The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Aku Hanya Tidak Bisa Bersamamu



Istana Al Jordan Dubai UAE


"Mau apa kamu sama mas Dam?" tanya Ken dengan nada tidak bersahabat.


"Hanya menyapa. Apa kabarnya" senyum Raana sambil berjalan masuk ke dalam istana. Ayahnya sudah berjalan terlebih dahulu setelah disambut Enzo Al Jordan sebagai tuan rumah.


"Ken, Damian datang sendirian?" tanya Alexander.


"Apa kamu berharap mas Dam sudah ada pasangan Lex?" Ken balik bertanya.


"Siapa tahu..." jawab Alexander sambil merangkul pinggang Kalila masuk ke dalam.


"Tidak semudah itu Férguso. Rudolfo sedang pelan-pelan mencari Marimar" jawab Ken cuek.


"Haaahh?" ketiga orang itu menatap Ken bingung.


***


Damian sedang mengobrol dengan si kembar Thea dan Stefan Ramadhan yang datang mewakili keluarga Ramadhan. Ayah si kembar, Adrian Ramadhan sedang ada acara di London bersamaan dengan acara keluarga Al Jordan.


"Jadi kamu sekarang sudah bisa dilepas sama Nelson dan Oom Travis ?" tanya Damian ke adik perempuannya yang berkulit eksotis itu.


"Iya mas. Alhamdulillah mas Nelson dan Oom Travis sudah memberikan kepercayaan buat urus klien" senyum Thea.


"Aku bangga lho sama kamu. Stefan bagaimana dengan pekerjaan kamu di Land Rover?"


"Well, jadi pesaing Daddy..." gelak Stefan Ramadhan. "Tapi mau gimana, aku tidak mau bekerja di Koenigsegg."


"Jadi kamu di Coventry Inggris, Thea di New York, Oom Adrian dan Tante Lovisa di Stockholm?" Damian menggelengkan kepalanya.


"Bagus kan?" cengir Stefan. "Thea sudah menjadi junior partner di Blair jadi ya harus disana lah."


"Mas Dam... Mantan istrimu datang" bisik Thea membuat Damian menoleh ke arah mata coklat adiknya mengarah.


"Damian... Mantan suamiku... " Reema hendak memeluk Damian tapi pria itu mengelak.


"Kita sudah bukan suami istri Reema" tolak Damian.


"Oh come on Dam. Apa kamu tidak rindu dengan aku?"


Stefan dan Thea melongo. Whaaaatttt?


Damian tersenyum smirk. "Memikirkan kamu saja tidak!" jawab pria itu tegas.


"Dam, jangan-jangan kamu memiliki kelainan... Tidak tertarik dengan wanita?" ucap Reema sedikit keras.


Sepupu Damian yang melihat itu, tampak terkejut mendengar bagaimana Reema mencoba menjatuhkan saudara mereka di depan banyak orang.


"Kelainan? Hah ! Aku masih normal Reema. Aku hanya tidak tertarik dan tidak bisa dengan mu saja... Beda konteks ya Reem." Damian tersenyum sinis. "Karena aku tidak bisa bersama dengan wanita yang terlalu memaksakan kehendaknya."


Damian pun pergi meninggalkan Reema ke tempat acara utama dilaksanakan. Stefan dan Thea melihat bagaimana wajah Reema tampak memerah menahan amarah.


"Apa yang kurang dariku, Thea?" tanya Reema ke Thea.


"Mas Dam memang tidak tertarik padamu bukan karena kamu kurang cantik tapi karena memang tidak mau sama kamu. Apalagi kamu semakin memaksa, mas Dam semakin tidak suka padamu." Thea menatap Reema prihatin. "Pria itu tidak suka dikejar dan dipaksa kecuali dia sangat mencintaimu."


Reema menatap kepergian Damian. Akan aku buat Damian berbalik mengejar aku !


***


"Sendra !" panggil Damian ke sepupunya.


"Sudah kamu mentalkan Reema?" tanya Gasendra.


"Short of. Dia rada tidak waras!" bisik Damian "Boleh kah aku meminjam ruang kerja mu? Aku hendak menenangkan diri."


"Pakai saja. Kunci kalau perlu. Kita tahu bagaimana nekadnya Reema kan?" senyum Gasendra.


"Acara tiup lilin jam berapa?"


"Setengah jam lagi."


Damian melirik jam tangan Hublotnya. Cukup lah ! "Aku pinjam ruanganmu dulu."


"Silahkan."


Damian masuk ke dalam ruang kerja Gasendra yang merupakan bekas ruang kerja Senna Al Jordan yang dipakai Gasendra dan Ayrton sekarang. Pria itu mengunci pintunya dan duduk di sofa lalu mengambil ponselnya.


