The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Damian Manyun



Rumah Singgah Milik Duncan Blair Malam Harinya


Dahir membuat makan malam berupa grilled chicken dengan saus tartar khas timur tengah. Di istana Al Azzam, rata-rata semua orang baik pria maupun wanita di sana bisa memasak jadi Damian dan Dahir santai saja.


"Tuanku..."


"Yes Dahir."


"Apakah tuanku belum mengatakan status tuanku ke nona Izzy dan nona Betty?"


Damian menatap pengawalnya. "Memangnya Betty bicara apa?*


"Betty tidak tahu apa status anda, tapi nona Betty tidak mau terlalu kepo soalnya baginya, bersahabat dengan tuanku merupakan kesenangan tersendiri..."


"Memangnya Betty cerita apa lagi?"


"Nona Betty bilang, anda menyukai nona Izzy. Terlihat dari bahasa tubuh anda ke nona Izzy." Dahir menatap Damian serius. "Apakah anda suka dengan nona Izzy tuanku?"


Damian tidak menjawab dan melanjutkan acara makannya.


"Tuanku, saya senang jika tuanku sudah move on. Dan sejujurnya, saya salut dengan nona Izzy yang mampu membuat anda tertawa lagi. Tiga bulan anda menikah, anda tidak seperti diri anda sendiri..."


"Begitukah menurut mu?" Mata hijau Damian menatap mata coklat pengawalnya.


"Yes tuanku. Semuanya bilang anda tampak tertekan. Tapi tadi saya melihat anda bersama dengan nona Izzy dan nona Betty tampak santai. Apalagi dengan Jack... Anda kembali seperti dulu tuanku."


"Kalau kamu bertanya apakah aku menyukai Izzy, jawabannya mungkin. Tapi aku tidak mau gegabah, Dahir. Aku baru bercerai dan aku tidak mau terburu-buru menjalin hubungan serius. Aku ingin menikah lagi dengan pasangan yang sama-sama saling mencintai."


"Apakah nona Izzy memiliki perasaan lebih kepada anda tuan?"


"Aku belum tahu. Yang penting kami menikmati hubungan kami ini, hubungan yang nyaman..." Damian tersenyum.


"Tapi kaki nona Izzy..."


"Penting kah? Aku hanya melihat Izzy. Soal kaki, dia membutuhkan waktu untuk operasi besar, Dahir. Yang cacat kan kakinya, bukan hatinya."


Dahir tertawa kecil karena ucapan Damian seperti menyindir mantan istrinya, Reema.


"Maafkan saya tuanku... Anda benar, cacat fisik bisa ditutupi tapi cacat hati itu yang berat." Dahir tersenyum menyetujui pendapat emirnya.


"Kita jangan malam-malam tidurnya. Apa kamu tidak ingat kalau besok ada kiriman pupuk datang?" cengir Damian.


"Tolong ingatankan saya memakai baju biasa, bukan branded."


Damian terbahak.


***


Toko Bunga Milik Izzy


Izzy melongo melihat dua pria tampan yang menawarkan diri menjadi pegawai dadakan tanpa mau dibayar bahkan bersedia menjual jam Hublotnya demi gaji mereka, sudah datang pukul delapan pagi.


"Good morning Izzy" sapa Damian ramah.


"Pagi Dam. Bawa apa itu?" tanya Izzy sambil melihat Damian membawa tas makan.


"Makanan enak buat sarapan. Aku yakin kamu dan Betty pasti tidak menolak."


Izzy tertawa kecil. "Kamu menawarkan kepada orang yang salah Dami. Betty kamu tawarkan makanan, pasti majunya lah."


"Good morning" sapa Betty yang baru datang. "Bawa apa itu Mr Azzam ? Makanan ya?"


"See? Belum selesai aku bicara kan Dam..." kerling Izzy membuat Damian dan Dahir tertawa.


"Yuk kita sarapan dulu baru buka toko." Damian mengajak semuanya masuk.


"Kamu bikin kacau jam buka toko aku Dam..." omel Izzy.


"Kan kamu baru buka jam 8.30, sedangkan sekarang baru pukul delapan. Masih ada waktu lah" senyum Damian membuat Izzy menghela nafas panjang.


"Dasar! Pegawa baru minta dimarahi !" gerutu Izzy membuat Damian terbahak.


