The Emir and The Ordinary Girl

The Emir and The Ordinary Girl
Kebahagiaan Masing-masing



Ruang Rawat Inap Izzy di Western General Hospital Edinburgh Skotlandia


Pagi ini Izzy kembali diperiksa oleh para dokter termasuk kondisi kakinya pasca operasi. Damian sambil menggenggam tangan Izzy, ikut mendengarkan dengan serius bagaimana kondisi gadis itu.


"Kita tunggu Minggu depan, Miss McDouglas... Akan kita lakukan pelatihan pergerakan dulu dan anda akan seperti dulu. Belajar berjalan lagi" ucap Dokter Kingston.


"Jangan lupa minum susu tinggi kalsiumnya ya nona" ucap salah satu suster.


"Sus, bisa minta susu nya yang rasa coklat? Aku merasa mual kalau yang plain ..." pinta Izzy.


"Baik nona. Nanti saya sampaikan ke bagian dapur ..."


"Jadi kesimpulannya kita menunggu Minggu depan setelah semua jahitan kering?" tanya Damian.


"Yes Mr Blair. Harus menunggu dulu..." jawab Dokter Kingston.


Damian mengangguk dan menatap Izzy yang juga memandang balik. "Kamu nggak papa, harus menunggu lama?"


"Aku sudah biasa Dami. Jangan khawatir" senyum Izzy.


Damian mengeratkan genggaman tangannya dengan wajah kagum dengan ketegaran Izzy menghadapi semua proses untuk bisa berjalan seperti sebelumnya dan tidak dengklang lagi.


"Semangat Izzy."


"Always Dami. Always" jawab Izzy sambil tersenyum.


***


Muscat Oman


Tanpa terasa kehamilan Reema sudah berjalan lima bulan dan jenis kelamin bayi mereka adalah laki-laki. Kamal adalah pria yang paling berbahagia selain kedua orangtuanya karena mendapat penerus garis keturunannya.


Saat Reema mengetahui bayinya dalam kondisi sehat dan berjenis kelamin laki-laki serta melihat wajah bahagia Kamal serta kedua mertuanya, ada sesuatu yang hangat yang menyelimuti hatinya. Reema merasa dirinya sangat keras hati padahal orang-orang di sekeliling dirinya, tampak tulus menyayangi dirinya apalagi semenjak dia hamil.


Wanita cantik itu pun semakin khusyuk dalam beribadah apalagi dia dalam fase tri semester awal yang morning sick berat dan Kamal sangat telaten mendampinginya, membuat hati Reema semakin menghangat. Dia bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reema menangis sejadi-jadinya diatas sajadah dan memohon ampun kepada sang pencipta.


Reema merasa dirinya sangatlah egois saat memaksakan kehendak agar Damian menikahinya dan betapa dia sangat kurang ajar dengan Kamal yang sudah resmi menjadi suaminya. Reema merasa bukan faktor hormon kehamilan membuatnya melow tapi dia sekarang bisa melihat bagaimana sangat nyamannya dicintai oleh seseorang yang sangat mencintainya dimana saat dia mencintai Damian, pria itu sama sekali tidak ada rasa padanya.


Reema sudah merasakan bagaimana sakitnya mencintai satu pihak saja dan saat tidur dia selalu mendengar kata-kata penuh cinta dari Kamal yang tidak pernah dia dapatkan dari Damian.


"Apakah jodohku yang sebenarnya adalah Kamal?" isak Reema usai berdoa. "Jika Kamal adalah jodoh ku Ya Allah, langgengkan pernikahan kami. Ajarkan, buatlah aku mampu mencintai Kamal ... Aamiin."


Sepasang tangan kekar memeluk Reema dari belakang dan sebuah ciuman mendarat diatas kepala wanita itu. "Akulah jodohmu, Reema. Maafkan aku jika selama ini berbuat kasar padamu tapi aku ingin kamu tahu, aku sangat mencintaimu..." bisik Kamal dengan nada bergetar.


Reema menyandarkan kepalanya di dada Kamal. "Aku yang seharusnya minta maaf, minta ampun padamu Kamal. Aku istri yang sudah berdosa pada suami..." isak Reema.


Kamal melepaskan pelukannya dan duduk di depan Reema yang masih menangis. "Sayang, kamu sudah aku maafkan karena yang namanya menikah mendadak seperti kita itu memang butuh proses bagaimana mencintai satu sama lain..."


Bumil itu masih menangis saat kedua tangan Kamal memegang wajahnya. "Reema, maukah kamu menghabiskan hidupmu bersamaku dan anak-anak kita nanti?"


"Kamal... Ini satu saja belum lahir kok kamu sudah berpikir banyak anak" gerutu Reema sedikit terisak.


