The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Petunjuk Izzy



Market Place Knightswood Glasgow Skotlandia


Izzy membantu Damian membawakan empat vas dan pot permintaan pria tinggi itu. Damian mengukur tinggi Izzy yang selisih sekitar 15-20 sentimeter dilihat dari gadis itu hanya memakai sepatu trepes. Damian sendiri memiliki tinggi 187 cm dan dia memperkirakan Izzy sekitar 167-169 cm.


"Izzy, tidak apa-apa, aku bisa bawa semuanya kok" ucap Damian.


"Jangan Damian, nanti rusak. Sayang kan?" senyum Izzy.


"Tapi kaki kamu... Eh maaf..." Damian menatap Izzy dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa-apa Damian. Memang sudah begini mau gimana lagi? Toh setidaknya aku masih bisa berjalan meskipun tidak bisa berlari sprint seratus meter" gelak Izzy dengan wajah santai.


"Apakah tidak bisa dioperasi... Aduh Izzy, maafkan aku yang terlalu kepo."


Kali ini Izzy tertawa agak keras. "Damian, santai saja... Semua orang disini juga sering menanyakan hal yang sama. Tapi kan biayanya lumayan Dam dan aku hanya pemilik toko bunga. Bisa berjalan saja sudah bersyukur aku."


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Damian.


"Saat aku tingkat akhir kuliah, saat hendak berangkat ke kampus, salah seorang mahasiswa mabuk menyetir ugal-ugalan hingga menabrak beberapa mahasiswa yang sedang berjalan. Aku salah satu korbannya bersama dengan sembilan orang lainnya. Empat dari kesepuluh korban itu kehilangan nyawanya, aku kehilangan kemampuan berjalan kaki sebelah kanan..." Izzy bercerita sambil terus berjalan menuju mobil Damian.


"Berapa lama kamu di rumah sakit?"


"Enam bulan lebih dengan sepuluh proses operasi menyakitkan...tapi setidaknya sepadan aku tidak perlu kruk, kursi roda atau malah diamputasi." Izzy menatap Damian lembut. "Itulah aku mensyukuri setiap detik aku diberikan kehidupan karena empat korban lainnya, kehilangan kesempatan itu."


Damian membalas tatapan Izzy. "Pemikiran yang sangat bagus Izzy."


Izzy mengangguk. "Bagaimana denganmu? Apakah kehidupan kamu menyenangkan?"


Damian membuka pintu belakang mobil Range Rover nya. "Kelabu."


"Yakinlah, di balik mendung dan hujan deras, pasti ada pelangi yang membuat kamu akan tersenyum lagi, Damian" ucap Izzy membuat Damian tersenyum.


"Thanks Izzy. Oh bagaimana kamu bisa membuka toko bunga?" tanya Damian sambil memasukkan vas dan pot mawar orange itu.


"Aku suka bunga dan toko itu adalah milik kedua orang tua aku dan setelah mereka meninggal, aku yang meneruskannya."


Damian mengangguk. "Oh habis berapa Izzy? Aku lupa membayar nya tadi?" Damian mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang £50 ( 50 poundsterling )dan memberikan ke Izzy.


"Ini terlalu banyak Dam... Aku tidak membawa kembalian."


"Bawa saja Izzy. Terimakasih sudah membuatkan rangakaian bunga yang indah" senyum Damian. "Apa perlu aku antar kembali ke tokomu?"


"Tidak usah Dam. Aku bisa sendiri! Hei jangan remehkan nama Izzy. Aku kuat Dam!" cengir Izzy sambil memamerkan otot lengannya macam binaragawati. Arti nama Izzy adalah memang perkasa jadi tidak heran jika gadis itu bergaya sok kuat macam atlet berotot meskipun nama Izzy juga panggilan dari nama Elizabeth.


Damian tertawa melihat gaya Izzy apalagi dengan memperlihatkan gigi kelincinya. "Thanks Izzy."


"Anytime Dam. Oh, kamu menginap dimana?" tanya Izzy tanpa ada tendesi ingin tahu.


"Rumah singgah milik keluarga Blair."


Izzy mengangguk. "Rumahnya sangat nyaman dan memang disewakan ke kamu?"


