
Rumah Singgah Milik Duncan Blair di Knightswood Glasgow Skotlandia
Damian duduk di sofa belakang bersama Dahir sambil menikmati kopi usai pulang dari toko bunga Izzy. Kedua pria itu hanya menatap pemandangan danau di malam hari dan mendengar suara kecipak air, suara burung malam serta binatang malam lainnya.
Dahir melirik ke arah tuannya yang tampak banyak pikiran dan dia tidak mau tuannya sampai over thinking hingga kembali menjadi Damian yang bersama Reema.
"Anda baik-baik saja tuanku?" tanya Dahir.
"I don't know, Dahir. Satu sisi aku yakin pasti Emir Al Salman meminta Pangeran Kamal dari Oman menikahi Reema untuk menutupi skandal. Tapi... aku sendiri... Mengingat Reema seperti itu, tidak yakin akan stop sampai disana."
"Apakah nona Reema kemungkinan besar masih mengejar anda, tuanku ?" Dahir menatap Damian sedikit concern.
"Maybe..."
"Tuanku, apakah tuanku akan datang jika mereka menikah?"
"Jika ada undangan, why not. Aku bisa melihat Reema sudah memiliki pasangan yang membuat aku bisa santai."
"Tuanku, saya berharap anda bisa segera bersama dengan nona Izzy."
Damian menoleh ke arah Dahir. "Dan kamu bersama Betty?"
Dahir tersenyum. "Maybe. Sejujurnya saya suka dengan nona Betty. Dia wanita yang... penuh semangat dan positif. Dia tidak malu menunjukkan bahwa dirinya pernah terjerumus dan tetap berusaha hidup lurus sampai sekarang."
"Semoga kalian berjodoh, Dahir" ucap Damian tulus.
"Anda juga tuanku. Bersama dengan nona Izzy."
"Aamiin."
***
Damian sedang memasak makan siang untuk Izzy, Betty, Dahir dan dirinya ketika ponselnya berbunyi dan tampak Mommy di layar. Damian mematikan kompornya dan menerima telepon dari Raana.
"Assalamualaikum Mom. Ada apa?"
"Wa'alaikum salam. Sayang, mommy mendapatkan undangan pernikahan di Bahrain dan kamu juga dapat. Apakah kamu bisa datang?"
"I don't know mommy..."
"Sayang, datanglah. Tunjukkan bahwa kamu senang melihat mantanmu menikah lebih dulu. Jadi, kamu bisa moving forward tanpa harus mengkhawatirkan dikejar-kejar olehnya lagi."
"Baik mom..."
"Bawa Izzy."
Damian terdiam. "No, mom. Jangan libatkan Izzy. Dia tidak tahu apa-apa tentang drama ini."
"Belum siap ya kamu?" goda Raana.
"Belum mom. Masih banyak hal yang harus diperhitungkan."
"Sayang, apakah Izzy sudah bersedia operasi? Bagaimana jika..."
"Mom, jangan terjun terlalu dalam. Izzy bukan tipe gadis seperti itu dan aku menghormati keputusannya. One step at the time, pelan-pelan" pinta Damian.
"I'm sorry Damian. Mommy hanya tidak sabar kamu mendapatkan kebahagiaan lagi."
"Mom, aku tahu. Tapi bersabarlah..." kekeh Damian.
"Jadi, kamu pulang?"
"Insyaallah aku pulang, mommy. Dan kita semua akan ke Bahrain."
***
Toko Bunga Izzy
"Kamu mau ke Bahrain? Menghadiri pernikahan mantan istrimu? Aku mendukungmu !" ucap Izzy sambil menepuk bahu Damian penuh semangat. "Tunjukkan bahwa kamu ikut senang !"
Damian menatap Izzy. "Really?"
"Dam, itu akan membuatmu lebih tenang dan bagus buat emosi kamu."
"Izzy benar Mr Azzam. Terkadang kita harus menghadapi sumber masalah untuk bisa menyelesaikan masalah dan menjadi healing disana. Macam aku, sumbernya adalah alkohol, dan aku menghadapi nya dengan menemui pertemuan AA hingga akhirnya aku bisa sober lama." Betty menatap Damian. "Bukan hal yang dibanggakan pada saat kamu minum tapi aku berani mengambil keputusan untuk mengobati diriku sendiri setelah mendapatkan akibat dari alkohol itu dan berusaha untuk tetap bersih."
"I'm so proud of you Betty" ucap Izzy sambil menggenggam tangan sahabatnya.
"I know. Dukungan kamu, dan sekarang aku mendapatkan teman-teman baik ... Emir pula...dan pengawal Emir" kerling Betty ke Dahir.
"What?" Dahir menatap ke Betty.
"Besok. Kenapa Betty?" tanya Damian.
"Oleh-oleh. Yang banyak!"
Damian terbahak sedangkan Izzy memegang pelipisnya, dan Dahir hanya menatap Betty sebal.
***
Dubai UAE
Damian dan Dahir menunggu mobil yang akan menjemput mereka. Pria itu tampak tenang membuat Dahir sedikit lega dengan pengendalian emosi tuannya.
"Tuanku berangkat besok dengan tuan besar dan nyonya besar?"
"Yes Dahir."
"Tuanku baik-baik saja?"
"Never better, Dahir." Damian tersenyum. "Mbak Ajeng ngamuk lagi."
"Kenapa tuanku."
"Kalah taruhan dan suit jadi anak mereka bernama Duncan." Damian tertawa geli membaca berita di group chat keluarga dan generasi keenam.
"Ya Allah..." Dahir sudah hapal dengan kacaunya keluarga Emirnya.
***
Manama Bahrain
Damian datang bersama dengan kedua orangtuanya ke istana Al Salman untuk kedua kalinya tapi bedanya, bukan dia yang akan menikah kali ini.
Pria itu tersenyum ke arah dua orang yang datang dan segera menghampiri keduanya.
"Mas Dam" sapa Kalila yang langsung memeluk Damian erat. "I hope you will be okay."
"Oh I'm so okay Lila" senyum Damian.
"Hai Alex" sapa Damian setelah mengurai pelukannya ke Kalila. Kedua pria itu saling berpelukan.
"Halo Dam. Good?" tanya Alexander, suami Kalila.
"Alhamdulillah."
"Bagaimana rumah Opa Duncan?" tanya Kalila.
"Berdiri dengan kokoh kalau kamu mau tahu" senyum Damian.
"Hai Dahir" sapa Kalila ke pengawal Damian. "Kamu tampak segar. Udara disana bagus?" Semua sepupu Damian diminta untuk tidak menyebutkan lokasi dimana Damian berada pascat perceraian dengan Reema. Dan mereka memilih menggunakan bahasa kode yang tidak menunjukkan secara spesifik.
"Udara disana memang bagus my princess." Dahir tersenyum penuh arti.
"Yuk masuk, sayang" ajak Alexander.
***
Reema melihat Damian datang disaat dirinya berada di pelaminan dan hatinya merasa sakit karena dirinya harusnya bersama Damian ... lagi ! Bukan dengan pangeran Kamal si@lan yang mengambil keuntungan disaat dirinya rapuh ! Reema rasanya ingin marah melihat bagaimana Damian tampak bahagia.
brengseeekkk!
***
Damian menatap ke arah pelaminan yang super mewah daripada jaman dirinya menikah dan dirinya melihat bagaimana Reema menatapnya penuh kemarahan.
Why Reema? Kamu masih berharap aku yang di sebelah mu?! Sorry, aku berharap wanita lain yang berada di sebelah aku, bukan kamu !
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️