati fish and chipnya.


"Kalau kasihan, harusnya besok anda harus datang Mr Saab. Membantu kami mengurus pot dan angkut - angkut sak tanah dan berbagai macam pupuk serta media." Betty menatap serius ke Dahir.


"Oke. Tidak masalah." Pria berdarah Arab itu pun tersenyum ke Betty.


"Aku pegang janji anda, Mr Mannequin" seringai Betty.


"What?" Dahir tidak terima dipanggil Mr Mannequin.


Betty mengerucutkan bibirnya dan membuat Dahir terpesona melihat wanita berambut pirang di hadapannya. Wanita ini tidak cantik macam model tapi semuanya serba menarik.


Mereka berempat menyelesaikan makanannya dan Damian yang membayar semuanya.


Jack menghampiri Damian dan mengatakan kalau dirinya mendapatkan libur pada hari Minggu dan meminta ijin pagi-pagi untujk datang ke rumah keluarga Blair. Damian dengan senang hati menerima Jack dan pemuda itu langsung memeluk Damian dengan wajah bahagia yang tidak ditutupi nya.


Betty tampak terharu melihat bagaimana Jack yang sulit untuk berinteraksi dengan orang asing, bisa dengan mudahnya langsung memeluk Damian. Meskipun Jack memiliki kebutuhan khusus, pemuda itu memiliki kepekaan tersendiri pada orang asing. Dan Jack pasti tahu kalau Damian adalah orang baik hingga dia tanpa ragu berbuat seperti itu.


Izzy mengelus punggung Betty karena dia tahu bagaimana khawatir nya Betty akan adiknya. Bersyukur mereka tinggal di area kota kecil di area Glasgow hingga tidak seramai jika di kota Glasgow nya. Lingkungan di Knightswood benar-benar lingkungan pedesaan yang orangnya kenal satu sama lain dan care sesama.


Setelahnya Betty memeluk Jack untuk kembali ke tokonya bersama rombongan. Betty mengucapkan terimakasih kepada Damian yang bersedia meluangkan waktunya untuk adiknya melakukan hobi memancingnya.


Dahir bisa melihat bagaimana Damian dengan santainya menanggapi ucapan Betty seolah mereka sudah kenal lama. Diam-diam Dahir akan melaporkan kepada Direndra dan Raana tentang kegiatan Damian selama di Knightswood.


***


Damian dan Dahir membantu Izzy dan Betty menjual banyak tanaman hari ini. Bahkan Dahir harus merelakan kaos Lacoste nya terkena pupuk akibat menggotong banyak ke belakang truk Declan, salah satu pelanggan Izzy.


Betty memberikan sebotol air mineral dingin kepada Dahir yang sedang beristirahat usai membawa hampir 30 sak 5 kilogram pupuk dan media tanah.


"Thanks Betty." Dahir tersenyum sambil menerima botol air mineral itu dan membuka tutupnya lalu menenggaknya hingga separo. "Kalau misalnya tidak ada aku atau Damian, siapa yang mengangkat sak sebanyak itu?"


Betty tersenyum. "Meminta bantuan orang sekitar."


Dahir mengangguk. "Kalian tutup jam berapa biasanya?"


"Jam lima sore kami tutupnya. Biasanya aku dan Izzy menghitung dulu pendapatan kami hari ini lalu disimpan. Besok baru kami masukkan ke bank. Pendapatan kami tidak banyak Dahir tapi cukup buat aku dan Izzy." Betty duduk di sebelah Dahir. "Frankly, semenjak Mr Azzam datang, kami jauh lebih senang. Jangan kamu berpikir macam-macam dulu, Mr Azzam pria yang gentleman dan kami sangat senang berteman dengannya. Tapi aku tidak tahu statusnya apa, bujangan atau sudah menikah atau duda..."


"Apakah kamu naksir Damian?" tanya Dahir.


"Nak... Naksir Mr Azzam?" Betty tertawa. "No, Dahir, aku menganggap Mr Azzam seperti teman dan aku tahu aku lebih tua darinya. Aku bisa melihat dia menyukai Izzy. Hei, kami sebulan bersama jadi aku tahu lah bagaimana bahasa tubuh Mr Azzam ke Izzy."


"Kalau soal status Damian, biar dia sendiri yang bercerita. Bagaimana denganmu?" tanya Dahir sambil menenggak air mineralnya.


"Aku? Aku janda cerai, karena mantanku kecantol dengan wanita yang memiliki dada lebih besar dariku."


Dahie tersedak minumannya membuat pria Arab itu terbatuk - batuk. Betty menepuk punggung lebar Dahir dan tampak kasihan melihat wajah pria berbrewok itu memerah.


"Da...da lebih besar? Betty, dadamu sudah cukup bagus.... Aduuuuhhhh!" Dahir merasakan Betty meninju punggungnya.


"Nggak sopan !" bentak Betty gusar.


"Itulah. Aku tidak hanya kehilangan suamiku tapi juga anak yang aku kandung. Aku mengalami keguguran saat surat cerai itu datang. Dan... aku sempat terjerumus minuman beralkohol. Beruntung kecelakaan membuatku sadar apalagi aku bertemu dengan Izzy. Jadilah kami menjadi duo penjual bunga."


"Kamu hebat Betty. Bisa bangkit dari keterpurukan dan aku salut padamu" ucap Dahir tulus.


"Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah menikah?" Betty menatap wajah tampan Dahir yang khas timur tengah.


"Well, aku sempat dijodohkan tapi malah dia melarikan diri saat hendak ijab. Akhirnya aku memilih untuk bekerja saja tanpa memikirkan keinginan untuk menikah."


"Di usia berapa kamu dijodohkan?"


"25."


"Sekarang?"


"33 tahun. Kamu?"


"Aku 31 tahun Dahir."


Setelahnya keduanya tertawa. "Kehidupan kita itu memang penuh warna" senyum Betty.


"Kamu tahu, kalau di agamaku, semua yang terjadi sudah digariskan sejak usia kita empat bulan dalam kandungan. Jadi jika memang kamu harus bercerai atau aku batal menikah, itu sudah digariskan." Dahir menatap Betty.


"Benarkah?"


Dahir mengangguk.


"Apakah Mr Azzam menganut keyakinan yang sama denganmu?"


Dahir mengangguk lagi. Betty pun terdiam.


***


Di dalam Toko


Damian sedang memandang Izzy yang sibuk membuat pembukuan pendapatan hari ini karena hendak masuk jam tutup toko.


"Jadi kamu simpan dimana uangnya Izzy?" tanya Damian.


"Di brankas kamar tidur aku. Besok Jumat baru aku masukkan ke bank. Rutin kok aku Dam." Izzy tersenyum ke arah Damian yang duduk di hadapannya. "Pendapatan kami tidak banyak tapi kami selalu mendapatkan keuntungan."


"Baguslah. So, besok kamu ikut acara memancing?" Damian menatap Izzy.


"Damian, kamu itu bagaimana. Hari Minggu adalah waktu aku beristirahat" senyum Izzy.


"Oh ayolah Izzy, apakah kamu tidak rindu masakan aku?" Damian mengedipkan sebelah matanya.


Izzy tertawa terbahak-bahak. "Astaga, Mr Damian Azzam. Apakah kamu sedang merayuku ?"


"Mungkin..."


Izzy menggelengkan kepalanya. "Tampaknya aku akan susah untuk menolaknya bukan? Apalagi dengan iming-iming makanan enak."


"Exactly." Damian tersenyum lebar.



Yang mencoba merayu si gigi kelincinya


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️