"Aku bekerja di perusahaan milik keluarga Blair. Jadi sekalian aku mengambil cuti besar lima tahunan aku dan mereka mengijinkan aku memakai rumah singgah mereka." Damian tersenyum karena tidak mungkin mengatakan bahwa dia salah satu Blair.


"Keluarga Blair memang baik ya... Atau karena kamu pegawai berprestasi jadi mendapatkan bonus ijin bisa memakai rumah singgah itu" gumam Izzy.


"Yang dipot, pagi dan sore disiram dengan intensitas air sedang, Dam. Kalau bisa pagi kamu keluarkan agar terkena matahari agar proses fotosintesis bisa berlangsung. Sekitar jam sembilan hingga sepuluh pagi. Kalau yang di vas, setelahnya kamu bisa menggantikan airnya dengan air hangat sekitar 45 derajat suhunya. Jangan lupa daun yang rusak atau tidak aesthetic, bisa digunting."


Damian mengangguk.


"Selain memotong daunnya, kamu juga perlu memotong batang atau tangkai bunga mawar sekitar dua sentimeter. Memotong batangnya dapat membuat bunga mawar lebih awet segarnya dan bisa lebih bertahan lama. Memotong batangnya pun tidak boleh sembarangan. Potong batang bunga mawar dengan pola menyerong agar memudahkan tanaman tersebut untuk menyerap air dengan baik. Bedanya dengan yang dipot, yang di vas jangan sampai terkena sinar matahari dan kena AC karena mengurangi kelembaban. Oh kalau mau awet lagi, airnya dicampur dengan soda yang original bukan minuman bersoda" jelas Izzy.


"Ribet ya Zy?" gerutu Damian yang harus menghapalkan semua petunjuk Izzy.


Gadis itu tertawa. "Tapi nanti kalau kamu sudah menemukan passionnya, kamu pasti akan ketagihan untuk gardening dan menanam berbagai macam bunga. Masing-masing jenis bunga berbeda cara penanganannya dan itu merupakan terapi tersendiri Dam."


"Izzy, jika aku gagal merawat mereka, kamu lah orang yang akan aku seret ke rumah sebagai dokternya!" ucap Damian serius membuat Izzy cekikikan.


"Astagaaa Dam! Macam apa saja! Kamu kan bisa menelpon aku jika ada yang ingin kamu tanyakan" kekeh Izzy.


"Berapa nomor telepon mu?" tanya Damian yang mengambil ponselnya.


Izzy menyebutkan nomor ponselnya dan Damian mengirimkan pesan karena Izzy meninggalkan ponselnya di toko.


"Aku akan menghubungimu jika membutuhkan petunjuk tentang botania." Damian menutup pintu belakang mobilnya. "Bye Izzy. Sekali lagi, terimakasih sudah memberikan ilmu dan rangakaian bunga yang indah."


"Anytime Damian. Jangan sungkan untuk mampir" senyum Izzy.


"Tentu saja tidak."


***


Rumah Singgah Milik Keluarga Blair


Damian meletakkan dua pot bunga mawar itu dekat dengan jendela dapur dan ruang tengah. Pria itu pun melaksanakan petunjuk Izzy untuk bunga yang disimpan di vas.


Damian tampak puas dengan semakin bewarnanya rumah milik keluarganya yang dominan putih.


"Sepertinya kok kurang semarak ya meskipun sudah mulai bewarna" gumam Damian. "Nanti deh, aku rawat dulu bunga yang ada baru aku akan meminta Izzy untuk memberikan warna lain yang membuatnya semakin hidup."


Damian lalu menuju dapur dan mulai memasak untuk makan malam.


***


Rumah Izzy yang juga menjadi toko bunganya


Izzy menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua sedangkan pegawainya, Betty, sudah pulang ke rumahnya dekat market place juga. Gadis itu lalu memanaskan stew nya dan memasak nasi yang praktis. Sambil menunggu semua matang, Izzy mengambil obat gosok untuk mengoles kakinya yang terasa pegal.


Gadis itu melihat e-banking nya dan hanya tersenyum tipis melihat saldonya. Sedikit lagi... Aku akan menjalani operasi lagi agar tidak pincang. Dukung aku, Tuhan.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️