The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Sabar Damian, Sabar!



Apartemen Damian di Burj Khalifa


Raana menatap wajah Reema yang tampak menahan emosinya karena pertanyaannya yang memang menyudutkan menantunya tapi dia harus mengatakannya. Bagaimana pun Damian adalah putranya dan Raana sebagai ibunya berhak menanyakan.


Mau putraku sudah dewasa, mau putraku sudah menikah, tapi tetap saja dia adalah putraku. Aku yang membawanya selama sembilan bulan, aku yang berjuang hidup dan mati saat melahirkan... Dan sekarang, kebahagiaan putraku menjadi taruhannya?! - Raana beristighfar dalam hati.


"Aku hanya menginginkan Damian, Tante" jawab Reema dengan dingin.


"Tapi Damian tidak menginginkan kamu, Reema! Mau sampai kapan kamu bersikap seolah-olah semuanya akan baik-baik saja?"


"Karena semuanya akan baik-baik saja Tante! Damian akan menyadari kalau aku benar-benar sayang dan cinta sama dia!" Reema mengotot ke Raana.


"Reema..."


"Tante tenang saja. Damian akan jatuh cinta padaku jadi aku tetap akan menjadi istrinya selamanya!" ucap Reema tegas.


"Reema, jika sampai waktunya Damian tetap tidak mencintai kamu, Tante harap pada saat itu kamu sudah siap dengan segala konsekwensinya!" balas Raana dengan nada sedikit tinggi. Seumur-umur Raana tidak pernah membentak siapapun kecuali pada pria yang dulu mengejarnya dan sudah dideportasi oleh Direndra. Tapi ke suami maupun putranya, Raana nyaris tidak pernah membentak.


"Kita lihat saja nanti Tante!"


Raana pun memilih berdiri dan tersenyum dingin ke arah Reema. "Ternyata memang feeling Damian benar. Inilah alasan kenapa Dami tidak pernah tertarik dengan kamu, Reema! Kamu memang anak manja yang egois!" Raana pun berjalan meninggalkan Reema yang masih duduk dengan nafas memburu.


Wanita anggun itu pun keluar dari apartemen Damian dengan wajah memerah menahan amarah. Dua pengawalnya yang setia menunggu di lorong apartemen, menatap nyonya mereka tampak gusar, tidak berani mengucapkan sepatah katapun. Selama mereka mengawal Raana, baru kali ini wajah istri Emir Blair itu tampak marah luar biasa.


***


Reema menatap pintu apartemen itu lalu melemparkan hiasan dari meja kopi ke arah pintu hingga pecah berantakan. Nafas Reema naik turun menahan emosi.


Sialaaaannn! Siaaaalllaaaannn!!!!


Reema lalu memanggil housekeeping apartemen untuk membereskan semua kekacauan yang dia perbuat. Dia tidak mau Damian pulang melihat pecahan kaca dari hiasan yang dia lempar.


***


Ruang Kerja Damian di AJ Corp


Damian menatap dingin ke arah Reema yang sedang memerintahkan para housekeeping untuk membereskan dan membersihkan lantai kayu dari pecahan kaca serta memplester pintu yang rusak.


Berani kamu melawan ibuku dan membuat pintu apartemen aku rusak! Rahang Damian mengeras menahan emosi saat melihat semuanya dari layar iMac nya. Damian memang memasang CCTV di apartemennya termasuk kamarnya dan kamar Reema.


Rasanya ingin aku talak sekarang tapi aku sudah janji tiga bulan. Damian adalah orang yang menepati perjanjian dan sekarang dia sedikit menyesali nya. Doaku satu ya Allah, berikan kesabaran luar biasa hingga waktunya aku menalak Reema.


***


Apartemen Damian di Burj Khalifa


Damian pulang ke apartemennya seolah tidak mengetahui kalau Raana sang ibu datang menemui Reema. Pria itu masuk seperti dia lakukan di rumah dengan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam" balas Reema dengan tersenyum manis. "Sudah aku buatkan teh safron Dam. Diminum dulu..."


"Nanti saja. Aku mau ke kamar dulu." Damian pun masuk ke dalam kamar nya dan menguncinya seperti biasa. Pria itu pun membersihkan diri nya yang terasa gerah akibat emosi tapi dirinya harus menahannya.


Direndra yang melihat rekaman CCTV apartemennya tadi saat Raana datang, juga marah melihat istri kesayangannya bersitegang dengan Reema.