Kamal tertawa lalu memeluk Reema. "Aku kan tidak mau punya anak satu saja, sayang..." Suara Kamal terhenti ketika merasakan gerakan di perut Reema yang terasa di perutnya. "Reem, dia menendang?"


Reema mengangguk. "Dia sangat aktif..." senyum wanita cantik itu.


Kamal lalu meletakkan wajahnya di perut buncit istrinya. "Boy, tampaknya kamu akan menjadi atlet polo kalau cara menendang mu seperti ini..."


"Dari sisi mana Polo menendang, Kamal?" kekeh Reema. "Yang ada bermain sepak bola."


"Hei, siapa nanti yang akan meneruskan aku menjadi atlet Polo ?" protes Kamal membuat Reema tertawa kecil.


Kamal terpesona melihat tawa Reema yang nyaris tidak pernah dia lihat selama hampir tujuh bulan pernikahan mereka. "Kamu cantik kalau tertawa Reema. Mulai sekarang, jangan berwajah judes lagi ya.. "


"Terimakasih Kamal..."


"Buat apa?"


"Jika sabarku membuahkan hasil yang baik seperti ini, aku akan menjadi pria yang paling berbahagia. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu Reema, seumur hidupku. Kamu bisa memegang janjiku padamu..."


"Aku... Masih dalam tahapan belajar mencintaimu, Kamal... Bersabarlah denganku." Reema mengalungkan tangannya di leher Kamal. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu..."


"Meskipun kita pada akhirnya akan bertemu dengan mantanmu?"


"Damian? Aku sudah jarang memikirkannya akhir-akhir ini... Aku semakin merasa kami memang tidak berjodoh..." jawab Reema apa adanya dan Kamal bisa melihat kejujuran di mata coklat istrinya.


"Alhamdulillah... " Kamal mencium bibir Reema lembut. "Tapi kenapa Reem?"


"Mungkin karena aku sudah mulai ada rasa padamu?" Reema menatap Kamal dengan wajah bingung.


"Jika memang begitu, buang pemikiran kamu soal Damian!"


"Cemburu Papa?"


"Sangat mama..." jawab Kamal tegas.


Reema mencium bibir Kamal. "I'm sorry membuat kamu cemburu."


"Aku cemburu karena aku sangat mencintaimu."


"Terimakasih sudah mencintaiku, Kamal."


"Always, Reema. Always..."


***


Edinburgh Skotlandia, ruang fisioterapi


Damian tampak kagum dengan kemajuan yang dialami Izzy pasca operasi beberapa bulan lalu. Sebulan sebelumnya Damian terpaksa harus pulang ke Dubai untuk rapat tahunan dan rapat pemegang saham. Pria itu harus tinggal di Dubai selama sebulan dan selama itu Izzy ditemani oleh Betty.


Dan seperti biasa Izzy manyun karena toko bunganya harus tutup sebulan karena Betty berada di Edinburgh. Lagi-lagi Damian mengatakan akan menjual Patek Philippe nya untuk membayar kehilangan pendapatan sebulan membuat Izzy kesal dan melemparkan bantal ke arah pria tampan itu. Izzy memang sudah boleh pulang dari rumah sakit sebulan pasca operasi dan tinggal di apartemen bersama Damian dan Hunter.


Disaat Damian harus kembali ke Dubai, Hunter pun harus kembali ke New York karena Doogie terserang flu berat dan Bayu kelimpungan tidak ada sekretaris sedangkan istrinya, Ajeng, dilarang menjadi sekretaris sementara. Jadilah Betty yang menjaga Izzy.


Sekarang Damian sudah menyelesaikan semua urusannya di Dubai bersama ayah dan keluarganya, lalu kembali bersama Dahir ke Edinburgh. Dan Dahir sudah kembali ke Knightswood bersama Betty apalagi Jack sudah heboh karena tanaman mereka ada yang mati karena adik Betty itu lupa menyiram nya.


"Damii !" seru Izzy yang sudah bisa berjalan pelan-pelan.


"Halo sayang" sapa Damian lembut. "Sudah tidak timpang lagi ya Izzy?"


"Alhamdulillah... Kata dokter Kingston, sebulan lagi aku sudah bisa berlari..." ucap Izzy bahagia.


"Alhamdulillah... Eh? Kamu bilang Alhamdulillah?" Damian melongo. "Izzzyyyy..."


"Aku sudah mualaf Dami. Aku dan Betty... Saksinya kak Hunter..." jawab Izzy.


"Kapan?"


"Seminggu setelah kamu kembali ke Dubai..."


Damian langsung memeluk Izzy erat. "Aku senang sekali..."


"Me too..." balas Izzy sambil membalas pelukan Damian.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️