Story Under The Rain

Story Under The Rain
Dibawah hujan (part 1)



“baiklah. Aku menerima pekerjaan itu.” ucap Naina.


“kalau begitu, besok kau bisa datang ke kantor dan akan kutunjukkan tugasmu.” Ujar Danis sambil menyerahkan selembar berkas dan bulpen.


Naina tak punya cara lain dan sedikit muak dengan sikap pria yang ada dihadapannya itu. setelah menandatangani berkasnya, ia lalu bergegas keluar dan berjalan menuju sebuah danau.


disana, ia masih terus memikirkan banyak hal, diantaranya masalahnya yang rumit dengan bos ceo itu. sambil memandangi layar ponselnya, tiba-tiba saja ada sebuah pesan masuk.


*Naina, beberapa hari ini aku akan pulang ke desa. Jaga dirimu ya..!*


“hah..?! kenapa Navya tak berpamitan padaku sebelumnya..? apa dia baik-baik saja ya..? ahh..!! coba aku hubungi..” ucapnya sambil memandani layar ponselnya.


Berulang-ulang kali ia menelponnya tetapi selalu tak diangkat. Naina khawatir akan keadaan Navya yang belakangan ini jarang dirumah.


Sambil menikmati hembusan angin di tepi danau, sejenak ia memejamkan matanya dan duduk bersantai dan berharap stresnya hilang. Ditengah waktu santainya, ia didatangi seseorang.


“oh..hai Nai..! kita bertemu lagi.”


“kak rayn..? sedang apa disini..?”


“aku kesini, sedang mencari-cari inspirasi. Siapa tau ada ide bagus saat jalan-jalan disini.” Ucap Rayn sambil duduk disebelah Naina.


“oh..” jawab Naina sambil menganggukan kepalanya.


“kau sendiri, sedang apa..?” tanya Rayn.


“tidak. Tidak ada.” Jawab Naina sambil menyisir rambut hitamnya kebelakang telinganya.


Rayn hanya terdiam melihat raut wajah Naina yang terlihat begitu banyak masalah.


Sedikit demi sedikit ia lebih mendekat lagi pada Naina. ada rasa yang mana sebelumnya telah mati untuk Naina. namun, perasaan itu sepertinya muncul lagi. Dan ia mulai bertanya padanya.


“bagaimana kabar Navya..? apa kalian masih berhubungan dengan baik..?”


“oh, iya tentu.” Ucap Naina sambil menundukan pandangannya.


“Naina, apa kau ingat. Kau sangat menyukai namaku karena mirip dengan hujan..? dan… kau selalu mengajakku untuk hujan-hujanan sambil menari tak peduli di jalanan sekalipun” ungkap Rayn dengan mata berkaca-kaca.


Naina hanya terdiam sembari menatap wajah Rayn. Ia takkan lupa bagaimana mereka mengahabiskan waktu bersama.


Bahkan dari pertama kenal sampai bagaimana mereka bisa putus. Dengan perasaan campur aduk, Naina berusaha untuk keluar dari percakapan mereka.


“kak Rayn, aku..”


“maaf Naina. aku merasa sangat menyesal dulu telah menyakitimu. Aku telah membuatmu terluka saat itu. gara-garaku kau..”


“kak Rayn, itu semua bukan salahmu ! dan juga..sebaiknya kita tak membicarakan hal ini saat bertemu lagi.” Ujar Nina dengan melangkah pergi dari duduknya.


Naina pergi dan meninggalkan Rayn yang tengah duduk disana sendirian. Angin yang sangat kuat itu, membuat air matanya menjadi lebih deras lagi diatas pipinya.


Ia tahu, seharusnya ia tak datang ketempat itu lagi. Tempat yang selalu mereka kunjungi berdua juga tempat bagi Naina belajar melukis bersama Rayn. entah itu disengaja atau tidak, tepian danau itu seolah magnet bagi Naina untuk kembali lagi kesana.


Selalu saja ada hujan disetiap air mata yang Naina keluarkan.


Akhirnya sampailah dia di sebuah halte dan nampaknya, hujan mengharuskannya duduk dan berteduh disana. Sambil menangis dan menumpahkan semua kesedihan ia tak ingin melakukan apapun lagi.


------------


Pagi hari menyambutnya dengan kicauan burung dan sinar yang menghangatkan. Jam tangannya menunjukkan pukul 7 pagi.


Dengan cepat Naina bergegas pergi ke kantor dan juga agar ia tak ketinggalan dengan bis pagi ini. sampainya di dalam gedung perkantoran, ia langsung didatang si asisten pribadi ceo.


“nona, silahkan ikuti aku. Tuan muda memberimu ruangan baru khusus untukmu.”ucap asisten itu sambil menunjukkan arahnya.


“oh. Ba..baiklah.” ucap Naina dengan gugup.


“disini. Sejam lagi, direktur akan memanggilmu untuk tugasmu. Sebaiknya anda persiapkan semuanya.” Ucap asisten itu sambil melangkah pergi.


“tu..tunggu.! ehm.. tuan, apa aku boleh tahu mengenai pekerjaanku secara rinci..? karena aku tak tahu apa yang harus ku persiapkan.”


“nona, jangan panggil aku tuan. Namaku Henry asisten pribadi tuan Danis. Dan mengenai rinciannya, ada di komputer mejamu. Aku permisi dulu.”


Setelah asisten itu pergi, Naina langung duduk di mejanya dan melihat-lihat isi kantornya.


“ini, benar-benar kantor yang besar bahkan untuk seorang amatiran seperti ku.” Gumam Naina sembari takjub dengan interior kantornya.


Dia berfikir, Danis adalah orang yang sangat perfeksionist dalam segala hal melihat setiap struktur bangunan maupun ruangan yang ada di perusahaan in sangatlah mewah dan detail.


Hampir tak ada suatu kekurangan sedikit pun.


.


.


Akhirnya, ia membaca-baca beberapa bagian tugas yang akan ia kerjakan. Hampir sebagiannya, ia tak mengerti. Dan mulai mempelajarinya dari internet sampai ia sendiri lupa waktu.


**ckklek**


“apa kau suka disini..? aku sengaja memilih kantormu disini, agar dekat dengan ruanganku. Katakan, apa kau suka..?”


“apa..? jadi, dia mencoba untuk mengawasiku dengan letak kantor ini..? benar-benar psikopat !” gumam Naina.


“aku rasa, aku dengar sesuatu dari mulut kecilmu ini..?” ujar Danis yang mendekati Naina sembari memegang dagu mungilnya.


“ti..tidak. tidak ada.” Jawab Naina sembari menjauh.


“kalau begitu, aku akan memberitahu tugasmu yang sebenarnya..” ujar Danis yang duduk di kursi tamu sebelah meja Naina.


Bersambung…