
Knightswood Glasgow Skotlandia
Siang ini, keempat orang di toko bunga milik Izzy, menikmati acara makan siang dengan menu steak, salad dan mashed potatoes yang dibuat bersama antara Izzy dan Damian.
Dahir tertawa saat mendengar bagaimana Emirnya manyun tidak boleh memasak oleh Izzy.
"Jadi ini masakan kamu Zy?" tanya Betty.
"Not exactly karena yang memanggang steaknya itu Damian. Aku merasa kasihan melihat wajahnya yang manyun karena tidak aku ijinkan memasak." Izzy mengerling ke arah Damian yang cemberut.
"Kan tugas aku Zy, untuk memasak makan siang kalian" balas Damian.
"Kamu tidak harus memasak siang untuk kami, Dam."
"Oke, aku tidak perduli siapa yang memasak, asalkan tetap ada makan siang lezat" potong Betty agar kedua orang itu tidak saling ribut. "Soal masak memasak, entah kamu Izzy atau Mr Azzam, yang penting ada makan siang.Titik ! Period !"
Dahir tertawa kecil mendengar keributan unfaedah di meja kerja yang disulap menjadi meja makan dadakan.
"Eh Mr Mannequin, habis ini giliran kamu dan aku yang mencuci piring! Jangan dikira kamu tidak ada tugas yang lain selain angkat-angkat pupuk!" Betty menatap Dahir sambil menunjuk dengan pisau steak.
"Oh my God, sangat tidak sopan menunjuk dengan pisau steak nona Betty" ucap Dahir dengan nada dibuat ketakutan.
Damian dan Izzy hanya tertawa melihat keduanya.
"Ternyata kalian sama saja receh nya" sahut Damian.
"Aku senang dengan kehadiran kalian berdua, membuat suasana ramai dan seru" senyum Izzy.
"Kami juga Izzy." Damian menatap lembut ke gadis bergigi kelinci itu.
***
Usai makan siang, Betty membuktikan ucapannya untuk menyeret Dahir mencuci semua peralatan makan dan memasak di lantai dua.
Damian dan Izzy berada di lantai satu sembari membuat buket mawar yang dipesan oleh pemilik restauran China depan toko Izzy untuk hadiah ulang tahun istrinya besok. Menurut rencana, bunga itu akan diberikan tepat saat tengah malam dan agar istrinya tidak tahu, pria berdarah China itu akan menyimpannya di lemari es besar di restauran.
"Apa tidak beku ini nantinya Izzy?" tanya Damian sambil membantu menggunting pita.
"Beku sih tapi daripada layu nanti."
"Sayangnya karena sudah cantik jadi tidak bisa direndam dalam vas ya" senyum Damian.
"Bisa tapi ya tidak seperti semula. Tadinya Mr Liu ingin mengambil hampir tengah malam tapi aku sudah bilang kalau tidak menerima tamu lebih dari jam tujuh malam. Aku kapan istirahat nya nanti Dam?" Izzy menatap Damian serius. "Lagipula aku kalau sudah tidur macam beruang hibernasi."
Damian terkekeh mendengar analogi Izzy. "Baguslah kalau kamu bisa tidur dengan mudah dan nyenyak karena terkadang aku mengalami kesulitan tidur sebelumnya."
"Memang kenapa Dam?" tanya Izzy tanpa ada tendensi ingin tahu berlebihan.
"Aku... mengalami... perceraian yang buruk" jawab Damian.
Izzy melongo. "Kamu itu seorang duda?"
"Yup. Surprised?" Damian tersenyum getir.
"Mungkin memang bukan jodohmu, Damian."
"Hu um. Kami menikah karena mantan istriku memaksa pihak ayahnya untuk menikahkan dirinya denganku."
Izzy menatap Damian tidak percaya. "Dia bisa melakukan itu?"
"Bisa Izzy kalau ayahnya orang yang berkuasa hingga ayahku tidak bisa menolaknya."
"I did. Bahkan sebelum kami ijab, aku sudah bilang kalau pernikahan ini dibatalkan saja karena aku tidak mencintainya. Dan menurut nya, lebih baik menjadi janda daripada batal menikah."
Izzy menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kehidupan rumah tangga kalian?"
