
Ruang Rawat Inap Izzy
Damian dan Hunter masih menunggu Izzy sadar secara penuh. Tadi usai dari ruang pemulihan, Izzy sempat sadar tapi karena pengaruh obat biusnya masih kuat, Izzy pun tertidur kembali.
"Apakah Izzy akan tidur sampai besok?" tanya Hunter ke suster.
"Bisa iya, bisa tidak Mr McDouglas sebab obat biusnya memang kuat untuk operasi besar tadi" jawab suster itu. "Semua organ vi*tal Miss McDouglas normal, jantung, hati, paru-paru... Semuanya dalam kondisi baik."
"Alhamdulillah..." ucap Damian. Tadi dia meminta Raana kembali ke hotel karena tahu ibunya cukup lelah. Apalagi semalam kurang tidur akibat banyak berdoa dan berdzikir.
Setelah Izzy selesai diperiksa, Damian dan Hunter saling berpandangan.
"Kamu pulang ke apartemen kamu dulu deh Dam. Biar gantian nanti malam sama aku" pinta Hunter.
"Tapi..."
"Dam, kalau kamu tidak menyempatkan diri beristirahat, nanti kamu juga ambruk. Biarpun badanmu besar dan berasa fit, yang namanya menunggu orang di rumah sakit juga bisa bikin tepar" ucap Hunter lagi. "Aku juga nanti akan tidur di apartemen kamu malamnya. Kamu yang disini. Kita bergantian. Oke?"
Damian mengangguk karena apa yang diucapkan Hunter ada benarnya. "Oke Hunter. Aku pergi berisitirahat dulu. Oh aku nanti akan meninggalkan makanan buat kamu makan malam."
Hunter tertawa. "Dasar cucunya Aidan Blair."
"Hei, kamu tidak tahu bagaimana opaku kalau sudah menjewer aku, Radhi dan Raine ke dapur" gelak Damian. Sama dengan Aidan, ketiga cucunya sangat suka memasak. Apalagi Radhi yang terjun ke dunia balap dan harus mengontrol pola diet nya, dia lebih banyak memasak sendiri makanannya.
"Kalian itu keluarga Blair sangat ..."
"Kacau?"
"Nope. Membagongkan" jawab Hunter.
"You know my family kan Hunter" kekeh Damian. "Aku tinggal dulu."
"Oke Dam. Nanti jam berapa kamu kemari?"
"Sekitar jam tujuh atau setengah delapan."
Hunter mengangguk. "Hati-hati pulangnya dan kemarinya Dam."
"Yup."
***
Apartemen Damian dan Izzy
Damian berjalan menuju kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya yang terasa bau rumah sakit dengan berbagai disinfektan dan bau obat. Setelah segar, pria itu melakukan ibadahnya dan memilih untuk tidur sejenak setelah memasang alarm.
***
Ruang Rawat Inap Izzy
"Bagaimana dengan Izzy, H?" tanya sahabatnya yang sudah bersamanya hampir dua belas tahun.
"Puji Tuhan, operasinya berlangsung lancar, Doog."
"Thanks God. Aku senang mendengarnya, H."
"Bagaimana New York? Little D sudah mulai julid sama bapaknya?" kekeh Hunter mengingat Duncan, putra Bayu O'Grady.
"Kamu tahu, besarnya bakalan gabungan dari Oom Abi dan Bayu plus kacaunya Ajeng dan galaknya Tante Gandari" gelak Doogie. "Keponakan kita itu bakalan bikin repot semua orang deh ! Mana panasannya sama saja dengan Bayu."
"Ajeng makin pusing dong..." senyum Hunter mengingat istri Bayu yang super receh dan ajaib hingga dirinya dan Doogie menganggap seperti adik perempuan mereka sendiri. ( Baca My 100th Secretary )
"Begitulah..." jawab Doogie. "Oh H, kata Bayu, kamu ambil cuti lama tidak masalah. Yang penting kamu bisa mendampingi Izzy. Apalagi dia satu-satunya anggota keluarga kamu kan Hunter."
"Aku nanti akan menelpon Bayu sendiri, Doog."
"Bagaimana dengan Damian? Apa dia benar-benar serius dengan Izzy?"
"He's so serious. Bahkan Tante Raana sudah auto setuju jika Izzy bersama Damian."
"Good. Bagaimana pun, jodoh Damian bukanlah putri Bahrain itu tapi adikmu, H."
"Bisa jadi" jawab Hunter.
"Jangan lupa istirahat Hunter. Jaga kondisi badanmu."
"I will. Thanks Doogie."
"Anytime Hunter."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️