"Dam, apapun kamu harus menahan emosi kamu. Mommy mu juga marah dan tahu bagaimana tabiat Reema sebenarnya" ucap Direndra tadi sore sebelum pulang. "Daddy tahu kamu ingin segera pisah tapi kamu sudah ada perjanjian hitam diatas putih kalau akan menalaknya tiga bulan kemudian. Ini sudah lewat seminggu, jadi bersabarlah."


"Iya Dad. I know" jawab Damian.


"Dad, usai pisah dengan Reema, bolehkah aku berlibur ke Skotlandia? Ke rumah milik Opa Duncan Blair?"


Direndra mengangguk. "Tentu saja boleh. Ambillah libur panjang untuk menata hatimu."


"Thanks Dad." Damian memeluk Direndra.


"Maaf Boy, Daddy membuat kamu tidak bahagia dengan pernikahan kamu."


"Tidak apa-apa Dad. Memang jalan aku begini." Damian tersenyum sendu.


Dan kini di kamarnya, Damian menyelesaikan semua urusannya termasuk ibadahnya. Selama ini Damian tidak pernah melakukan teknik pernafasan untuk menenangkan hati dan jika Elane tahu dia melakukan teknik ini, pasti akan ditertawakan...


Elane McCloud. Istri mas Eagle McCloud. Damian suka melihat sosok seperti Elane, lembut dan tampak bersahaja... seperti mommy. Damian tidak masalah jika mendapatkan pasangan sama rusuhnya dengan saudara perempuannya tapi Elane itu selalu membuat adem suasana. Dan benar-benar cocok dengan Eagle yang dingin. Damian mempelajari teknik pernafasan dari Elane saat menemani ke kelas ibu hamil gara-gara Eagle tidak bisa mengantarkan akibat diare. Dan saat itu Damian sedang berada di London jadi Eagle meminta tolong untuk menemani istrinya.


Damian senang akhirnya dirinya akan mendapatkan banyak keponakan dari Ajeng, Gemma dan Elane. Semoga keponakan aku yang ini tidak sebrutal keponakan aku lainnya. Damian mendengar notifikasi dari ponselnya yang mengatakan Eagle dan Elane sudah berada di rumah sakit untuk persiapan persalinan.


Pria itu mengirimkan pesan ke grup chat keluarga yang ramai mendoakan kelancaran lahiran dan keselamatan Elane dan baby-nya. Setelahnya Damian pun keluar kamar dan melihat Reema sudah duduk di kursi makan menunggu dirinya datang.


"Dam, ayo makan." Reema mengajak Damian duduk dan setelah pria itu duduk, istrinya menyiapkan semua menu malam ini.


"Kamu masak sendiri?" tanya Damian sambil menyesap teh safronnya.


"Iyalah. Aku masak sendiri." Reema menatap Damian yang sedang memasukkan sesendok nasi dan kari ayam lalu mengunyahnya. "Bagaimana?"


"Lumayan" ucap Damian.


Reema tersenyum tapi dirinya lebih memilih untuk tidak bercakap-cakap karena tidak mau merusak suasana.


Damian menghabiskan makannya karena dirinya sangat menghargai makanan yang disediakan. Reema langsung membereskan peralatan makan mereka setelah Damian pergi meninggalkan meja makan sambil membawa gelas berisikan air putih.


Pria itu lalu menyalakan televisi dan seolah baru tahu ada yang hilang.


"Reema, mana hiasan dari kristal berbentuk bola diatas tempatnya?" tanya Damian. Pria itu menunggu Reema berkata sejujurnya atau tidak.


"Maaf Dam... sudah pecah" jawab Reema sambil mengelap tangannya yang basah.


"Kenapa bisa pecah?" Damian menatap tajam ke Reema. "Bukan kah aku sudah bilang jangan sampai merubah segala sesuatu disini?"


"Maaf Dam...tapi memang sudah pecah..." jawab Reema sambil menunduk.


"Kenapa? Kamu buat mainan dan kamu lemparkan ke pintu?" ucap Damian dingin.


Mulut Reema menganga. "Dam..."


Damian hanya menghela nafas panjang. "Tampaknya besok semua hiasan di rumah ini, aku singkirkan saja supaya tidak menjadi pelampiasan kegabutan kamu!" Pria itu langsung berdiri. "Terima kasih atas makan malamnya." Damian lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya dan suara pintu terkunci pun terdengar.


Reema hanya bisa menatap sedih. Apakah dia juga tahu kalau aku sempat bersitegang dengan Tante Raana.? Reema menatap ke sekeliling apartemen. Damn! Aku lupa! Damian pasti memasang CCTV!


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️