The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Raana dan Damian



Western General Hospital Edinburgh Skotlandia


Raana menemani Izzy untuk pemeriksaan akhir. Entah kenapa, Izzy ingin ditemani oleh wanita cantik kesayangan Direndra dan Damian Blair itu. Raana sendiri tidak keberatan saat Izzy meminta untuk menemani dirinya selama di ruang dokter. Macam menemani putrinya sendiri.


Damian dan Hunter pun menunggu dengan sabar di kamar VIP Izzy. Keduanya memilih menikmati kopi yang dibeli setelah mengantarkan Izzy dan Raana masuk ruangan dokter.


"Ada gosip, Dam..." ucap Hunter.


"Gosip apa?"


"Soal mantan istrimu. Kabarnya dia ditahan suaminya sampai melahirkan dan setelahnya ditalak lagi."


Damian menoleh ke arah Hunter yang duduk di sebelahnya. "Dapat gosip dari mana kamu?"


"Bayu lah. Bayu dapat dari Gasendra dan Gabriel." Hunter menatap ke arah Damian. "Mantanmu memang kacau."


Damian tersenyum smirk. "Semoga seiring jalannya kehamilannya yang semakin membesar, ada perubahan sifat dan perilaku. Setidaknya, lebih waras lah... Kasihan anaknya."


"Yup. Terlepas dari apapun, dia membawa nyawa di perut nya. Dosa besar jika membunuh darah dagingnya sendiri ..." ucap Hunter sambil menyesap kopinya.


"That's why aku mendoakan agar dia berubah dan menjadi kepribadian yang lebih baik."


Hunter menepuk bahu Damian. "Kamu memang pria baik Dam dan aku tidak ragu menyerahkan Izzy padamu..."


Damian tersenyum. "Meskipun Izzy nanti ikut keyakinan aku?"


"Hei, aku sudah tahu keluarga kalian. Luar dalam, good dan bobrok..."


Damian terbahak. "Well, yeah, keluarga aku memang nano-nano. Kamu tahu sendiri kan?"


"Aku tidak masalah jika Izzy mulai serius mempelajari keyakinan kamu. Toh semuanya sama tujuannya untuk worship the Lord. Hanya aku percaya Jesus sebagai prophet aku, kamu Nabi Muhammad. Aku bilang God,Lord kamu Allah SWT. Perbedaan penyebutan dan iman tapi intinya sama, kita sama-sama percaya sang Pencipta." Hunter tersenyum ke arah Damian. "Lagipula, Izzy bukan gadis yang religius... Jarang ke gereja juga, sama denganku tapi kami selalu berdoa setiap pagi dan sebelum tidur."


"Izzy dan Betty sudah sama - sama serius mempelajari keyakinan aku dan Dahir. So, kalau kamu tidak keberatan..."


"No Dam. Sejujurnya aku senang jika Izzy menjadi lebih religius bersamamu. Well, asal jangan diajak barbarisme saja sih sama Raine, Garvita dan Nadya..."


Damian tertawa. "Jangan sampai bertemu dengan trio mafia Yakuza FBI... Mbak Bee, Mbak Leia dan Mbak Dira. Aku tidak mau Izzy terkontaminasi..."


"Tapi aku yakin, Izzy akan ketularan. Apa kamu tidak sadar Ajeng sekarang jauh lebih bar-bar daripada dulu?"


Damian menggelengkan kepalanya. "Pengaruh mas Bayu sangat tinggi... "


"Dan Nadya, dan Nadira..." Hunter tersenyum. "Tapi rata-rata semua wanita yang masuk ke dalam keluarga mu pasti ketularan bar-bar."


"Duh aku harus menjauhkan Izzy dari wanita-wanita itu..."


Hunter tertawa. "Aku rasa kamu tidak akan mampu Dam. Kalian terlalu dekat. Bahkan Bayu pun tidak lepas dari kedurjanaan kalian."


Suara pintu dibuka membuat Kedua pria itu menoleh dan tampak Raana dan Izzy masuk bersama dengan dua orang perawat dan dokter.


"Bagaimana dok?" tanya Hunter yang bertindak sebagai wali Izzy untuk memberikan ijin operasi.


"Semua baik. Miss McDouglas sudah mulai puasa nanti jam delapan malam untuk makan berat tapi boleh minum hanya air putih..."


"Baik dok" jawab Izzy patuh. "Setidaknya aku boleh makan dulu. Bisa pingsan aku ..."


Damian dan Raana tertawa. "Nanti kamu akan tahu rasanya puasa di bulan ramadhan" ucap Raana sambil tersenyum.


"So, kita persiapan untuk besok Miss McDouglas dan kita lakukan yang terbaik" ucap dokter tulang itu.


