The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Izzy Bertemu Reema



Kamar Damian dan Izzy


"Mas..." panggil Izzy dengan nada serak.


"Hhhmmm..." balas Damian dengan mata masih terpejam.


"Sudah jam sepuluh pagi..."


"So?! Hari Minggu juga ..." balas Damian sambil memiringkan tubuhnya dan memeluk Izzy erat.


"Maaass... Bangun. Nggak enak sama Mommy dan Daddy... Sama lainnya."


"Izzy, mereka juga tahu kalau aku dan kamu masih menikmati menjadi pengantin baru. Macam dulu Raine dan Charles juga nggak keluar kamar seharian."


"Tapi mas..."


"Izzy sayang..." Damian membuka mata hijaunya dan menatap wajah istrinya. "Kita itu seminggu tidak ngapa-ngapain. Radhi tahu, Charlotte tahu, jadi mereka paham lah. Mommy dan Tante Nura juga tahu kamu tidak ikut sholat Maghrib berjamaah karena halangan jadi kalau kita tidak keluar kamar... Paham lah."


Wajah Izzy memerah. "Tetap saja aku tidak enak..."


"Memangnya kamu bisa keluar dengan kondisi tidak nyaman setelah semalam kita berbuat dan kamu menjerit nikmat?" goda Damian.


"Maaass..." rengek Izzy merasa malu diingatkan bagaimana semalam dirinya sangat kelihatan Irishnya.


Damian tertawa dan mencium kening Izzy. "Kamu memang menggemaskan..."


***


Menjelang makan siang, semua orang menatap pasangan suami-isteri itu dengan tatapan sangat paham membuat Izzy malu.


"Santai saja Izzy" goda Charlotte. "Biasa kok disini."


Radhi hanya tersenyum melihat kakaknya tampak cerah. "Bahagia mas Dam?"


"Bagaimana wajahku?" balas Damian.


"Macam dapat lotre" sahut Alaric membuat semua orang di meja makan tertawa kecuali Izzy yang semakin menyembunyikan wajahnya di punggung Damian.


"Ya ampun Oom, kasihan istriku..." kekeh Damian.


"Dia adiknya Hunter dan pasti sudah tahu lah keluarga kita bagaimana. Izzy, yang tabah ya" ucap Direndra.


"Yes Daddy..." jawab Izzy pelan.


Acara makan siang diisi dengan pembicaraan acara balapan Radhi yang akan dilakukan bulan depan. Dan seperti biasa, Alaric mengompori putranya untuk mengalahkan menantunya.


"Dik, kamu itu definisi mertua Durjana !" kekeh Direndra.


"Salah siapa ngotot nikah sama Raine?" balas Alaric tanpa beban membuat Nura harus menepuk bahu suaminya.


"Mas Al tuh ya..." tegur Nura.


"Dad, sudah mau punya cucu dari Raine lho" ujar Radhi.


"Cucu beda ceritanya sama menantu!"


"Lha Raine bisa punya anak kan sama Charles, mas" timpal Nura.


"Tetap konteks nya berbeda" eyel Alaric.


"Ya ampun, gedhe ambeg nya gak hilang-hilang" gerutu Direndra gemas.


Izzy hanya tersenyum mendengar keributan unfaedah keluarga Damian. Ya ampun, ini para mertua apa nggak pada ingat umur ya?


***


Dua Bulan Kemudian, Toko Bunga Izzy


"Duh Aminah, kenapa bahasa Arab sulit sekali..." keluh Izzy yang mempelajari gramatikal bahasa Arab, belajar dari pengawalnya yang hanya tersenyum geli melihat nyonyanya manyun.


"Bukankah bahasa Irlandia lebih sulit Nyonya?" ucap Aminah.


"Setidaknya bahasa Irlandia masih alphabet bukan tulisan seperti ini." Izzy mengetuk - ngetuk pensil di kepalanya tanda dirinya sedang mode serius.


Izzy selalu menggunakan waktu luang untuk belajar baca Al Qur'an dan mempelajari tata bahasa Arab serta cara berbicara bersama Aminah.


Damian sendiri tidak memaksa Izzy untuk mempelajari namun istrinya tetap memaksa agar dirinya paham apa yang dibicarakan pelanggannya.


Suara sensorik di pintu toko bunga Izzy berbunyi membuat wanita itu dan Aminah menoleh. Betapa terkejutnya Izzy saat melihat siapa yang datang, begitu juga Aminah. Pengawal Izzy langsung bersikap waspada ke arah orang yang datang.


