The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Tidak Kemarin, Hari Ini Tapi Selamanya



Istana Al Jordan Dubai UAE


Acara tiup lilin berlangsung meriah apalagi pasangan yang sudah tidak muda lagi tapi masih saling mesra satu sama lain, berciuman di depan banyak orang. Bahkan para cucunya tampak malu dengan kemesraan opa dan omanya.


Damian bertepuk tangan melihat kebahagiaan Sabine Al Jordan dan Karl Schumacher, opanya yang memiliki banyak tattoo di lengan dan badannya. Dalam hatinya berdoa agar mereka tetap sehat dan panjang umur.


"Mas Dam, untung ada aku ya jadi mantan istrimu nggak bisa dekati kamu" bisik Thea sambil merangkul lengan Damian.


Tadi Damian menggandeng Thea dan meminta jangan jauh-jauh darinya. Dia tidak mau memberikan kesempatan pada Reema untuk mendekati dirinya.


"Kalau ada Veena, bakalan lebih parah lagi gayanya tapi kan aku bisa dihajar Bang Alexis" kekeh Damian ke Thea yang cekikikan membayangkan Raveena centil ke Damian, bisa gegeran nanti.


"Acara makan-makan. Mas Dam mau aku temani terus?" Mata coklat Thea menatap mata hijau Damian.


"Temani makan tapi nanti jika mantan ku berbuat ulah, aku selesaikan sendiri" jawab Damian yang melirik ke Reema yang mengucapkan selamat ke Sabine dan Karl dengan gaya anggunnya seolaha masih menjadi bagian keluarga Blair.


"Are you okay Dam?" tanya Gasendra yang menghampiri nya bersama Gemma.


"I'm... "


"Boys, foto keluarga dulu" panggil Enzo.


"Yuk. Foto keluarga" ajak Gemma yang sudah mulai susah berjalan apalagi dia sedang hamil besar.


"Para cucu yang foto bareng" ucap Karl dan Sabine yang duduk di kursi. Wajah opa dan Oma itu sangat senang semua cucu Dubai datang lengkap. Sabine memangku Alisha sedangkan Avaro dipangku Karl. Banyak yang bilang Alisha terkadang mirip Sabine. Oma yang juga mantan sniper itu memangku cicitnya dengan bahagia.


Damian pun mengambil posisi bersama dengan sepupunya ketika melihat Reema hendak ikut berfoto.


"Kamu ngapain Reema?" tegur Raine.


"Ikut foto lah!" jawab Reema kalem.


"Maaf Reema, kamu sudah bukan bagian keluarga jadi mau foto nanti, bersama dengan ayahmu" tegur Karl dingin membuat semua cucunya merinding karena belum pernah mereka mendengar Karl menegur orang dengan nada seperti itu.


Reema hanya menatap ke keluarga Damian dan matanya terarah ke mantan suaminya yang tidak mau memandang nya sama sekali.


Gadis itu membalikkan tubuhnya dan menatap wajah ayahnya yang hanya menghela nafas panjang. Ada raut tidak suka melihat putrinya sangat tidak tahu malu jika berhubungan dengan Damian Blair.


Reema pun memilih bersabar agar bisa berduaan dengan mantan suaminya karena sejak tadi, Damian selalu bersama dengan Thea. Usai foto bersama para keluarga, Damian dan Thea pun berjalan bersama menuju area makan.


Dilihatnya Damian mengobrol dengan beberapa koleganya dan memperkenalkan Thea ke mereka. Setelah dilihatnya pria itu berjalan menuju halaman samping sendirian, dirinya pun mendekati Damian.


Damian melihat mawar-mawar yang ditanam sejak jaman Oma Fatimah dan Oma Tamara yang tetap terawat dengan meregenerasi bunga-bunga itu. Pria itu menjadi teringat mawar-mawarnya yang bersama Izzy.


Teringat Izzy, Damian tidak sabar untuk pulang ke Glasgow. Pulang ke Glasgow... Damian tersenyum tipis.


"Dam..."


Senyum di wajah Damian menghilang saat mendengar suara itu. Suara yang membuat dirinya menjadi pria yang dingin dan menyebalkan.


Damian pun berbalik dan tampak Reema berdiri dibelakangnya. Wajah Damian berubah menjadi dingin dan auranya tampak tidak bersahabat.


"Apa Reema?" Mata hijau Damian menatap dingin gadis cantik di hadapannya yang juga mantan istrinya.