"Baik dok. Terima kasih" ucap Hunter.


"Kami permisi dulu. Miss McDouglas, makan siang anda akan segera datang." Dokter tulang dan dua perawat itu keluar dari kamar meninggalkan keempat orang di kamar.


"Kamu istirahat dulu Izzy, tadi kakimu sempat di observasi dan membuatmu lelah kan?" ucap Raana lembut dan Izzy pun mematuhi permintaan wanita cantik itu.


"Baik Tante Raana" jawab Izzy yang kemudian naik ke atas tempat tidur.


"Mom, bagaimana tadi?" tanya Damian sambil duduk di sebelah tempat tidur Izzy.


"Hasil bagus semua, Alhamdulillah. Kaki Izzy akan sehat kembali usai operasi. Kami tadi sudah diperlihatkan simulasi operasinya jadi insyaallah besok bisa lancar semuanya" jawab Raana sambil menggenggam tangan Izzy.


Hunter melihat bagaimana hubungan. Raana dan Izzy semakin dekat, membuatnya merasa lega bahwa keluarga Damian sangat menerima adiknya. Hunter sangat bersyukur adiknya mendapatkan pasangan yang baik dan keluarganya sudah sangat dia kenal. Setidaknya Izzy tidak jauh-jauh dan bukan orang asing.


***


"Mommy pulang ke hotel dulu ya. Besok pagi-pagi mommy kemari lagi. Kamu nggak pulang ke apartemen?" tanya Raana saat mengajak Damian makan malam di cafetaria rumah sakit, meninggalkan Hunter dan Izzy berduaan. Bagi Raana, penting bagi dua kakak beradik itu saling berkomunikasi sebelum the big day besok.


"Aku akan menungguu Izzy..."


"Dam, hemat mommy, ada Hunter dan dia lebih berhak menunggui Izzy. Kamu belum jadi apa-apanya. Biarkan mereka bersama dulu karena jarang bertemu juga. Apalagi jika nanti kamu dan Izzy meresmikan hubungan kalian, semakin jauh kan ke Dubai." Raana menatap lembut ke putra tunggalnya. "Kamu bisa menerima pendapat mommy kan?"


Damian mengangguk. "You're right, mom. Hunter lebih berhak bersama Izzy."


"Good. Kamu sebaiknya kembali ke apartemen sebab kamu butuh fisik yang kuat untuk menemani Hunter dan Izzy besok. Apalagi kamu sudah komitmen mau menemani Izzy sampai sembuh kan?"


Damian mengangguk.


"Pesan mommy, jangan lupa pekerjaan kamu di AJ Corp dan MB Enterprise. Jika sempat, kembalilah ke Dubai untuk mengurus pekerjaan kamu yang tidak bisa diselesaikan dengan online. Koordinasi dengan Hunter untuk bergantian menjaga Izzy. Mommy nanti akan bilang pada Bayu untuk memberikan dispensasi ke Hunter. Mommy yakin, Bayu bisa terima kok." Raana memegang wajah tampan putranya. "Sayang, mommy setuju kamu dengan Izzy. Tadi selama diobservasi, mommy banyak mengobrol dengannya dan mommy suka kepribadian nya. Dia macam Hunter versi cewek."


Damian tersenyum. "Alhamdulillah mommy suka sama Izzy."


"Mommy hanya tidak suka dengan wanita yang oportunis macam Emily dan Reema. Tidak di kamus mommy menerima orang-orang seperti itu di keluarga kita."


"Apa mommy takut kekayaan kita..."


"No sayang, bukan soal kekayaan karena uang bisa dicari tapi memanipulasi semua orang dan mengambil keuntungan dari sana. Mommy tahu semua orang pasti akan mencari keuntungan dari orang lain. Bohong kalau tidak mau dapat untung tapi yang seperti apa dulu. Ambil contoh Ajeng dan Bayu atau Gemma dan Gasendra atau Elane dan Eagle. Mereka melihat Bayu, Sendra dan Eagle saja, bukan embel-embel di belakangnya..."


"Macam mommy ke Daddy ?"


"Benar sayang. Tahu sendiri kan mereka pun tidak berubah kepribadiannya. Ajeng tetap Ajeng yang sering lupa kalau dia istri CEO, Gemma yang tetap strict the rule dan Elane yang tetap membuat pastry karena memang dia suka melakukannya. Izzy, mirip dengan mereka. Dan kamu tahu, Izzy ingin membuka toko bunga jika pindah ke Dubai bersama kamu. Bukan karena mencari uang, tapi karena dia suka.."


Damian melongo. Istri Emir jualan bunga?


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️