The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Ke Knightswood



Di dalam pesawat milik Blair Emir perjalanan pulang ke Dubai dari Bahrain


Ken dengan telaten mengobati Damian dengan peralatan dokternya yang sudah dia bawa dan siapkan di pesawat. Thea dan Nelson tampak prihatin dengan wajah babak belur Damian.


"Mas, apakah sakit?" tanya Thea.


"Sakitnya nggak seberapa dengan perasaan lega, Thea. Setidaknya mas Damian sudah bebas dari pernikahan yang tidak bikin bahagia" jawab Damian sedikit berbisik karena bibirnya pecah dan membiru.


"Kamu nanti pulang ke istana Al Azzam atau apartemen?" tanya Nelson.


"Apartemen saja. Mommy bisa shock melihat wajah aku seperti ini nanti... Addduuuhhh..." Damian mendelik ke arah Ken yang nyengir.


"Sorry bro..."


"Sakit dodol!" hardik Damian.


"Tadi katanya sakitnya nggak seberapa..." ejek Ken.


"Tapi ini beneran sakit, Kentongan!"


Ken terbahak mendengar panggilan ejekan nya saat kecil kalau Damian kesal dengan kejahilannya. "Akhirnya balik juga mas Dam bendungan yang ceria setelah tiga bulan macam singa sembelit!"


"Reseh lu!" hardik Damian kesal membuat Nelson dan Thea tertawa.


"Sudah Dam. Habis ini, kamu ajukan cuti panjang ke AJ Corp, biar menata hati dan mood kamu dulu" senyum Nelson.


"Iyalah! Aku mau kabur ke Skotlandia tapi sebelumnya aku mampir ke mas Eagle dan mbak Elane terus ke Opa dan Oma."


Neslon menepuk bahu Damian. "Find your own happiness bro ( carilah kebahagiaan mu sendiri ). You deserve it ( kamu berhak mendapatkan )."


"Thanks bro."


***


Dua Minggu Kemudian...


Berita perpisahan Damian dan Reema memang semua keluarga besar sudah tahu, tapi seperti yang sudah-sudah, cukup tahu dan tidak ada perjulidan karena memang bukan hal yang patut dijulidin. Mereka semua menghormati privacy dan perasaan keluarga Direndra dan Raana, terutama Damian yang mengalaminya.


Dan sekarang, Damian tiba di London dan langsung menuju kediaman Aidan dan Thara Blair. Menurut rencana, Damian akan menghabiskan seminggu di London sebelum pergi ke Glasgow untuk ke rumah singgah milik keluarga Blair.


Aidan tersenyum saat cucunya datang dan langsung memeluknya. Chef terkenal yang sudah pensiun itu hanya memberikan senyuman khas nya ke Damian pertanda bahwa semuanya akan baik-baik saja. Thara yang sedikit emosional karena di usianya belum ada 30 tahun, sudah menyandang status duda.


"Kamu baik-baik saja kan Dam?" tanya Thara sambil memegang wajah cucu tampannya.


"Insyaallah baik-baik saja Oma" senyum Damian.


"Opa yakin kamu akan baik-baik saja, Dam. Kamu keturunan orang-orang kuat, Pratomo, Blair, Giandra, Al Azzam... Mereka semua semua memiliki gen kuat" ucap Aidan.


"Iya Opa. Setidaknya aku tidak melanggar janjiku untuk mengembalikan Reema dalam keadaan utuh tidak tergores sedikit pun secara fisik" jawab Damian.


"Good. Itu namanya cucu Opa." Aidan tersenyum ke Damian dengan bangga karena cucunya sangat gentleman.


"Kamu dihajar ayah Reema, Dam?" tanya Thara saat melihat bekas-bekas luka meskipun sudah dua Minggu.


"Wajar lah Oma. Ayahnya tidak terima aku mengembalikan putrinya tapi kan memang aku tidak bisa melanjutkan pernikahan timpang seperti ini. Beda dengan Opa dan Oma. Kalian kan dulu memang sebenarnya sudah ada rasa kagum satu sama lain tapi karena gengsi saja ... Aduuuuhhhh!" Damian mengaduh karena pinggangnya dicubit oleh Thara.


"Nggak usah banding-bandingkan!" hardik Thara dengan wajah memerah. ( Baca My Cold Chef ).


"Ya Allah Oma. Sudah 70an masih saja kuat cubit pinggang aku..." rengek Damian sambil mengusap-usap pinggangnya.


