The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Menunggui Izzy



Kamar tempat Izzy rawat inap


Damian tampak serius di depan MacBooknya untuk bekerja. Gara-gara dia tadi menunggui jalannnya operasi Izzy, dia meninggalkan pekerjaan yang sudah dikirimkan oleh asistennya di Dubai.


Suara getar ponselnya membuat Damian menoleh. Pria dengan tinggi 187 itu mengangkat panggilan dari pengawalnya, Dahir.


"Assalamualaikum" sapa Damian.


"Wa'alaikum salam tuanku Emir. Bagaimana operasinya Miss Izzy?" tanya Dahir yang tetap bersikap formal dengan Damian meskipun mereka sudah mirip saudara.


"Alhamdulillah berjalan lancar, Dahir. Bagaimana toko bunganya? Betty bisa menghandle nya kan?"


"Saya yang membantu Betty, tuanku. Saya sampai hapal beberapa nama bunga beserta nama latinnya" kekeh Dahir. "Oh Joseph McIntyre dan Jack mengirimkan salam untuk Miss Izzy agar segera pulih. Begitu juga para pemilik toko sekitar sini yang kenal baik dengan Miss Izzy."


"Nanti aku sampaikan pada Izzy."


"Apa Miss Izzy masih tidur, tuanku Emir?"


"Pengaruh obat biusnya masih terasa, Dahir. Tadi kata Hunter sempat sadar dan makan malam tapi setelahnya tidur lagi .."


"Bagaimana prediksi dokter, tuanku?"


"Insyaallah, Izzy akan berjalan normal seperti sedia kala dan tidak sakit lagi" jawab Damian sambil menatap lembut ke arah Izzy yang masih terlelap.


"Alhamdulillah Sir. Itu kabar yang sangat melegakan..." ucap Dahir tulus. "Rumah Mr Blair aman, tuanku."


"Berhati-hatilah Dahir, jangan lupa memasang semua alarm."


"Tuanku, anda tinggal sendirian disini beberapa bulan dan aman-aman saja kok" kekeh Dahir.


"Bagaimana pun, waspada itu penting, Dahir.'


"Baik Sir."


Damian masih mengobrol tentang pekerjaan hingga setengah jam ke depan lalu mematikan ponselnya dan kembali fokus bekerja.



Damian Blair


"Da...mi?" panggil Izzy yang terbangun melihat Damian duduk sambil membaca berkas dengan kacamata nya.


"Heeeeiiiii, rabbit teeth. Sudah bangun? Masih mabuk?" kekeh Damian sambil menghampiri brankar Izzy dan mengusap kepalanya.


"Ya ampun... Obat biusnya benar-benar deh..." senyum Izzy. "Kak Hunter kemana?"


"Hunter pulang dulu, sayang. Biar dia tidur di kamarmu."


"Kak Hunter ... Di apartemen?" bisik Izzy dengan keadaan masih pusing dan mengantuk.


"Apa Mr O'Grady tidak marah kalau kak Hunter berada disini lama?" tanya Izzy bingung.


"Mas Bayu sudah mengijinkan Hunter berada di Skotlandia lama, sampai kamu bisa berjalan lagi."


"Tapi Dami, aku masih harus sekitar enam bulan melakukan fisioterapi, belajar berjalan dan banyak hal lainnya..." Izzy tampak panik mengingat lamanya Hunter meninggalkan pekerjaan utamanya di New York.


"Izzy sayang, kamu itu mirip mbak Ajeng, istrinya mas Bayu yang terlalu over thinking. Mas Bayu dan Hunter itu bukan baru setahun dua tahu kenal, Izzy. Mereka sudah seperti saudara dan mas Bayu bukan pria yang kaku sekali kalau sudah berurusan dengan keluarga. Izzy, mas Bayu juga menganggap kamu seperti adiknya dan wajar jika Hunter diberikan ijin. Tenang saja, mas Bayu tidak akan memecat Hunter" senyum Damian menenangkan.


Mata coklat Izzy menatap Damian dengan wajah masih ada keraguan. "Benarkah ?"


"Percaya padaku, Izzy. Aku sangat mengenal kakakku. Dan mas Bayu bukan orang yang plin plan jika sudah memutuskan sesuatu. Sudah kamu tenang saja. Oke?" Damian menggenggam tangan Izzy yang tidak terkena jarum infus.


"Oke Dami..." Izzy menguap. "Aku kok mengantuk terus ya Dam?"


"Tidurlah. Aku rasa pengaruh obat biusnya masih bekerja di dalam tubuh mu. Besok pasti sudah berkurang efeknya apalagi kan kamu tadi menjalani operasi besar, complicated dan sangat delicate." Damian mencium punggung tangan Izzy. "Aku juga hendak tidur. Mataku pedas melihat pekerjaan."


Izzy tertawa kecil. "Tidurlah... Oh Dami, bagaimana dengan toko bungaku?"


"Kamu tenang saja. Betty dan Dahir sudah bisa menghandle nya apalagi tadi kata Dahir, dia mulai hapal nama-nama tanaman yang ada disana beserta nama latinnya."


Izzy menatap Damian tidak percaya. "Dahir bisa menghapal nya?"


"Katanya belum semua tapi sih sudah mulai hapal satu persatu..." jawab Damian.


"Syukurlah kalau mereka berdua bisa saling bekerjasama dengan baik" senyum Izzy.


"Tidurlah Izzy, aku akan menjagamu..." Damian mengelus kepala Izzy dan tak lama gadis itu pun terlelap. Damian mencium kening Izzy lalu kembali ke MacBooknya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Setelah dirasa selesai, Damian membereskan semua barang-barang nya dan menyimpannya dalam tas ransel Supreme nya lalu meletakkan di atas sofa dekat bantalnya.


Damian lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ibadah malam dan bersiap untuk tidur. Pria itu mengatur suhu ruang kamar itu agar Izzy dan dirinya tidak kedinginan lalu mengambil selimut yang dibawanya dari dalam duffle bag Louis Vuitton miliknya.


Tak lama, Damian merebahkan tubuhnya diatas sofa yang memang berbentuk seperti tempat tidur, menarik selimutnya dan menoleh ke arah Izzy yang sudah terlelap.


"Good night Rabbit Teeth. Cepat sembuh dan sehat ya..." senyum Damian.


Tak lama, putra Direndra Blair dan Raana pun menuju alam mimpi.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️