The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Kisah Izzy dan Betty Awal Bertemu



Rumah Singgah Milik Duncan Blair Glasgow Skotlandia


Izzy memegang lengan Damian erat karena benar kata pria itu kalau jalannya licin dan tidak rata.


"Aku sepertinya salah pakai sepatu deh" kekehnya. "Harusnya pakai Crocs bukan Converse."


"Memang sol Converse agak sedikit licin" senyum Damian. "Kamu mau ganti dengan sandal rumah? Aku ada flip flop."


Izzy menatap Damian. "Rumahmu lengkap ya? Semua ada."


"Well bisa dibilang rumah ini sangat lengkap dan penuh persiapan macam Pramuka."


Izzy tertawa. "Mana ada Dam, rumah penuh persiapan macam Pramuka?"


"Ini buktinya" jawab Damian kalem. Mereka berdua sudah sampai di dalam rumah. "So, Izzy, kira-kira tanaman apa yang cocok untuk menambah rumah ini semarak?"


"Kamu berapa lama akan tinggal di sini?" Izzy menoleh ke arah Damian mengacuhkan pertanyaan pria itu sembari mengambil iPad di tasnya.


"Bisa jadi sekitar dua tiga bulan lagi. Aku belum mengambil cuti besarku soalnya."


Izzy mengangguk. "Bisa kita bahas di meja makan?"


"Kenapa Izzy? Kakimu sakit ya?" tanya Damian.


"Sedikit tapi tidak apa-apa yang penting aku harus duduk Dam jika terlalu lama berdiri atau berjalan. Dan tadi seharian aku baru sempat duduk saat menunggu kamu tadi bekerja..." Izzy lalu duduk di kursi makan.


"Apakah jika kamu operasi lagi, akan membuat kakimu kembali normal?" tanya Damian yang duduk di hadapannya.


"Kata dokter begitu. Karena tulangku dulu terlalu parah rusaknya dan dokter berusaha untuk menyatukan semuanya. Setidaknya aku bisa berjalan dulu. Operasi yang ini untuk membenarkan patella aku. Karena operasi yang terakhir masih belum sempurna."


"Kapan rencananya untuk operasi?"


"Masih mengumpulkan uang dulu. Karena biayanya juga tidak murah ditambah aku juga sedikit khawatir dengan operasi karena setelahnya aku tidak bisa bekerja sampai enam bulan agar sembuh total." Izzy tersenyum. "Sudah lah Damian, kita bicarakan yang lain saja. Ini aku ada beberapa contoh tanaman yang mudah kamu rawat dan membuat rumah ini menjadi sangat cantik."


Damian melihat ke layar iPad milik Izzy dan melihat banyak tanaman yang ditawarkan gadis itu. Keduanya asyik berdiskusi tapi Damian tetap memikirkan ucapan Izzy.


Setelah operasi, aku tidak bisa bekerja sampai enam bulan.


Entah kenapa Damian merasa ingin menolong Izzy tapi belum tahu apa. Ditambah dirinya dan Izzy juga baru kenal dua Minggu ini. Sabar Dam. Jiwa gentleman kamu ditahan dulu.


Damian dan Izzy akhirnya memutuskan untuk memilih tiga jenis monstera, siltepecana, andansonii dan variegata yang daunnya belang antara hijau dan putih.



Monstera Variegata


"Yakin tidak mau ditambah bunga lagi, Dam?" tanya Izzy.


"Nope. Lihat, mawarmu masih tampak cantik bukan?" Damian menunjuk bunga mawar orange dalam pot yang tampak terawat.


"Jadi mau nuansa hijau ya Dam" senyum Izzy sambil menyesap es lemon tea nya.


"Yup..."


"Aku dapat banyaaakkk!!!"


Keduanya menoleh melihat wajah bahagia Betty memamerkan ikan Trout yang ditangkapnya.


"Kamu dapat berapa Betty?" tanya Izzy.


Damian tertawa. "Kalau begitu, bantu aku membersihkan ikan - ikannya. Sebagian kita simpan di kulkas, sebagian kita masak disini."


"Yes Chef!" seru Betty penuh semangat.