"Kethok kepala kamu pakai spatula juga masih kuat!" hardik Thara gemas meskipun dalam hatinya senang melihat Damian menjadi manja ke dirinya seperti biasanya.


"Gini nih punya opa dan Oma sama-sama chef. Senjatanya kalau nggak spatula, wajan, roll pin, kompor..." gerutu Damian membuat Aidan tersenyum.


"Welcome back Dam. Opa kangen kamu yang seperti ini..." Aidan memeluk cucunya.


"Thank you Opa." Damian menitikkan airmata terharu atas semua dukungan kedua opa dan Omanya. Ketiganya pun saling berpelukan hangat.


***


Kediaman Eagle dan Elane McCloud


"Doa yang mana?" tanya Damian bingung melihat sepupunya uring-uringan.


"Fesya bakalan sama bar-barnya dengan kakaknya, Bia! Masih bayi tapi sudah brutal!" sungut Eagle.


"Lha Fesya baru mau tiga bulan kok sudah ketahuan brutalnya?" kekeh Damian.


"Kamu tahu, Elane sampai nangis karena kena gigit terus setiap menyusui Fesya. Duh ampun deh!"


Damian tertawa geli melihat chef itu tampak kesal. "Mas, yang namanya cewek di keluarga kita, rata-rata itu brutal yaaa."


"Not my daughter! Sudah cukup aku melihat kebrutalan para saudara perempuan kita, Dam. Janganlah ditambah anakku juga!"


Damian semakin terbahak melihat wajah kusut Eagle.


"Sing sabar mas."


"Kamu jadi ke Glasgow?" tanya Eagle.


"Jadi mas. Aku sudah pinjam mobil Opa."


"Berapa lama Dam?"


"Belum tahu. Soal bahan makanan, kata Opa nanti akan minta tolong penjaga disana untuk mengisi kulkas sehari sebelum aku tiba. Jelek-jelek begini, aku kan juga bisa masak" senyum Damian. "Kata opa, musim ini pasti sudah banyak ikan Trout yang besar-besar. Kan rumah singgah Opa Duncan dekat danau."


"Jadi sekalian bawa peralatan mancing?".


"Nope. Kata opa sudah ada semua disana. Termasuk senjata yang ada di lemari besi rahasia."


Eagle mengangguk. "Kalau ada masalah, hubungi aku atau Jayde. Ohya, Mr Weston, kakek Inggrid kan ada di Aberdeen. Kamu bisa mampir untuk bertemu dengannya. Biar nanti Jayde dan Inggrid yang mengatur. Simon Weston adalah pria yang menyenangkan dan kamu bisa banyak belajar dengannya."


"Tampaknya menarik. Sekalian bertemu dengan keluarga bukan?" senyum Damian.


"Yup. Apalagi kamu salah seorang Emir. Pasti dia akan lebih asyik mengobrol tentang banyak berlian. Kamu bisa belajar darinya, Dam."


Damian menatap Eagle dengan tatapan terima kasih. "Thanks Bro. Setidaknya liburan aku akan banyak manfaatnya."


"Absolutely! Carilah kegiatan yang menarik. Nikmatilah semuanya. Jika kamu sudah tenang, kembalilah ke Dubai dengan semangat baru."


"Thanks Mas Eagle."


"Anytime, Dam."


***


Glasgow Skotlandia


Setelah seminggu dihabiskan oleh Damian di London, pria itu pun pergi ke Skotlandia dengan mengendarai Range Rover milik Aidan. Perjalanan dengan mobil membutuhkan waktu hampir tujuh jam dan Damian menikmati setiap detiknya semua pemandangan khas Inggris Raya.


Sesampainya di Glasgow, Damian langsung menuju distrik Knightswood tempat dimana rumah singgah itu berada sesuai map yang diberikan Aidan via GPS.


Damian pun tiba di alamat yang dituju dan dirinya memarkirkan mobilnya lalu turun dan menatap rumah yang sederhana khas Inggris tapi tampak nyaman. Damian tersenyum karena memang Aidan tidak bohong soal ikan Trout yang mulai besar-besar karena dia bisa mendengar gemercik air danau yang berada di belakang rumah Duncan Blair itu.


Opa Duncan, Oma Rhea... Aku datang.



Rumah Singgah Milik Duncan dan Rhea Blair


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️