
“eh..?? ternyata benar dugaanku. Naina ngapain kamu disini..? wahh.. sudah lama kita tak bertemu ya..?”
“kak Rayn..? kamu sendiri ngapain disini..? tanya Naina dengan sedikit bingung.
“aku kesini sekedar jalan-jalan. Karena kemarin aku habis dari luar negeri jadi sedikit kangen mau liat-liat suasana kota ini. ehm.. kau mau duduk sambil ngobrol..?” tanya Rayn.
“boleh.” ucap Naina sambil mengangguk.
Tak disangka ia bertemu dengan seniornya secara tak sengaja saat berada ditaman. Rayn adalah seniornya sejak ia masih duduk di bangku SMA.
Dulu ia sempat mengaguminya. Tetapi karena melihat dirinya sendiri sebagai gadis biasa dan Rayn adalah lelaki idaman disekolah, Naina jarang sekali mengobrol dengan Rayn. Dan tak disangka kali ini mereka bertemu lagi dan duduk berdua bersama.
“kak Rayn bagaimana kabarmu saat ini..?” tanya Naina.
“kabarku baik. Setelah dari luar negeri kemarin, aku mendapat pekerjaan disebuah perusahaan.”
“apa itu proyek tentang bangunan..?”
“iya. Karena ayahku menyuruhku untuk meneruskan bakatku dan kuliah arsitek di luar negeri. Bagaimana denganmu..? apa pekerjaanmu sekarang..? apa kau masih melukis..?”
“ehm..itu, ya.. aku masih melukis.” Jawab Naina dengan gugup.
“baguslah. Kalau kau punya masalah tentang pekerjaan, kau hubungi saja aku. Karena aku masih membutuhkan rekan yang berbakat sepertimu.” Ucap Rayn sambil memandang ke arah Naina.
Naina memalingkan wajahnya dan tak berani melihat Rayn karena ia telah berbohong dengan semua perkataannya. Melihat ekpresi Naina, Rayn tersenyum kecil dan kemudian mengeluarkan ponselnya untuk meminta nomer Naina.
“untuk apa kak..?” tanya Naina dengan terheran.
“ya.. tak apa. hanya agar, kita tetap bisa berkomunikasi saja.” Ucapnya sambil menyodorkan ponselnya.
Dengan sedikit heran, Naina pun menerima ponsel Rayn dan segera menuliskan nomernya. Ia mulai bertanya-tanya, kenapa baru sekarang mereka berdua dekat.
“makasih ya Nai. hahhh.. disini suasananya sejuk ya..? masih sama seperti dulu.” Ucap Rayn sambil sedikit meregangkan tangannya.
“Nai, kau sudah punya pacar..?” kalimat itu terucap begitu saja dari mulut Rayn dan membuat Naina terkejut.
“eh..? apa maksud kak Rayn bicara begitu..?” batin Naina.
“Naina. dari dulu kau tak pernah berubah ya..!” Ucap Rayn sambil tersenyum memandang wajah Naina.
“ap..apa..?” tanya Naina dengan heran.
“hufft.. sudahlah lupakan soal omongan ku yang ngak jelas. Tapi yang pasti, aku senang bertemu lagi denganmu Nai.” Ucap Rayn sambil berdiri mengulurkan tangannya.
Naina dibuat tertegun dan heran dengan tingkah Rayn, ia hanya bisa bengong sambil membalas jabatan tangannya itu. tak lama Rayn pun pergi meninggalkannya duduk sendiri sambil memandang punggung Rayn yang lama-lama menghilang dari pandangannya.
Akhirnya Naina beranjak dari tempat duduk tersebut dan pergi dari taman. sambil terus memandang telapak tangannya sehabis berjabat tangan, Naina tersenyum-senyum sendiri mengingat beberapa kenangan lama semasa SMA yang penuh kekonyolan dan kenakalan para remaja. Ia sama sekali tak ingat jika ia mampir ke taman ini adalah mengingat kenangan buruk masa kecilnya. Tetapi itu seakan kalah dengan beberapa kenangan manis semasa remajanya.
“huh…aku kok jadi senyum-senyum sendiri ya..? tapi pertanyaan aneh dari kak Rayn membuatku sadar kalau diusia ini, aku harus cepat-cepat mencari pasangan. Dan harus bisa secepatnya melupakan kak Rayn.” Batin Naina.
Rupanya Rayn adalah masa lalu yang indah baginya semasa SMA. Karena mereka berdua sempat berpacaran. namun, hubungan mereka tak bertahan lama karena tak ada kecocokan dari masing-masing. Namun, kini mereka berdua dipertemukan kembali saat sudah dewasa.
Lantas, apakah hati Naina akan tergerak kembali..?
.
.
.
Hari semakin sore dan Naina masih ada janji dengan sahabat baiknya Navya. Ia pun dengan santai berjalan menuju kedai dengan iringan cahaya senja yang kemerah-merahan.
Bersambung..