Gerakan Damian tidak lepas dari pantauan Reema yang ingin berduaan dengan Damian. Dan tanpa kentara, wanita itu mendekati pintu ruang kerja, namun dia harus gigit jari karena pintu itu terkunci dari dalam.


Sialaaaannn!


***


Ruang Kerja Ayrton dan Gasendra Schumacher


Damian tersenyum ketika Izzy membalas panggilan videonya.


"Ruang kerja Opaku. So, bagaimana mawar-mawarku?" senyum Damian yang merasa senang bisa melihat gadis bergigi kelinci nya.


"Ya ampun, Mr Azzam, anda menanyakan mawar - mawar anda tapi tidak menanyakan bagaimana makan siang kami enak atau tidak?" sahut Betty mendrama membuat Damian tergelak.


"Bagaimana makan siangnya?" goda Damian.


"Terlambat dan saya sudah malas menjawabnya..." Betty lalu meninggalkan layar ponsel Izzy.


"Betty menunggu chef dadakan memberikan makan siang enak itu Dam. Jangan didengarkan" kekeh Izzy. "Bagaimana pesta Oma kamu?"


"Masih berlangsung tapi aku pusing dengan banyaknya tamu jadi aku menelpon dirimu agar tahu soal mawar ku."


Izzy tertawa. "Bilang saja kamu rindu kami bukan?"


"Exactly !" jawab Damian tegas.


Izzy tersenyum lalu membawa ponselnya. "Dam, lihat ini mawar-mawarmu yang sudah aku pecah. Bagaimana?" Gadis itu memperlihatkan bunga mawar yang sudah dipecah menjadi empat pot.


"Wow ! Tidak heran aku mempercayaimu, Izzy untuk menitipkan mawarku." Damian merasa takjub melihat bunga mawarnya tampak cantik dan terawat.


"Monstera kamu juga tampak cantik dan tidak sabar pindah ke rumah kamu. Lihat..." Izzy menggeser kamera ponselnya dan Damian setuju dengan ucapan gadis itu.


"Kamu kasih makan apa Izzy? Salmon?" goda Damian.


Izzy memindahkan kameranya menjadi wajahnya lagi. "No Dam, aku berikan daging Wagyu setiap hari!"


Damian terbahak. "Memangnya Venus Flytrap?"


Izzy tampak terkejut. "Damian Azzam, apakah kamu baru saja membuka buku flora dan Botanica?"


"Tampaknya seru ya punya tanaman seperti itu..." gumam Damian.


"Sorry Dam, aku tidak menyediakan karena aku tidak suka kekerasan" sahut Izzy dramatis membuat Damian geli dan gemas dengan gadis itu.


"Hei, apakah kalian sangat suka coklat? Omaku membawakan banyak coklat dari Dubai dan Belgia" ucap Damian.


"Coklat? Mana?" seru Betty semangat. "Apakah oleh-olehnya nanti coklat Mr Azzam?"


"Kalian suka?" tanya Damian.


"Mr Azzam, coklat mawar dan berlian adalah kelemahan seorang wanita" senyum Betty. "Bukan kah Marilyn Monroe pernah bilang begitu?"


"Astagaaaa ! Betty !" tegur Izzy. "Maaf Dam. Betty memang lemah dengan oleh-oleh makanan gratis..."


"Tentu saja lah !"


Damian tertawa mendengar keributan dua gadis itu. "Minggu depan aku pulang, akan aku bawakan banyak makanan enak buat kalian berdua."


"Yeeaaahh ! Izzy, tidak percuma kita menerimanya menjadi pegawai baru."


Izzy memutar matanya sebal. "Betty ! Ampun deh !"


"Tidak apa-apa Izzy. Lagipula kalau uangku kurang, aku bisa menjual Hublot aku."


Gantian Izzy yang terbahak. "Berapa kardus coklat yang bisa kamu dapatkan dari jam tanganmu itu Dam..."


Damian hanya nyengir. Mengobrol dengan dua gadis yang santai itu membuat moodnya membaik.


"Damian, aku bersiap untuk tutup toko dulu ya. Have fun disana" ucap Izzy.


"Oke Izzy. Senang berbicara dengan kalian berdua."


"Cepat pulang Mr Azzam. Aku menunggu coklat nya" teriak Betty cuek.


Damian tertawa kecil. "Bye Damian" pamit Izzy. "Bye Mr Azzam!" sahut Betty.


"Bye Izzy, Bye Betty.." Damian mematikan panggilannya lalu memasukkan ke dalam saku jas dalamnya. Pria itu mendengar suara ketukan di pintu dan membukanya. Tampak Ken berdiri disana.


"Mas Dam, sudah hendak mulai acara utamanya."


"Thanks Ken" jawab Damian sambil tersenyum membuat Ken mengernyitkan alisnya.


Kenapa mas Damian tampak senang?


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️