The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Bintang Jatuh



Rumah Sakit Ari Canti Ubud Bali Indonesia


Reema menatap Kamal dengan tatapan benci yang tidak dapat ditutupi karena dia hamil disaat dirinya sudah merasa dekat dengan Damian. Benar-benar sangat tidak tepat anak ini hadir ! Brengseeekkk !


"Sayang... "


"Kenapa aku bisa hamil, Kamal !" ucap Reema dingin membuat Kamal shock.


"Apa?"


"Aku tidak mau hamil!" jerit Reema. "Aku tidak mau hamil... Aku belum siap !"


"Reema... Tolong, kamu jangan seperti ini. Anak ini kan hadir karena kita..."


"Karena kamu main minta terus ! Aku sudah meminum pil KB..."


"Aku ganti pil KB kamu... Aku tahu kamu belum siap punya anak, tapi aku ingin punya anak bersamamu... "


Reema menatap Kamal penuh kemarahan dan kebencian. "Kamu... Kamu... " Reema mengambil gelas plastik diatas nakas dan langsung melemparnya ke suaminya. "Brengseeekkk kau ! Sudah kamu perk**$a aku ! Kamu ganti pil KB aku ! B@jingan kau ! F*** you Kamal ! Aku minta sekarang, gugurkan ! Aku tidak mau hamll anakmu !"


Melihat istri Emirnya histeris, seorang pengawal memanggil dokter Kadek Ayu yang segera berusaha menenangkan Reema.


"Princess... harap tenang..."


"Dokter, berikan obat penggugur kandungan ! Aku tidak mau punya anak dari orang yang mengambil keuntungan dariku !" teriak Reema histeris.


Dokter Kadek Ayu lalu menyuntikkan obat penenang melalui infus Reema dan tak lama, wanita itu pun melemas dan kemudian terlelap.


Kamal yang melihat bagaimana histeris nya Reema saat tahu hamil, tidak menyangka istrinya akan bersikap seperti itu. Dia mengira Reema bisa menerima anak mereka tapi istrinya lebih suka menggugurkannya.


Sampai kapan pun, tidak akan aku biarkan kamu mencelakakan anakku ! Kamal mengepalkan kedua tangannya dengan wajah geram. Disaat kamu sudah bisa pulang ke Muscat, kita tidak akan kemana-mana sampai kamu melahirkan anakku !


***


Glasgow Skotlandia


Damian dan Dahir mengantarkan Izzy dan Betty ke sebuah mesjid besar di Glasgow untuk menemani kedua gadis itu mempelajari keyakinan dua pria Dubai itu.


Izzy dan Betty memang memutuskan untuk tutup toko selama seminggu untuk memantapkan hati serta Damian juga ingin bertemu dengan dokternya Izzy yang berada di Edinburgh. Betty dan Izzy tampak serius mendengarkan tata cara untuk berpindah keyakinan apalagi mereka juga harus mempelajari bacaan sholat yang menggunakan bahasa Arab, yang membuat lidah mereka sering belibet.


"Pelan-pelan miss Izzy dan miss Betty. Memang awalnya sulit tapi insyaallah jika kalian memang niat, akan diberikan kemudahan. Percaya sama aku, karena aku pun sama" ucap ustadzah yang berwajah bule itu.


"Apakah jika kita pindah dan menjadi mualaf, diharuskan untuk memakai hijab?" tanya Betty membuat Dahir berdesir saat mendengar pertanyaan wanita itu.


"Apakah Miss Betty sudah siap? Memakai hijab itu tidak hanya sekedar pakai lalu lepas macam baju, no. Memakai hijab itu memiliki makna yang dalam, kita harus bisa membawa diri, tindak tanduk dan perilaku, tutur kata serta menjauhkan dari fitnah."


"I don't know tapi saya mungkin akan memakainya jika siap..." jawab Betty.


"Pelan-pelan, Miss Betty karena saya pun juga butuh proses. Soal keimanan itu tidak bersifat spontan meskipun ada yang tiba-tiba mendapatkan hidayah tapi rata-rata Allah selalu memberikan waktu pada umat-Nya untuk memantapkan hatinya."


Betty mengangguk karena dalam hatinya, wanita itu sudah berjanji akan menjadi istri yang dibanggakan Dahir jika mereka menikah nanti.


***


Usai dari mesjid Glasgow, Damian dan Dahir pun menuju ke hotel yang sudaha dipesan Damian.