Izzy melihat bagaimana Damian dan Betty bekerja sama membersihkan ikan-ikan Trout yang tiga ekor dimasak saat itu juga sedangkan yang tiga dibawa pulang Betty untuk dimakan bersama keluarganya. Izzy menolak membawa ikan tersisa karena dirinya bakal tidak sempat mengolahnya.


"Kalau begitu, bisa buat makan siang besok ya, Izzy. Sekalian aku mengambil pot-pot tanaman monstera yang aku pesan" ucap Damian sambil mencabut duri-duri di daging ikan Trout.


"Apakah akan kamu masak garlic lagi Dam?" goda Izzy yang menyaksikan Damian dan Betty saling berkerja sama.


"No, akan aku buatkan dengan menu berbeda lah!"


Izzy tersenyum lebar. "Aku tidak sabar mencicipi masakan ala chef Damian Azzam."


Damian ikut tersenyum melihat wajah berbinar Izzy.


***


Ketiga nya asyik memakan ikan Trout garlic butter lemon sauce buatan Damian dengan dibantu Betty.


Damian seperti biasa mendengarkan cerita Betty dan Izzy tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu hingga menjadi partner bekerja.


"Jadi aku waktu itu posisi kehilangan anak, kehilangan suami akibat perceraian yang buruk, membuat aku terpuruk. Dan saat aku mengalami kecelakaan akiba DUI ( Driving Under the Influence - mengemudi dalam keadaan mabuk baik alkohol ataupun narkoba ), aku harus dirawat di rumah sakit dan disana aku bertemu dengan Izzy." Betty menatap Izzy lembut.


"Izzy adalah korban dari pengemudi DUI macam aku. Bedanya aku mengalami kecelakaan tunggal karena kecerobohan aku sendiri tapi Izzy menjadi korban orang yang ceroboh. Kami banyak mengobrol karena satu kamar dan sejak itu aku menjauhi alkohol karena bukan tidak mungkin suatu saat nanti aku bisa merenggut nyawa orang jika aku tidak berhenti minum" lanjut Betty.


"True. Hanya diri kita sendiri yang bisa menghentikan kebiasaan buruk kita! Hanya kemauan dan kesadaran diri kita yang bisa memindset 'aku bisa berhenti'. Aku belajar dari adik ku yang berkuliah di psikologi" ucap Damian.


"Apakah kamu minum alkohol Damian?" tanya Izzy.


"No. Aku tidak suka alkohol lagipula keyakinan aku tidak mengijinkan" senyum Damian yang membuat Izzy dan Betty saling berpandangan.


Pantas tadi bilang Wa'alaikum salam.


"Lalu kamu mulai bekerja dengan Izzy sekeluar dari rumah sakit?" tanya Damian.


"Tidak langsung karena Izzy masih harus pemulihan. Aku memutuskan untuk mengikuti program rehabilitasi alkoholik. Sebenarnya aku belum menjadi alkoholik tapi tendensi kesana sudah ada. Aku mengikuti detox, rehabilitasi dan konseling anonim dengan komunitas AA ( Alcoholic Anonymous ). Setelah aku sober ( bebas alkohol ) sekitar 60 hari, aku memberanikan diri datang ke Izzy. Dan sejak itu aku bekerja bersama Izzy hingga sekarang." Betty menyudahi ceritanya.


"I'm so proud of you Betty ( aku sangat bangga padamu ). Aku salut dengan kesadaran kamu bahwa kamu bisa lepas dari alkohol." Damian menatap Betty dengan wajah kagum.


"Terimakasih Mr Azzam. Sebenarnya melihat kondisi Izzy di rumah sakitlah yang menyadarkan saya bahwa saya masih diberikan kesempatan hidup dan membuat anugerah yang diberikan Tuhan ini bermakna karena saya yakin Tuhan memiliki alasan tersendiri memberikan usia panjang. Saya bisa saja mati saat menabrak pohon."


"Betty, kamu adalah orang baik. Jika tidak ada kamu, aku juga tidak akan kuat menghadapi kondisiku usai kecelakaan itu" senyum Izzy.


"Kalian itu ditakdirkan untuk betemu agar menjadi penyemangat satu sama lain. Persahabatan kalian lebih dari itu karena yang aku lihat, kalian bagaikan saudara" senyum Damian.


"Kamu benar Dam, terkadang orang lain mampu melebihi dari saudara" balas Izzy.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️