The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Menunggu Operasi



Western General Hospital Edinburgh Skotlandia


Raana melihat kedua pria yang sedang duduk dengan wajah cemas, lalu menghampiri sambil membawakan makanan untuk keduanya.


"Izzy sudah masuk ?" tanya Raana.


"Sudah mommy. Bawa apa ini ?" tanya Damian sambil menerima kotak makanan dan membukanya. "Onigiri?"


"Kan yang praktis. Ada isi tuna mayonaise dan chicken mayonaise" jawab Raana santai. Wanita cantik dan anggun itu pun duduk dekat dengan Damian sedangkan dua pengawalnya duduk tidak jauh dari pintu.


"Tante Raana, apakah Oom Direndra nggak bingung ditinggal Tante lamaan?" tanya Hunter sambil mengambil onigiri.


"Mas Direndra sedang ada perjalanan bisnis dengan Ayrton ke Arab Saudi jadi santai saja lah. Apalagi mas Direndra tahu kalau aku disini bersama Damian" senyum Raana.


"Memang ada urusan apa Mom? Aku tidak melihat ada jadwal ke Arab Saudi..." Damian menatap Raana bingung.


"Baru kok Dam. Agak mendadak juga... Mungkin ada masalah di para Emir... Kan Daddy dan Oom Ayrton mu mengajukan tender pembangkit listrik tahap ke tiga untuk semua negara-negara liga Arab."


Damian mengangguk. Dirinya memang memnawa MacBook nya tapi kan kondisi seperti ini, otaknya tidak bisa diajak berpikir jernih. Konsentrasi nya akan bercabang dan Damian tidak mau pekerjaan nya bakalan berantakan hanya gara-gara dia tidak bisa fokus.


"Kira-kira berapa lama ya?" gumam Raana sambil meletakkan kepalanya di bahu putranya.


"Lima jam katanya... Plus minus." Damian melihat wajah lelah ibunya. "Mommy nggak bisa tidur semalam?"


"Mommy banyak berdzikir buat kamu, Izzy, Daddymu, semua anggota keluarga kita, bahkan ke mantan istrimu, agar dia berubah. Mommy berharap dengan hadirnya bayi di dalam perutnya, bisa merubah semua keegoisan Reema."


Hunter dan Damian yang mendengar, hanya bisa terdiam. Sebenci-bencinya Raana ke mantan menantunya, tapi mendengar Reema hamil, tetao mendoakan yang terbaik.


"Anak itu hadir karena kedua orangtuanya, Tante" ucap Hunter.


"Benar. Anak tidak bisa memilih kamu mau orang tua yang mana dan siapa. Makanya Tante mendoakan Reema agar mendapatkan hidayah ataupun taubat karena menjadi ibu adalah hal yang sangat indah..." Raana mengangkat kepala nya dari bahu Damian. "Apalagi kalau anaknya tampan seperti ini." Wanita mungil itu menepuk lembut pipi Damian.


"Moooommmm..." Wajah Damian tampak memerah.


Hunter tertawa kecil. "Mau anaknya sudah sebesar ini, tetap ya Tante, dianggap masih kecil."


Raana tertawa. "Kamu tidak tahu bagaimana ributnya Alaric dan Charles kalau bertemu. Bagi Alaric, Raine tetap masih hak milik. Bagi Charles, tanggung jawab sudah dialihkan ke dirinya."


"Haaaddeehhh... Mereka itu. So, apakah Raine sudah hamil?" tanya Damian mengingat mereka sudah menikah hampir tujuh bulan ini.


"Raine sudah, Charlotte yang belum. Kata Nura, sudah jalan dua bulan."


"Dan Oom Al masih julid sama Charlie?" kekeh Damian. "Dasar keturunan Blair dan Giandra!"


"Huuussshh ! Nanti Opa Edward dan Ogan Abi protes sama kamu Dam" kekeh Raana.


"Lho itu kenyataannya Mom. Gara - gara gen mereka berdua, kita semua kena getahnya!"


"Tapi kadar Julid kamu tidak separah Bayu dan Radeva. Kamu tidak tahu kalau mereka sudah ribut satu sama lain belum Nadya ikutan dan biasanya giliran Nelson yang harus memisahkan mereka" sahut Hunter yang sudah hapal dengan kekacauan keluarga Blair.