"Macam kutub Utara. Di depan publik, kami tampil layaknya suami istri tapi di rumah, kami bagaikan orang asing, aku yang seperti orang asing. Kami bahkan tidur terpisah."
Mata coklat Izzy terbelalak. "Kamu sama sekali tidak tidur bersama?"
"Siapa juga yang bisa tidur bersama dengan orang yang tidak kamu cintai? Apakah kamu bisa?" Mata hijau Damian menatap Izzy serius.
"Aku... aku juga tidak bisa Dam. Bagiku saat kamu menyerahkan milikmu, harus dengan orang yang tepat dan orang yang mencintaimu dan kamu cintai. Aku juga tidak mau melakukannya sebelum menikah karena lebih baik aku menjadi perawan tua daripada kamu menyesal sudah memberikan pada orang yang salah tanpa ikatan pernikahan" ucap Izzy tegas.
Damian tersenyum ke arah Izzy. "Aku salut dengan pola pikir mu Izzy. Jarang wanita jaman sekarang yang mau menjaga tubuhnya dan memilih kehidupan bebas."
"No, Dam. Aku bukan macam cewek-cewek lainnya. Aku melihat bagaimana teman-teman sekolah aku di Glasgow, usia 14 bahkan 15 tahun sudah melakukan hubungan suami istri hingga hamil dan setelahnya membuat repot orang tua. Aku tidak mau membuat kedua orangtuaku kecewa, kakakku kecewa. Jadi aku tetap memegang prinsip itu" timpal Izzy.
"Terkadang yang kuno pikirannya, jauh lebih nyaman hidupnya" balas Damian.
"Betul. Aku bebas bekerja, lebih fokus tanpa diributkan kesalahan yang terjadi akibat perbuatan kamu. Mungkin juga pengalaman Betty yang tidak mengenakan, membuat aku sedikit agak takut menikah Dam."
"Seperti yang kamu bilang tadi, jika bertemu dengan orang yang tepat, pasti akan nyaman semuanya."
Izzy tersenyum. "Dam, siapa juga yang mau dengan gadis cacat macam aku?"
"Izzy, yang cacat kan kakimu tapi hatimu tidak kan?" cengir Damian.
"Eh sorry ya Dam ! Aku bukan cewek psycho !" hardik Izzy kesal.
Damian terbahak. "Itulah Zy, orang itu memang melihat dari fisik terlebih dahulu tapi buat apa fisik kamu sempurna kalau hatimu penuh dengan tipu muslihat dan kelicikan."
"Apakah itu yang kamu rasakan ke mantan istri kamu?"
Damian mengangguk. "Mantan istriku cantik, cerdas dan sempurna. Sangat sempurna hingga orang tidak menduga kalau dia memiliki cacat yang fatal."
Izzy memegang tangan Damian. "Poor Damian. Aku rasa itu bukan cinta, tapi obsesi yang terlalu berlebihan... Kehidupan seperti itu seperti menyimpan bom waktu."
"Kamu benar Izzy. Dan memang akhirnya aku yang meledak. Kamu tahu Izzy, meskipun aku tidak mencintai dia, tapi aku sangat menghormati rumah tangga kami. Aku tidak pernah berselingkuh apalagi melirik wanita lain karena aku menjaga perasaan semua orang termasuk keluarga aku. Tapi dia tidak memberikan kepercayaan padaku, curiga kalau aku menemui wanita lain disana padahal aku sudah bilang kalau aku bertemu dengan adikku."
"Bagaimana bisa dia tidak mempercayai kamu?"
Damian mengedikkan bahunya. "Reema, nama mantan istriku, takut dengan pikiran dan perasaan nya sendiri karena tidak bisa membuat aku jatuh cinta padanya."
Oh jadi namanya Reema. Bagus namanya tapi kok menyeramkan obsesinya? Damian memang tampan, gentleman... Jadi siapa yang tidak jatuh cinta dengannya? - batin Izzy.
"Perasaan jatuh cinta itu tidak terduga datangnya. Bisa saja panah cupid datang saat pertama kali kamu melihat orang itu tapi bisa juga panah cupid datang seiring dengan waktu..." senyum Izzy. "Atau bahkan panah itu nyasar ke tembok, bukan ke hati kita."
Damian tertawa. "Berarti cupidnya kurang latihan memanah !"
"Touché." Izzy tersenyum manis.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️