
Istana Al Salman Manama Bahrain
Damian dan Ken Al Jordan mendatangi Reema dan Pangeran Kamal dengan langkah santai. Bagi Damian ini adalah obat dan healing tersendiri karena dengan begini, Reema tidak akan mengganggu dirinya lagi, pangeran Kamal pastinya tidak akan membiarkan istrinya pergi.
"Selamat ya pangeran Kamal" ucap Damian tulus. "Saya ikut berbahagia atas pernikahan kalian berdua."
"Thanks Emir Blair. Oh Damian..." Pangeran Kamal berbisik di sisi telinga Damian. "Terimakasih sudah menjaga Reema untukku."
Damian hanya mengangguk. "Aku adalah orang yang selalu menepati janji kepada Reema dengan tidak menyentuh nya dan be a gentleman. Jadi kamu bisa paham kan maksudku?" sindir Damian yang membuat pangeran Kamal terdiam.
"Kamu itu munafik Damian ! Apakah kamu masih ada rasa pada istriku?" Pangeran Kamal menekankan kata 'istriku'.
"Nope. Tidak sama sekali karena aku tahu, Reema bukan lah jodohku. Jadi, anda tidak perlu khawatir, aku tidak ada rasa pada mantan istriku. Silahkan anda menikmati kehidupan pernikahan bersama Reema." Damian menepuk bahu pangeran Kamal.
Pria itu beralih ke Reema. "Congratulations. Akhirnya kamu bisa move on."
"Kamu bahagia kan diatas penderitaan aku?" Reema menatap tajam ke Damian.
"Sejujurnya, aku miris mendengarnya. Tapi itu berpulang dari diri kamu sendiri yang memilih untuk minum alkohol dan mabuk." Damian menatap Reema dingin. "Segala sesuatu, selalu ada konsekuensinya, baik buruk atau baik. Kamu sudah bersuami sekarang dan sudah waktunya kamu menikmati hidup berumah tangga dengan pangeran Kamal. Aku lihat dia sangat mencintaimu."
"Tapi aku mencintaimu, Dam!" desis Reema agar tidak didengar Kamal.
"Aku tidak mau dituduh menjadi pebinor dan kamu tahu sendiri kan hukum di Bahrain dan Oman bagaimana? Happy wedding Reema." Damian pun berlalu dari hadapan mantan istrinya.
Awas kau Damian ! Aku akan segera meminta cerai dari Kamal sial@n itu ! Dan aku akan menarikmu kembali !
Reema menatap punggung Damian yang berjalan meninggalkan pelaminan dan bertemu dengan pangeran As'ad dari Qatar. Keduanya tampak serius bercakap-cakap dan setelahnya mereka saling bersalaman.
***
Perjalanan Pulang ke Dubai
Malam itu juga pesawat Blair membawa rombongan kembali ke Dubai apalagi esok Damian dan Alaric ada acara golf dengan para pemegang saham.
Damian mematap pemandangan awan dari jendela pesawat dan perlahan dirinya menutup mata. Perjalanan dari Bahrain ke Dubai membutuhkan waktu satu jam sepuluh menit. Damian pun terlelap dan membuat Raana tersenyum karena melihat putranya sekarang mudah tertidur.
Wanita mungil itu lalu memanggil Dahir yang bergegas menghampiri Raana.
"Ya Nyonya Besar?" tanya Dahir.
"Apakah Damian tidak insomnia seperti dulu?" tanya Raana.
"Selama saya bersama tuan Emir, beliau sudah kembali tertib pola hidupnya. Lebih cerah, nyonya."
"Baik. Terus bagaimana dengan gadis bernama Izzy? Apakah dia sudah tahu siapa Damian?"
"Sudah nyonya."
"Lalu?"
"Nona Izzy tidak perduli siapa tuan Emir apalagi kami berada di Skotlandia dan kami tidak memiliki kuasa di Knightswood. Kami sangat menikmati hidup sebagai orang biasa, tuan Emir yang menikmati menjadi dirinya sendiri."
"Coba ceritakan tentang Izzy."
"Kami baru tahu kalau nona Izzy adalah adik kandung Hunter McDouglas, pengawal tuan Bayu O'Grady."
Raana melongo. "Izzy adik Hunter?"
"Iya Nyonya."
Raana tampak tersenyum tipis. "Ternyata masih masuk dalam keluarga. Lalu Damian sendiri ke Izzy bagaimana?"