"Dam, kita belum sempat berbincang bincang berdua."


"Haruskah? Setelah semuanya, aku ingin berbincang denganmu?"


"Oh Damian, tampaknya kamu menghindari aku ya? Kamu tidak ada di Dubai, kamu menghilang dan memblokir nomorku. Why?"


"Karena bagiku, kita sudah selesai Reema. Tidak ada yang perlu dilanjutkan. Kamu sudah merasakan bagaimana rasanya menikah denganku, bukan?"


"Karena kamu tidak mau membuka hatimu untukku Dam. Aku cinta padamu, aku sayang padamu..."


"Aku tidak Reema. Tidak kemarin, tidak hari ini dan tidak juga esok selamanya. Aku tidak pernah mencintaimu dari jaman kita sekolah hingga detik ini pun aku tidak memiliki perasaan apapun padamu..." Damian melihat salah seorang pangeran dari Oman melihat dirinya dan Reema. Tampak pria itu lebih fokus ke Reema.


"Disamping itu, pangeran Kamal dari Oman, tampaknya tertarik padamu." Damian mengedikkan dagunya. "Sorry Reema, kita sudah selesai."


Reema menatap kepergian Damian dengan perasaan kesal. Mantan suaminya sama sekali tidak merasa kehilangan dirinya bahkan masih saja terang-terangan menolaknya.


Awas kamu Damian!


Gadis itu melihat pangeran Kamal menghampiri dirinya dan Reema memasang wajah dingin ke pangeran yang wajahnya menurut nya kalah tampan dari Damian.


***


Damian berpamitan kepada semua orang untuk kembali ke istana Al Azzam terlebih dahulu dengan alasan lelah. Para sepupu prianya menatap Damian dengan tatapan maklum.


Damian pun keluar ditemani pengawalnya dan langsung menuju mobil Lamborghini nya.


"Tuanku Emir, kita ke Al Azzam?" tanya Dahir, pengawalnya.


"Tidak Dahir, aku ingin berkeliling Dubai" jawab Damian sambil menstater Lamborghini nya.


Dahir hanya mengangguk dan tak lama mobil bewarna hitam itu pun keluar dari halaman istana Al Jordan. Suara raungan mesinnya terdengar ke para sepupu prianya yang berada di teras depan istana.


"Damian malas di dalam ya?" tanya Sean sambil minum sparkling water.


"Macam bang Sean kagak paham saja" kekeh Ken.


"Yuk masuk, biarkan Damian menenangkan hati" ajak Gasendra.


"Memangnya Damian belum dapat cewek?" tanya Sean.


"Yah bang, tidak semudah itu Férguso... Mas Dam kan tipe orang super introvert jadi semua disimpan sendiri. Lagian dia masih enjoy jalan-jalan keliling dunia." Ken melirik ada Reema di dekatnya yang sedang mengobrol dengan salah seorang putri dari Kuwait.


Sean paham maksud Ken, hanya mengangguk


Reema mendengar dari Ken kalau Damian jalan-jalan keliling dunia, tampak berpikir. Pantas dia tidak ada dimana-mana... Reema bertekad untuk mencari tahu kemana perginya mantan suaminya itu.


***


Damian menggeber mobilnya ke jalanan Dubai yang dikenal lebar dan lurus. Memang tidak sama dengan Autobahn Jerman tapi setidaknya mobil Lamborghini miliknya bisa ngebut.


"Tuanku Emir..."


"Ya Dahir?"


"Tuanku Emir Direndra mengirimkan saya untuk menemani anda selama di Glasgow."


Damian menoleh ke arah pria berdarah Arab dengan brewok di wajahnya. "Kenapa Daddy menyuruh kamu ikut saya ke Glasgow?"


"Saya kurang tahu, tuanku."


Damian mengangguk. "Tapi disana kita lebih banyak menikmati hari dan membantu orang-orang disana."


"Setidaknya, udaranya kan berbeda dengan Dubai, tuanku" kekeh Dahir. "Lagipula, kata nyonya Emir, tuanku memancing Trout. Apakah fun?"


Damian terbahak. "Astaghfirullah Dahir. Kamu mau ikut hanya karena ingin memancing?! Jangan-jangan sampai sana kamu juga memancing cewek!"


"Apakah ada?" tanya Dahir.


Entah kenapa nama Betty terlintas di pikiran Damian untuk dijodohkan ke pengawalnya yang berusia 30an itu.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️