Pagi itu keempat orang disana menikmati sarapan nasi goreng ala Damian yang membuat Izzy dan Betty ketagihan karena berbeda dengan nasi goreng di restauran China di depan toko mereka.


Dahir melihat bagaimana tuannya tampak sabar dengan kehebohan dua gadis di hadapannya, tersenyum tipis.


Jika bertemu dengan orang yang tepat, maka orang itu pun akan berbeda.


***


Seharian Damian dan Dahir membantu kedatangan stok pupuk dan media tanah. Mereka berdua tidak habis pikir jika tidak ada kaum pria, siapa yang akan membantu dua gadis itu.


Izzy pun mengijinkan dengan syarat dia ingin tahu apa yang dimasak pria itu. Keduanya pun naik ke lantai dua dimana dapur milik Izzy berada meninggalkan Betty dan Dahir di bawah.


"Mr Azzam, masak yang enak yaaa!" teriak Betty tanpa sungkan.


"Absolutely!" balas Damian.


Dahir menatap Betty dengan tatapan 'Seriously'?


"What? Mr Azzam sendiri yang menawarkan, Dahir. Jadi salahku dimana coba?" Betty menatap Dahir dengan wajah cuek.


"Benarkah?" tanya Dahir.


"Yup. Dan kamu tahu sendiri kan, masakan Mr Azzam sangat lezat." Betty tersenyum manis membuat Dahir menggelengkan kepalanya.


"Kamu tahu, Betty. Baru kali ini aku menemukan wanita yang sangat antusias makan enak tanpa memikirkan timbangan." Dahir melirik ke arah gadis bermata biru itu.


"Aku pernah bilang ke Mr Azzam, aku lebih memilih kecanduan makanan enak daripada minuman beralkohol. Aku sudah tidak mau menyentuh alkohol sama sekali karena efeknya sangat kacau di aku. Dan asal kamu tahu, aku masih suka datang ke pertemuan para pecandu hanya untuk mengingatkan diriku sendiri." Betty menatap serius ke Dahir.


Pria berdarah Arab itu memegang tangan Betty. "Aku sangat suka dengan pemikiran mu Betty. Damian benar, kalian berdua adalah wanita-wanita kuat."


Betty melirik ke arah tangannya yang digenggam Dahir.


Pria itu lalu menarik tangannya. "Sorry."


Betty menggelengkan kepalanya. "It's okay. Aku senang jika mendapatkan support jadi aku lebih semangat untuk menjadi lebih yakin lagi untuk tidak menyentuh alkohol sama sekali."


Dahir mengangguk.


***


Lantai Dua


"Kamu, duduk manis Damian !" perintah Izzy galak.


"Tapi Izzy..."


"Damian, aku sudah merepotkan kamu, Betty apalagi ! Sudah, sekarang giliran aku yang memasak !" Izzy dengan cekatan membuka kulkasnya dan mulai mengeluarkan bahan makanannya.


Damian tidak tahan untuk tidak kepo. "Kamu mau buat apa Izzy? Aku bantu ya?"


"No Damian! Duduk !" hardik Izzy.


"Oh come on Izzy. Aku kan tidak bisa duduk manis. Macam kena setrap di sekolah..." keluh Damian sambil memajukan bibirnya.


"Duduk Dam!" Mata coklat Izzy menatap galak.


Damian pun menurut dan duduk di sofa Izzy sambil tetap memajukan bibirnya.



Yang manyun


"Izzzyyyy..." rengek Damian.


Izzy yang sedang memotong wortel, menoleh dan tawanya pecah melihat wajah Damian yang tampak menggemaskan macam anak kecil yang merajuk.


"Astagaaaa Damian ! Kamu kok lucu sekali ..." gelak Izzy.



Sabar ya neng Izzy


"Aku bantu ya? Aku tidak bisa kamu ginikan seperti ini... Bukankah aku sudah berjanji akan memasakkan untukmu dan Betty. Please ya Izzy..." Rayu Damian membuat Izzy menggelengkan kepalanya gemas.


"Ya sudah sini. Bantu aku memanggang steak yang sudah aku marinasi semalam." Izzy memberikan empat daging steak dan menyiapkan peralatannya.


Damian pun tersenyum lebar karena bisa memasak bersama dengan Izzy. kayaknya seru kalau sudah serumah seperti ini ...


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️