"Tuan Emir sangat menyukai nona Izzy tapi nona Izzy menganggap tuan Emir sebagai sahabat."
"Oh anak itu... Lucu sekali. So soal operasi kakinya bagaimana?" Raana menatap Dahir.
"Tuanku Emir bersedia menjaga toko bunganya selama Nona Izzy dalam pemulihan."
Raana melongo, begitu juga dengan Direndra yang dari tadi diam saja.
"Apa?" Direndra menatap pengawal putranya. "Ya ampun Damian... Damian" kekeh Direndra.
"Macam siapa coba?" goda Raana. ( Baca The Four Emirs ).
"Well, like father like son. Aku rasa Damian benar-benar jatuh cinta dengan gadis bernama Izzy ini.." senyum Direndra.
"Kamu tidak apa-apa Mas ?" tanya Raana.
"Nona Izzy sangat baik tuan besar. Bahkan dia lebih dewasa dari teman bisnisnya, nona Betty Leigh."
Direndra dan Raana saling berpandangan. "Bagaimana dengan Betty?"
Dahir menceritakan semua yang dia tahu dan diceritakan sendiri oleh Betty. Direndra dan Raana mengangguk lalu melihat Damian yang tampak damai tidurnya.
"Biarkan saja Damian di Knightswood. Toh selama ini dia juga bisa kerja online dan tidak melepaskan tanggung jawabnya." Direndra lalu menatap Dahir. "Jaga Damian, Dahir. Meskipun Reema sudah menikah dengan Kamal, tidak berarti dia akan berhenti sampai disitu."
"Baik Tuanku."
***
Glasgow Skotlandia arah ke Knightswood Tiga Hari Kemudian
Damian menyetir mobilnya bersama dengan Dahir, kembali ke Knightswood Glasgow Skotlandia. Pria itu menyetir dengan santai dan Dahir bisa melihat Emirnya sangat senang.
Damian Blair
"Tuanku Emir..."
"Yes Dahir?" sahut Damian sambil konsentrasi menyetir.
"Apa anda memborong semua toko makanan di Dubai hingga membeli banyak makanan?" Dahir menengok ke belakang yang penuh dengan kotak-kotak berisikan makanan kesukaan Izzy dan Betty serta Jack. Selain itu juga banyak oleh-oleh untuk para tetangga tenant yang berada di sekitar toko Izzy.
"Aku sudah menjual Hublot ku jadi bisa membeli banyak oleh-oleh" jawab Damian kalem sedangkan Dahir terbahak karena kali ini Emirnya mengenakan jam yang lebih mahal dengan brand Vacheron Constantin harga $175,000.
"Seriously, tuanku. Anda bisa kena omel lagi dari nona Izzy."
"Hei, Vacheron aku tidak terlihat mahal kok."
"Tapi tetap saja..." Dahir tersenyum geli.
Damian mengedikkan bahunya dan tetap berkonsentrasi menyetir.
***
Knightswood Glasgow Skotlandia
Damian memarkirkan mobilnya dan membuka pintu belakang dan mulai membawa kotak-kotak berisikan oleh-oleh untuk para tenant disana. Mereka menyambut oleh-oleh Damian dan terakhir, pria itu membawa dua kotak besar bersama dengan Dahir. Kedua pria itu menuju toko bunga milik Izzy.
Suara bel pintu pertanda ada orang datang membuat Izzy dan Betty yang sedang makan siang menoleh ke arah pintu. Kedua wanita itu tersenyum lebar saat tahu siapa yang datang.
"Hello strangers ( hai orang asing )" goda Betty.
"Hello Blondie" balas Dahir membuat Betty tertawa. "Oleh-oleh untukmu."
Betty tampak senang dan keduanya pun menuju meja kasir untuk membongkar isi kotak.
"Aku bawakan oleh-oleh ini. Banyak." Damian menunjukkan kotak dan Izzy menghampiri pria itu sedikit tertatih.
"Apakah ada banyak coklat?" tanya Izzy penuh harap sambil melihat isi kotak yang dibawa Damian.
"Absolutely. Kamu minta coklat, aku bawakan banyak dari berbagai merk dan negara."
Izzy tersenyum senang. "Terimakasih Damian."
Si Gigi kelinci
Damian tersenyum. "Sama-sama Rabbit Teeth."
"Hah?" Izzy menatap bingung ke pria yang terus menatapnya lembut.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️