"Elizabeth McDouglas Blair? Atau biasa dipanggil Izzy?" sapa Orang itu. "Aku..."


"Reema Al Salman. Aku tahu siapa dirimu" jawab Izzy tenang.


"Kita bisa ke Starbucks depan." Izzy mengajak Reema ke cafe kopi yang terdapat di depan toko bunganya persis.


"Oke. Kita ke Starbucks." Reema pun berjalan menuju cafe itu dan Izzy mengikutinya.


"Nyonya..." panggil Aminah.


"Tenang saja Aminah. Kamu kan bisa melihat dari sini." Izzy menenangkan pengawalnya.


Kedua wanita itu pun masuk ke dalam kamar. Sementara itu Charlotte McGregor Blair sedang sibuk memasukkan katalog ke MacBooknya saat melihat Izzy berjalan bersama dengan Reema.


Mau apa Reema dengan mbak Izzy?


***


Starbucks Dubai Mall


Reema menatap Izzy dari ujung rambut hingga ujung kaki. Entah kenapa, Izzy benar-benar tipikal Damian. Ada sesuatu yang mirip dengan mantan ibu mertuanya, Raana Blair.


"So, Reema. Ada perlu apa kemari? Oh selamat atas kelahiran putramu ya. Siapa namanya?" Izzy menatap tenang ke mantan istri suaminya.


"Namanya Eren. Dan terima kasih atas ucapannya" senyum Reema. "Bisakah kita berbicara dengan santai Izzy. Tenang saja, aku tidak akan merebut kembali Damian darimu. Aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku..."


"Lalu? Tujuanmu kemari?"


"Suamiku, Kamal ada acara pertemuan para Emir di Al Jordan. Dan aku sudah meminta ijin pada Damian untuk bisa menemui dirimu ... Aku belum mengucapkan selamat atas pernikahan kalian... Congratulations."


"Oh... Terima kasih" jawab Izzy sedikit tersenyum.


"Izzy, boleh kan aku memanggilmu itu?"


"Yes."


"Bahagia menikah dengan Damian?"


"Sangat. Aku dan mas Dami saling mendukung dan mencintai satu sama lain."


Reema tersenyum tipis. "Mas Dami. Itu panggilan mu ke Damian?"


"Yes. Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Aku senang Damian tampak cerah dan bahagia."


"Mungkin karena bertemu dengan orang yang tepat jadi faktor itu bisa merubah seseorang" jawab Izzy tanpa maksud menyindir.


Reema tertawa kecil. "You're right. Damian saat bersamaku tidak pernah tersenyum. Dan... Yah kami memang tidak berjodoh."


"Exactly."


"Izzy, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" Reema menatap Izzy sedikit ragu.


"Tentang apa?" balas Izzy masih dengan nada tenang.


"Apakah benar... Kamu dulu mengalami kecelakaan?"


Izzy tertawa kecil. "Apakah ada yang memberitahukan padamu soal aku? Bagaimana aku dulu? Yang pincang? Well, yeah. Aku dulu pincang, Reema. Namun mas Dami tidak perduli akan hal itu. Mas Dami lah yang mendukung aku untuk melakukan operasi perbaikan kakiku hingga aku tidak pincang lagi. Mas Dami dan kak Hunter lah yang menemaniku saat fisioterapi pasca operasi... Dan Alhamdulillah, aku bisa berjalan dengan normal seperti dulu sebelum kecelakaan. Mas Dami juga pernah bilang yang cacat kan fisik, bukan cacat hati jadi bukan hal yang krusial."


Reema tampak terkejut mendengar ucapan Damian ke Izzy yang secara tidak langsung menyindir nya.


"Yeah, aku yang dulu sangat salah, Izzy. Aku sudah berubah... Thanks to Kamal yang membuatku berubah dan tahu rasanya dicintai dengan tulus..."


"Good for you Reema. Aku sangat senang mendengar kamu sudah berubah..." ucap Izzy tulus.


"Yes. Apalagi aku sudah punya Eren. Aku ingin mencurahkan semua rasa cintaku dan sayangku ke putraku dan suamiku..." Wajah Reema tampak melembut saat menyebutkan kedua prianya.


Izzy tampak lega melihat Reema sudah tidak ingin merebut suaminya. "Reema, aku ingin mengucapkan terima kasih."


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih karena kalau kamu tidak berpisah dengan mas Dami, aku tidak akan bersama mas Dami."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️