"Mas Lisus tuh parah ! Definisi gabungan Ogan dan Opa Edward !" sungut Damian. "Tapi memang sih The Blairs payah sama dengan trio kampret, sama-sama biang Julid!"


Hunter terbahak. "Dam, keluarga kalian gak Julid, patut dipertanyakan apakah benar gen nya atau malah bayi yang tertukar?"


"Eh amit-amit kalau sampai tertukar..." seru Damian.


Raana tersenyum mendengar percakapan antara Hunter dan Damian.


"Apakah masih lama operasinya?" tanya Raana.


"Kalau mommy mengantuk, tidur dulu saja" senyum Damian.


"Mommy pinjam bahumu ya Dam" ucap Raana yang meletakkan kepalanya lagi di bahu putranya.


"Dah mommy bobok. Damian akan menjaga Mommy."


***


Reema mengalami muntah - muntah dan Kamal dengan telaten menemani istrinya. Meskipun dirinya merasa kesal karena Reema masih mengharapkan Damian, tapi Kamal harus menyingkirkan ego nya demi anak yang dikandung Reema.


Kamal hanya ingin anak yang diinginkannya sehat di dalam perut Reema dan lahir dengan selamat. Setelah itu, Kamal baru memikirkan langkah selanjutnya apakah pernikahan ini akan lanjut dengan catatan Reema berubah atau memang dia harus menalak istrinya.


"Perutku tidak enak Kamal..." keluh Reema dengan wajah memucat.


"Wajar, Reema. Hamil muda." Kamal lalu memegang tangan Reema dan memapah wanita itu ke tempat tidur. "Apa ada yang kamu inginkan ?"


Reema menggelengkan kepalanya. "Hanya ingin tidur."


"Kalau begitu, tidur lah."


"Apakah kamu akan menemani aku ?" tanya Reema.


"Tergantung kamu. Apakah kamu mau aku temani atau tidak" balas Kamal.


"Aku mau kamu temani Kamal ..." bisik Reema sambil memejamkan matanya. Dirinya merasa lelah akibat kehamilan nya ini sangat menguras energinya.


"Baiklah ...Aku akan menemanimu ..." Kamal menempatkan tubuhnya bersebelahan dengan Reema dan tidur miring sambil menggenggam tangan istrinya. Semoga kamu bisa berubah, Reema. Mau aku kesal padamu, tapi aku sangat mencintaimu...


Kamal menatap wajah cantik Reema yang tampak lelah dengan mata terpejam. "Belajarlah untuk menerima dan mencintaiku, Reema. Damian itu masa lalu kamu. Akulah masa kini dan masa depanmu..."


***


Western General Hospital Edinburgh Skotlandia


Setelah hampir lima jam operasi dilaksanakan, akhirnya lampu kamar operasi pun padam. Seorang suster menghampiri ketiga orang yang terlelap namun dicegah oleh pengawal Raana.


"Biar saya yang membangunkan nyonya..." ucap wanita berdarah Arab itu yang menghampiri Raana.


Ketiganya pun terbangun saat pengawal itu mengatakan operasi sudah selesai. Damian dan Hunter tampak tidak sabar menunggu Izzy keluar dari ruang pemulihan.


Dokter yang mengoperasi pun keluar dari ruang operasi. Wajahnya tampak cerah dan puas, membuat ketiga orang disana menatap penuh harapan.


"Bagaimana dok ?" tanya Raana penasaran.


"Puji Tuhan, operasinya berjalan lancar dan saya bisa meyakinkan anda, Miss McDouglas akan bisa berjalan seperti dulu, normal dan tidak akan merasakan sakit..." senyum dokter itu.


"Alhamdulillah..." ucap Raana dan Damian sambil berpelukan.


Hunter menutup wajahnya dengan perasaan lega luar biasa lalu dia menatap Damian dan kedua pria itu saling berpelukan.


"Izzy kita... Akan bisa berjalan normal lagi Dam..." bisik Hunter yang menangis bahagia.


"Iya Hunter. Aku sangat bahagia... Alhamdulillah... Alhamdulillah..." ucap Damian penuh haru sambil membalas pelukan kakak Izzy itu erat.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


***


Vicenzo dan Hyde sudah hadir di Noveltoon. Buat yang nanya The Blairs kapan, agak nanti ya biar timeline nya nggak saling rancu.


***