Dan kini Damian serta Izzy berada di restauran hotel untuk makan malam, sedangkan Betty dan Dahir memilih untuk berjalan jalan keliling kota Glasgow.


"Kita habiskan malam di Glasgow dulu saja Izzy, sambil beristirahat dan esok kita baru ke Edinburgh. Aku tahu kakimu agak sakit kan karena duduk lesehan tadi di mesjid" ucap Damian.


Izzy tersenyum manis. "Kok tahu kakiku sakit?"


"Kelihatan kok kamu jalannya nggak nyaman. Makanya aku pesankan kamar hotel buat kamu dan Betty biar bisa mengistirahatkan kakimu dulu."


Izzy mengangguk. "Kamu memang pria baik, Dami."


"Aku nggak baik Izzy. Karena aku sudah menalak seorang wanita."


"Pasti ada alasannya kenapa seseorang bisa mengucapkan itu dan kita sudah tahu jawabannya bukan? Jika kamu tidak baik, kamu pasti sudah mengambil keuntungan tidur bersama Reema. Am I right?"


"Bisa saja. Karena ada barang tersedia, aku bisa menyalurkan kebutuhan biologis aku, halal dan sah juga... So tunggu apa lagi bukan? Tapi aku bukan pria yang hanya mencari keuntungan semata... Kalau aku bisa seperti itu, berarti aku sama saja dengan pria-pria yang hanya mengedepankan hawa nafsu saja. Aku lebih suka melakukannya dengan pasangan yang aku cintai dan dia mencintai aku. Kalau hanya timpang sebelah, no... itu nafsu" ucap Damian panjang lebar membuat Izzy menatapnya penuh penghargaan.


"Kamu memang gentleman, Damian." Izzy memegang tangan Damian.


***


Pusat Kota Glasgow Skotlandia


"Kenapa kamu bertanya soal hijab Blondie?" tanya Dahir saat mereka jalan-jalan sambil bergandengan tangan di pusat kota Glasgow.


"Hanya ingin tahu apakah sulit jika kita sudah memantapkan diri untuk pindah" jawab Betty serius.


"Aku tidak akan memaksa kamu untuk berubah secepatnya tapi aku sangat mendukung jika kamu ingin berhijab. Semuanya tergantung padamu, Betty, mantapkan dulu."


Betty mencium pipi Dahir. "Terimakasih Mr Mannequin..."


"Mendengar kamu mau ikut aku saja aku sudah senang sekali, Blondie" senyum Dahir.


"Aku lebih tersanjung Dahir. Mendengar kamu melepaskan semuanya di Dubai dan memilih tinggal di Knightswood itu sangat membuatku terharu." Betty menatap Dahir dengan wajah berseri-seri.


Dahir dan Betty saling berpandangan. Pria itu memeluk pinggang Betty lalu mencium bibir gadis itu. Betty pun membalasnya dengan lembut.


"Aku mencintaimu Blondie."


"Aku juga mencintaimu Mr Mannequin."


***


Damian dan Izzy berjalan - jalan di taman sekitar Hotel usai makan malam karena Damian merasa penuh perutnya.


"Masih sakit kakinya?" tanya Damian melihat Izzy berjalan tertatih.


"Sedikit tapi tidak seperti tadi."


"Kita duduk di kursi itu dulu. Aku tidak mau kamu sakit lagi." Damian menunjuk ke arah kursi taman yang terbuat dari kayu.


Keduanya pun duduk disana sembari menatap langit kota Glasgow yang tampak cerah. Tiba-tiba terdapat bintang jatuh dan Izzy pun langsung mengucapkan permohonan karena waktu kecil dia sering diajarkan sang mommy.


"Kamu pasti sedang membuat permohonan" goda Damian melihat Izzy memejamkan matanya usai melihat bintang jatuh.


"Kok tahu?"


"Bukankah waktu kita kecil sering diajarkan seperti itu?" senyum Damian.


"Iya sih..."


"Apa permintaan kamu?"


"Dami, rahasia dong !"


"Ayolah Izzy, beritahukan... Sedikiitttt saja" pinta Damian dengan wajah memelas.


"No."


"Izzzyyyy..."


"Rahasia ... " gelak Izzy senang bisa menggoda Damian.


"Izzy, kamu menyebalkan !" Damian memajukan bibirnya.


Cup !


Damian terkejut saat Izzy mengecup bibirnya sekilas. "Kamu menggemaskan soalnya Dami."


Damian pun membalas Izzy dengan ciuman di bibir yang lembut.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️